Jember, Kabarpas.com – Di tengah tekanan inflasi yang masih tinggi, Kepala DPMPTSP Jember, Isnaini Dwi Susanti, memaparkan bahwa pemerintah daerah mulai menggeser fokus dari sekadar menarik modal menjadi memastikan dampaknya menjalar ke ekonomi lokal.
Salah satu strategi utama adalah memperkuat kemitraan antara pelaku usaha skala besar (non-UMK) dengan UMKM. Tujuannya, agar pelaku usaha kecil tetap bertahan dan naik kelas di tengah arus investasi.
Selain itu, akselerasi program MBG (Makan Bergizi Gratis) dimanfaatkan sebagai instrumen ekonomi. Dalam skema ini, pelaku usaha lokal dilibatkan dalam penyediaan bahan baku seperti beras, telur, ayam, dan sayuran.
“Ini difasilitasi oleh OPD teknis seperti perdagangan dan koperasi agar rantai pasoknya melibatkan pelaku lokal,” ujar Santi.
Strategi lain adalah pengembangan agrowisata edukasi. Kawasan seperti Puncak Rembangan, Puslit Kopi, hingga integrasi wisata Watu Ulo–Papuma didorong menjadi pusat ekonomi baru berbasis masyarakat.
Pendekatan ini tidak hanya mengandalkan investasi besar, tetapi juga menghidupkan aktivitas ekonomi skala lokal melalui pariwisata dan jasa.
Pemerintah daerah juga mengandalkan penyelenggaraan event berskala nasional dan internasional untuk mendorong perputaran ekonomi, khususnya bagi pelaku UMKM.
Ke depan, arah kebijakan investasi mulai difokuskan pada sektor-sektor yang memiliki nilai tambah tinggi. Pariwisata berbasis aset daerah menjadi salah satu prioritas, tidak hanya untuk meningkatkan PAD tetapi juga membuka peluang investasi baru.
Di sisi lain, hilirisasi komoditas unggulan seperti kopi dan tembakau menjadi agenda strategis. Melalui penyediaan data terintegrasi, penyiapan tenaga kerja lokal, serta kemitraan antara BUMD, Puslit Kopi Kakao, dan perhutanan sosial, pemerintah berupaya menekan disparitas harga sekaligus memperkuat rantai distribusi.
Langkah ini menunjukkan upaya untuk menggeser ekonomi Jember dari sekadar produsen bahan mentah menjadi penghasil produk bernilai tambah.
Jika berhasil, strategi ini tidak hanya akan memperbesar nilai investasi, tetapi juga memperluas dampaknya dari angka di laporan menjadi daya beli nyata di masyarakat. (dan/ian).



















