Banyuwangi (Kabarpas.com) – Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Banyuwangi menggelar Kemah Persaudaraan Forum Pemuda Lintas Agama Bersatu (Formula Satu) di Sendang Seruni, Kecamatan Licin, Banyuwangi.
Acara yang digelar selama dua hari sejak Sabtu hingga Minggu tersebut, diikuti oleh sebanyak 50 pemuda. Mereka melakukan interaksi untuk membangun semangat kebangsaan dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika.
“Saya berharap teman-teman bisa ikut menebar kesejukan. Akhir-akhir ini marak berita hoax dan provokatif yang mengarah pada isu SARA yang tersebar di media sosial. Tentu perlu kecermatan dan ketelitian untuk menelaahnya sehingga tidak mudah terseret pada konflik horisontal,” kata Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas.
Anas berharap kaum muda lintas agama ini, bisa menjadi momentum untuk menumbuhkan spirit kebangsaan. Kaum muda harus jadi perekat agar ke depan masyarakat semakin kompak membangun daerah.
“Perkemahan lintas agama ini sesuatu yang relevan dalam rangka menjaga kerukunan umat beragama. Namun, yang juga sangat penting adalah bagaimana kaum muda bisa ikut berkontribusi dalam permasalahan-permasalahan kemasyarakatan,” pinta Anas.
Tantangan pemuda saat ini, seperti halnya narkoba, HIV/AIDS, dan pengangguran, harus juga menjadi perhatian semua elemen. “Pemuda harus bisa memunculkan motivasi untuk menjawab permasalahan itu,” lanjutnya.
Sementara itu, Ketua Umum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Banyuwangi, Muhammad Yamin mengatakan, selama dua hari berkemah, anak muda lintas agama itu tidur, makan, dan bersosialisasi bersama. “Dalam satu tenda diisi sekitar 10-12 orang yang memiliki agama berbeda-beda,” kata Yamin kepada Kabarpas.com.
Ia juga menambahkan, ada empat tenda besar yang disediakan di acara ini. Setiap tenda diisi oleh perwakilan dari enam agama, Islam, Katolik, Kristen, Hindu, Budha, dan Konghucu. Yamin mengatakan, peserta berasal dari pemuda perwakilan setiap agama. Masing-masing perwakilan mengirim enam hingga delapan orang.
Bukan hanya aktivitas berkemah yang akan dilakukan, selama dua hari mereka berdiskusi tentang kebangsaan, keagamaan, dan kerukunan umat beragama. Aktivitas yang dijalankan ini selama kemah ini dikonsep menyesuaikan aktivitas enam agama itu. Ketika memasuki waktu beribadah, acara dihentikan. Harapannya, seluruh peserta mengetahui aktivitas rutin keagamaan masing-masing agama.
“Sehingga ada saling menghargai dan menghormati antara satu dengan yang lainnya. Diharapkan mereka bisa melestarikan kerukunan umat beragama,” terang Yamin kepada Kabarpas.com.
Beberapa peserta antusias mengikuti acara ini. Salah satunya seperti yang disampaikan oleh Rada Putri Utami, perwakilan dari Gereja Kristen Sahabat Indonesia.
“Saya diutus gereja untuk ikut acara ini. Ini bisa menambah pengalaman dan pengetahuan. Yang terpenting lagi, bisa nambah banyak teman. Semua rukun, dan ke depan bisa menularkan semangat persaudaraan di masing-masing komunitas kita,” ucap Rada.
Demikian juga dengan Agus Fasih. “Senang bisa tahu bagaimana agama lainnya. Berdiskusi, cerita-cerita, saling mengisi,” kata perwakilan Konghucu tersebut. (dik/gus).













