Jember, Kabarpas.com – Langkahnya pelan. Dengan tongkat di tangan, Wiji pria berusia 72 tahun asal Kelurahan Gebang, Jember berjalan tertatih di tengah antrean warga yang datang sejak pagi. Meski usianya tak lagi muda, ia tetap menyempatkan diri hadir dalam pembagian zakat yang digelar menjelang Hari Raya Idul Fitri.
Hari itu, Wiji termasuk di antara ribuan warga yang menerima bantuan dari kegiatan berbagi zakat yang diselenggarakan Abdussalam Alamsyah, pemilik PT Kinansyah Adijaya Land. Program sosial tersebut rutin digelar setiap Ramadan, khususnya bagi warga sekitar Gebang.
Melihat kondisi Wiji yang sudah lanjut usia, panitia mempersilakannya lebih dulu mengambil bantuan. Ia pun membawa pulang satu karung beras seberat 5 kilogram dan sehelai sarung.
Namun perhatian yang diterimanya tidak berhenti di situ.
Saat mengantar Wiji berjalan perlahan menuju pintu gerbang, Abdussalam Alamsyah yang akrab disapa Cak Salam menyelipkan uang ke saku lelaki sepuh itu. Gestur sederhana tersebut dilakukan tanpa banyak kata, sebagai bentuk empati kepada warga yang datang dengan kondisi terbatas.
Wiji tampak terharu menerima perhatian tersebut. Ia mengaku setiap tahun menjelang Lebaran selalu diundang datang ke rumah kediaman Cak Salam untuk menerima zakat.
“Saya tiap tahun diundang ke rumahnya Cak Salam menjelang Lebaran. Alhamdulillah sangat membantu,” kata Wiji sambil tersenyum.
Bagi banyak warga, kegiatan ini bukan sekadar pembagian bantuan, melainkan juga tradisi tahunan yang selalu dinantikan menjelang Hari Raya.
Abdussalam Alamsyah mengatakan kegiatan berbagi zakat tersebut merupakan bentuk ikhtiar keluarga untuk terus menjaga tradisi berbagi di bulan suci Ramadan.
Menurutnya, semangat berbagi itu juga diwariskan dari sosok ayahnya yang selama ini menjadi panutan dalam kehidupan spiritual keluarga.
“Ayah menjadi panutan spiritual kami dalam berbagi. Untuk masyarakat Gebang dan sekitarnya, kegiatan ini insyaallah kami istiqomahkan setiap tahun,” ujar Cak Salam.
Ia menilai zakat dan sedekah bukan semata soal membantu orang lain, tetapi juga bagian dari upaya membersihkan hati dan harta.
“Zakat dan sedekah adalah penawar racun dalam diri. Artinya, kegiatan ini juga untuk mensucikan harta dan hati kami. Harta pada dasarnya hanyalah titipan dari Allah,” katanya.
Dalam kesempatan itu, ia juga menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat jika selama ini ada sikap keluarga yang kurang berkenan.
“Saya mohon maaf apabila keluarga kami pernah menyinggung atau berbuat salah. Doakan kami agar bisa terus berbagi lebih luas dan merata,” ujarnya.
Kegiatan berbagi zakat tersebut tidak hanya digelar di satu lokasi. Panitia menyebarkan pembagian bantuan di beberapa tempat, di antaranya kawasan Perumahan Istana Kaliwates, Istana Kaliurang Green Garden, Istana Tegal Besar, serta kediaman Cak Salam di Kelurahan Gebang.
Ribuan warga tercatat menjadi penerima dalam kegiatan tersebut.
Menjelang Lebaran, bantuan sederhana seperti beras dan sarung bagi sebagian warga mungkin terlihat kecil. Namun bagi mereka yang datang dengan harapan, bantuan itu menjadi penopang kebahagiaan menyambut hari raya. Di antara keramaian antrean, langkah pelan Wiji menjadi salah satu gambaran bagaimana tradisi berbagi masih hidup di tengah masyarakat. (dan/ian).

















