Menu

Mode Gelap
Wujudkan Mimpi Pebasket Muda Jatim, MPM Honda Jatim Gelar Honda DBL 2023 East Java Series Dukungan Mas Dion Maju Cabup Pasuruan 2024 Kian Masif

Kabar Probolinggo · 15 Jun 2023 23:51 WIB ·

Bule Australia Apresiasi Pembelajaran Kelas Rangkap yang Berhasil Atasi Kekurangan Guru


Bule Australia Apresiasi Pembelajaran Kelas Rangkap yang Berhasil Atasi Kekurangan Guru Perbesar

Probolinggo, Kabarpas.com – Untuk melihat hasil program model pembelajaran kelas rangkap atau multigrade, delegasi Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT) Australia yang menaungi Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia (INOVASI) melakukan kunjungan ke SDN Ngadisari 2 Kecamatan Sukapura Kabupaten Probolinggo.

Kegiatan ini dihadiri oleh Lauren Bain selaku First Assistant Secretary Southeast Asia Maritime Division (FAS SMD) dari Australia, Madeleine Moss selaku Minister Counsellor Governance and Human Development dari Australia dan Mark Heyward selaku Direktur Program INOVASI.

Kehadirannya disambut oleh anggota DPRD Kabupaten Probolinggo Supoyo, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Probolinggo Fathur Rozi, Kepala SDN Ngadisari 2 Marsini Astuti serta para pengawas sekolah, guru SDN Ngadisari 2 dan para orang tua murid.

Bersama INOVASI, model pembelajaran kelas rangkap dijalankan sebagai solusi untuk mengatasi rasio guru terhadap siswa yang tidak imbang tersebut. Dalam model ini, seorang guru mengajar dua kelas sekaligus dalam ruangan dan waktu yang sama. Langkah ini dapat menghemat anggaran dan meningkatkan efisiensi tenaga pengajar yang seharusnya membutuhkan tiga atau empat guru, menjadi satu guru saja.

Selain di SDN Ngadisari 2 Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, pembelajaran kelas rangkap juga dilakukan di SDN Sapikerep III, SDN Wonokerto II, SDN Sukapura IV, SDN Sukapura III, SDN Ngadisari I, SDN Sariwani II, dan SDI Nurul Hikmah As-Sholeh.

“Keberhasilan program yang pertama kali diterapkan di Kabupaten Probolinggo pada 2018 ini menginspirasi daerah dan provinsi lain yang menghadapi kekurangan guru atau distribusi guru yang tidak merata untuk mengadopsi pembelajaran kelas rangkap,” kata Lauren Bain selaku First Assistant Secretary Southeast Asia Maritime Division (FAS SMD) dari Australia.

Sementara Kepala SDN Ngadisari 2 Marsini Astuti mengatakan sekolah yang dipimpinnya saat ini terdiri dari empat staf pengajar khusus (3 laki-laki dan 1 perempuan) serta 53 siswa (26 laki-laki dan 27 perempuan).

“Semua guru dan kepala sekolah mendapatkan pelatihan tentang pembelajaran kelas rangkap dan cara mengajar lebih dari satu kelas. Setelah program rintisan 2018-2019 berhasil diselesaikan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Probolinggo memperluas program menjadi 136 sekolah,” ujarnya.

Menurut Marsini, tujuan program ini adalah untuk memperbaharui materi pelatihan kelas rangkap dengan berbekal pengalaman dari program sebelumnya, untuk meningkatkan kinerja KKG dalam memberikan pelatihan dan dukungan, untuk meningkatkan peran pengawas, guru dan kepala sekolah dalam mendukung kegiatan kelas rangkap, untuk mempromosikan pembelajaran yang mengadopsi pendekatan kesetaraan gender dan pendidikan inklusif serta untuk memulai pelaksanaan kelas rangkap di sekolah-sekolah mitra.

“Tantangan bagi guru memang menjadi lebih besar, tetapi sisi positifnya kami menjadi lebih kreatif dalam menyiapkan materi pelajaran di kelas. Misalnya waktu menyampaikan pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam untuk kelas IV, maka kelas III mempelajari Bahasa Indonesia. Ketika kelas IV membahas tentang sifat-sifat air, siswa kelas III ditugasi membuat kalimat dengan kata yang termasuk dalam sifat-sifat air tersebut. Akhirnya, siswa kelas rendah seringkali lebih luas wawasannya karena menangkap materi pelajaran lebih awal dari murid sekolah lain,” jelasnya.

Marsini menerangkan melalui pengajaran kelas rangkap, para pendidik telah melakukan asesmen dan pembelajaran berdiferensiasi, komponen utama dari Kurikulum Mandiri yang akan diterapkan secara nasional pada 2024.

“Dukungan dari Pemerintah Australia dan Indonesia melalui program INOVASI telah memberikan dampak positif bagi sekolah-sekolah. Para guru mengembangkan pembelajaran yang sejalan dengan keterampilan abad ke-21 dan meningkatkan kemampuan membaca siswa,” terangnya.

Selain itu, untuk mendukung kelancaran pembelajaran kelas rangkap, program pengasuhan anak juga dilaksanakan. Anak-anak di masyarakat terpencil menghadapi banyak hambatan untuk mengakses pendidikan dan siswa sering bolos sekolah karena bekerja di bercocok tanam dengan orang tuanya. Pada 2019, program ini melatih orang tua tentang pentingnya pendidikan.

“Terkait dengan kurikulum, sejumlah 14 personel termasuk pengawas, guru, kepala sekolah, dan perwakilan dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Probolinggo bersama dengan bantuan teknis dari INOVASI mengembangkan lokakarya teknis,” tambahnya.

Lokakarya ini melatih 112 peserta Kelompok Kerja Guru (KKG) tentang bagaimana implementasi Kurikulum Merdeka di sekolah kelas rangkap.

“Sejak 2019, staf sekolah menerima pelatihan diseminasi literasi dan numerasi dari Dinas Pendidikan Kabupaten Probolinggo. Setelah pelatihan, program keaksaraan dibentuk dan sudut baca khusus didirikan di ruang kelas,” pungkasnya. (len/ian).

Artikel ini telah dibaca 80 kali

Baca Lainnya

Disporapar Probolinggo Berikan Sosialisasi Pendaftaran HKI

1 Maret 2024 - 19:07 WIB

Ini Pesan Pj Bupati Ugas Saat Lantik 14 Pejabat Eselon III

1 Maret 2024 - 08:04 WIB

GMNI Probolinggo Gelar Baksos di Panti Asuhan NU

29 Februari 2024 - 21:06 WIB

Harga Beras di Sejumlah Pasar Tradisional Probolinggo Berangsur Turun

29 Februari 2024 - 20:14 WIB

Promosikan Produk Kerajinan, DKUPP Probolinggo Ikuti Pameran Inacraft 2024

29 Februari 2024 - 06:24 WIB

HIMPAUDI Probolinggo Gelar Workshop Peningkatan Kapasitas Pendidik PAUD

28 Februari 2024 - 17:49 WIB

Trending di Kabar Probolinggo