Menu

Mode Gelap
Wujudkan Mimpi Pebasket Muda Jatim, MPM Honda Jatim Gelar Honda DBL 2023 East Java Series Dukungan Mas Dion Maju Cabup Pasuruan 2024 Kian Masif

Kabar Terkini · 16 Jan 2026

Calon Ombudsman RI Ini Rupanya Sosok Marhaenis


Calon Ombudsman RI Ini Rupanya Sosok Marhaenis Perbesar

Jakarta, Kabarpas.com – Susianah Affandy, Calon Pimpinan Ombudsman RI dari unsur organisasi perempuan ini ternyata sosok merakyat dan mirip Marhaenis. Kesimpulan tersebut diperoleh saat berbincang dengan Kabarpas tentang latar belakang sosial dan masa kecilnya.

Susianah dikenal luas sebagai aktifis sosial yang getol pada perjuangan perlindungan perempuan, anak, penyandang disabilitas dan kelompok rentan lainnya. Ia mendarma baktikan seluruh hidupnya sabagai aktifis dan pada saat yang bersamaan juga abdi Negara. Di Lembaga Negara, tahun 2004-2008 ia adalah Tenaga Ahli Pimpinan Komisi VIII DPR RI yang membidangi Agama, Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Lulusan Sarjana Terbaik UIN Jakarta ini tercatat sebagai Komisioner Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) Periode 2013-2016. Selanjutnya ia diangkat Presiden sebagai Komisioner KPAI Periode 2017-2022. Sebelum menjadi Direktur Pemberdayaan Masyarakat Otorita IKN, Peraih Women Award Tahun 2024 ini juga pernah mengabdikan diri sebagai Tenaga Ahli Setwapres RI.

Di masyarakat, Susianah dikenal karena keaktifannya dalam organisasi Nahdlatul Ulama dan Kongres Wanita Indonesia (Kowani). Ketika Seniornya Ida Fauziyah menduduki jabatan sebagai Ketua Lembaga Kemaslahatan Keluarga PBNU Periode 2015-2020, Susianah menjabat sebagai Wakil Ketua LKKNU. DI organisasi NU, Susianah sering diminta gagasannya tentang masalah perempuan, anak, disabilitas, lansia, dan pengembangan SDM. Ia dipercaya sebagai Dewan Pakar Persatuan Guru NU Propinsi DKI Jakarta Periode 2013-2018. Dalam organisasi perempuan tingkat nasional, karir puncaknya adalah saat menduduki posisi sebagai Ketua Kowani Periode 2014-2019 dan Periode 2019-2024. Di sela kesibukannya, Susianah rajin menyapa Pekerja Sosial Masyarakat yang berkecimpung dengan masalah kesejahteraan sosial. Susianah adalah Wakil Ketua Umum Ikatan Pekerja Sosial Masyarakat (IPSM) Nasional.

Meski ia menempati jabatan pucuk pimpinan organisasi nasional, Susianah nampak berbeda dengan kebanyakan elit perempuan NU pada umumnya. Perbedaan tersebut nampak dari caranya membangun komunikasi yang tanpa pandang bulu. Ia sosok yang ramah dan mudah cair dalam semua situasi. Gaya penampilan, bicara dan laku kesehariannya menunjukkan ia sangat dekat dengan “wong cilik”, sebuah jargon yang selama ini dimiliki oleh kaum abangan.

“Saya berasal dari kaum Abangan di pesisir Jawa Timur. Saya lahir di tengah-tengah wong cilik. Saya masih ingat nyanyian anak-anak di sudut-sudut gang yakni “Ojok rame-rame ono bedhes liwat kene. Bedhese loreng-loreng lek wes gedhe dadi banteng. Banthenge segitiga kanggo mbelo Pancasila”. Rasanya kalau bukan bagian dari kaum marhaenis, tak mungkin saya hafal lagu tersebut sampai saat ini”, tukas Susianah

Pernyataan Susianah menjawab teta-teki tentang sosoknya yang tidak elitis dan cenderung apa adanya “merakyat”. Sebagai Komisioner KPAI, ia pernah datang ke Kantor jam 21.00 untuk menjemput anak minggat dari rumah dan anak yang sakit demam. Susianah saat itu memastikan bahwa anak tersebut mendapat perlindungan dan kebutuhan dasarnya terpenuhi. Di hari Minggu, Susianah juga pernah mendatangi lokasi anak yang dipukuli oleh Ibunya meski hari libur dan lokasinya di luar kota. Di sela-sela tugas pengawasan, Susianah tidak jarang meluangkan waktu untuk masuk ke gang-gang kecil. Ia giat mendengar keluah kesah warga yang tinggal di bantaran sungai, di lokasi pembuangan sampah dan samping rel kereta api. Susianah sering ikut makan bersama anak-anak jalanan, anak silver, anak ondel, anak karung dan penyandang masalah kesejahteraan sosial lainnya.

Susianah bahkan pernah mengajar membaca aksara warga yang tinggal di perkampungan bantaran sungai Klender Jakarta Timur. Ia prihatin melihat Ibu-Ibu muda rentan alami KDRT dan mereka ternyata tidak melek huruf. Untuk kepentingan “wong cilik”, peraih Rekor MURI (dalam Penggerakan dan Penjangkauan Keluarga Sehat Terbanyak Secara Serentak) ini dikenal koleganya sebagai sosok yang smart, banyak ide out the box dan inovasi dalam bidang pemberdayaan masyarakat.

Sebagai informasi, Marhaenisme adalah ideology politik Bung Karno yang menekankan pembelaan kepada “wong cilik”. Marhaenisme berasal dari kata Marhaen, nama seorang petani kecil di Bandung yang ditemui Bung Karno saat bolos kuliah ITB. Pak Marhaen menggambarkan orang kecil yang hidup dan bekerja untuk bertahan hidup.

Keterangan Foto :
Susianah Affandy sebagai Direktur Pemberdayaan Masyarakat Otorita IKN tengah tertidur di gunung IKN. Sumber foto dari akun FB Helena Lin Legi (Ketua Dewan Adat Dayak) pada 23 Februari 2023, pada saat yang bersamaan terdapat kunjungan rombongan Presiden RI di IKN. Lokasi foto berada 100 meter dari glamping IKN yang digunakan sebagai tempat bermalam Presiden RI beserta para menteri. (***).

Artikel ini telah dibaca 9 kali

Baca Lainnya

Usai Libur Nataru, MPM Honda Jatim Imbau Konsumen Lakukan Pengecekan Sepeda Motor

16 Januari 2026 - 11:34

Pertamina Patra Niaga Hadirkan Avtur, Biaya Penerbangan Jember Lebih Efisien

16 Januari 2026 - 08:12

Antusias Konsumen Terus Meningkat, Program “Untukmu Konsumen Honda” Hadir Kembali di Madiun dengan Hadiah Honda Scoopy

15 Januari 2026 - 18:25

Pemkab Jember dan Pertamina Operasikan Layanan Avtur di Bandara

15 Januari 2026 - 18:14

Realme C85 5G Resmi Open Sale, Tawarkan Ketangguhan Ekstrem dan Performa 5G untuk Produktivitas Anak Muda

15 Januari 2026 - 14:51

Penyegaran Rotasi Pejabat Strategis, Polres Jombang Gelar Sertijab

15 Januari 2026 - 12:19

Trending di KABAR NUSANTARA