Banyuwangi (Kabarpas.com) – Aksi ratusan warga menolak tambang tumpang pitu di Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi, berujung dengan aksi dorong antara pendemo dengan petugas kepolisian. Rabu, (18/11/2015).
Ratusan masa yang mengatas namakan warga tolak tambang emas “Tumpang Pitu” tersebut berkonvoi menggunakan roda dua, dari kantor balai desa setempat, menuju proyek pengerjaan tambang emas tumpang pitu.
Sesampainya di salah satu pintu masuk proyek pertambangan, puluhan petugas kepolisian pun sudah mengahadang para pendemo untuk tidak masuk ke dalam proyek. Sehingga para pendemo akhirnya malakukan aksinya di tengah jalan menuju kantor PT. BSI tersebut.
Sejumlah pendemo pun secara bergantian melakukan orasi di tengah jalan itu. Dalam orasinya mereka menuntut agar proyek tambang tersebut segera di tutup,
“Sebelum negosiasi ini selesai kami meminta BSI angkat kaki dari sini,” ucap Edi Laksono salah satu orator dengan nada tegas.
Setelah lama berorasi, PT. BSI pun tak kunjung menemui masa, hal tersebut membuat suasana tambah memanas. Masa pun semakin tak terkontrol, sehingga dengan spontan mendesak masuk, dan tak pelak aksi saling dorong antara polisi dan pendemo pun tak terhindarkan.
Salah satu orator lain Suko menambahkan, masyarakat sekitar tumpang pitu yang mayorita petani sudah merasakan dampak dari proyek pertambangan tersebut. “Yang jelas kami meminta tambang ini di tutup,” tandasnya saat ditemui Kabarpas.com di lokasi.
Setelah dibujuk oleh petugas kepolisian akhirnya suasana kembali mereda, dan pewakilan PT. BSI menemui para pendemo. Mereka berjanji akan menyampaikan aspirasi pendemo ke kantor pusat di Jakarta. Namun, pendemo tidak puas dengan tanggapan PT. BSI jika tuntutannya tidak di penuhi pendemo mengancam akan membawa masa yang lebih banyak lagi. (dik/abu).



















