Oleh: Barotun Mabaroh, SS, M.Pd
KABARPAS.COM – FATURAHMAN (2025) pada laman universitasindonesia.com menyatakan bahwa realitas percintaan merupakan aspek yang tak terpisahkan dalam kehidupan bagi kelangan mahasiswa. Masa perkuliahan sering kali dilihat sebagai fase yang paling mendalam untuk memahami diri sendiri dan orang lain. Oleh karena inilah, romantisme muncul sebagai sumber kebahagiaan, pelajaran emosional, bahkan kemungkinan distraksi studi yang jarang bisa dihindari. Dengan partisipasi aktif sang penulis sebagai Dosen Pembimbing Akademik (DPA), pemikiran Faturahman tersebut menggelitik penulis untuk turut mengembangkan narasi terkait dengan fokus pada asmara, semangat kuliah, dan IPK mahasiswa.
Sebut saja Anjeli, salah satu mahasiswa pembimbingan akademik dari penulis, tiba-tiba saja di akhir semester empat mengalami penurunan semangat studi yang begitu kuat. Bahkan, Anjeli kerap meninggalkan sesi pembelajaran pada hampir semua mata kuliah. Karena amanah pembimbingan, penulis mengonfirmasi kendala atau masalah apa yang sedang dihadapi oleh Anjeli. Ternyata Anjeli mengidap anxiety disorder dan dia harus menghindar dari gumulan orang agar penyakitnya tidak banyak yang tahu karena akan membuatnya insecured semakin parah. Anxiety disorder secara awam pada laman hellosehat.com dapat kita pahami sebagai gangguan mental yang membuat pengidapnya selalu merasa cemas, khawatir, atau takut yang berlebih sehingga kesulitan menjalani aktivitas sehari-hari. Sesuai simtom yang dialami oleh Anjeli, dia didiagnosis mengalami jenis gangguan ansietas “Agorafobia” sehingga ia selalu sulit berkonsentrasi atau pikiran kosong saat di kelas akibat hebatnya perasaan khawatir dan gelisah yang terus-menerus. Saat penulis tanya kira-kira apa sebabnya; apakah karena dosennya killer, atau teman-teman yang tidak sefrekuensi atau hal lain? Dia mengatakan bahwa mulai sering bingung dan hampa karena merasa harus mendengar orang lain tanpa pernah didengarkan, harus memperhatikan orang lain tanpa pernah diperhatikan, dan selalu mengalah untuk orang lain tanpa pernah diprioritaskan. Saat itu juga penulis memintanya untuk memblokir pihak yang selalu curhat dan membuang “sampah” padanya karena bisa jadi merekalah sumber disordernya.
Hal yang mengejutkan, memasuki semester lima, Anjeli tampak sangat semangat mengurus semua persyaratan administratif perkuliahan. Bahkan saat di kelas, dia tampil begitu aktif dalam partisipasi dan diskusi. Penulis bersyukur dan memberi ucapan selamat karena telah melewati masa-masa sulit. Akan tetapi, konsisten dengan fokus tulisan ini, penulis mendengar pernyataan lugunya bahwa “Alhamdulillah ma’am sekarang saya sudah ada yang mendengar, memperhatikan, dan memprioritaskan. Namanya Aman, ma’am”. Dengan fakta ini, maka jelas asmara menjadi modalitas untuk sebagian mahasiswa agar bersemangat untuk kuliah dan mencapai IPK tinggi. Anxiety disorder yang dulu begitu menakutkan dan mengancam baginya ternyata hanyalah batu lompatan agar dia menjadi “pusat perhatian” dan menjadi orang yang didengar, didiperhatikan dan diprioritaskan. Di akhir pertemuan itu, penulis berpesan agar dia berlatih untuk melihat kebahagiaan dari diri sendiri karena tidak selamanya orang lain bisa membahagiakan baik karena kepentingan ataupun perasaan yang mulai pudar.
Fakta yang bertentangan, Tina menghilang dari sesi perkuliahan setelah putus dari Rahul. Dia merasa putus asa dan seakan tidak ada lagi yang menerimanya. Ucapan mantannya bahwa dia seperti kera pun sempat diceritakan kepada penulis. Penulis dengan sekuat hati berusaha menguatkan bahwa dia cantik, dia sempurna, dia tidak butuh orang lain yang membuat kacau hidupnya. Kurang lebih dia butuh waktu satu tahun atau dua semester untuk recovery dari asmara toksik yang dialaminya. Bukan hal yang ringan karena Tina harus mengulang mata kuliah yang ia tinggalkan, dan pastinya tidak murah karena dia dibebani heregistrasi pengulangan semua matkul di dua semester itu.
Dua pengalaman yang kontradiktif tentang asmara mahasiswa di atas mengejawentahkan bahwa BENAR ada hubungan antara asmara, semangat kuliah, dan IPK mahasiswa. Akan tetapi, yang perlu digarisbawahi yaitu bahwa hubungan antara tiga variabel tersebut tidak serta merta positif karena dampak negatifnya lebih fatal. Oleh sebab ini, semua pihak khususnya para akademisi dosen wajib mengedukasi tentang fakta ini karena bagaimanapun romantisme itu bias tergantung pada tipologi subyek yang terlibat di dalamnya.
Sebagai alternatif daripada terikat dalam asmara, mahasiswa bisa diarahkan untuk lebih mengembangkan kemampuan interpersonalnya dengan jangkauan yang lebih luas. Atau, mereka dapat membangun kesetiakawanan dengan sejawat dengan cara staycation bersama teman sekelas saat libur semester. Pula, hiking atau diving bersama sejawat yang memacu pengalaman adrenalin tinggi dan pastinya seru. Dengan interaksi dan komunikasi yang baik bersama jangkauan orang yang lebih luas mahasiswa juga akan dapat belajar mengenal ragam manusia dengan segala aktifitas serta kepentingannya sehingga akan membuat mereka lebih dewasa untuk beradaptasi dan mudah mendapatkan pekerjaan pasca lulus sarjana (Annisa Alyanti & Luqman, 2024). Lebih dari ini, memupuk kesadaran atas biasnya asmara kepada mahasiswa dan pentingnya soft skill komunikasi interpersonal dengan jangkauan yang lebih luas merupakan upaya mendidik mahasiswa agar terbiasa mandiri dan percaya diri dalam mempertimbangkan, memilih, dan menerima konsekuensi hidup. Terlibat dalam ikatan cinta yang terlalu dini juga sebenarnya mengurangi periodesasi menikmati pertemanan dan kebebasan eksplorasi potensi mahasiswa serta kerap menuntut mereka untuk menjadi “dewasa” sebelum waktunya.
Wallahu a’lam.. (***).
___________________________________________
Daftar Referensi:
Annisa Alyanti, R., & Luqman, Y. (2024). Hubungan Antara Pola Komunikasi dan Intensitas Interaksi Sosial Terhadap Kohesivitas dalam Circle Pertemanan Mahasiswa Rantau. Interaksi Online, 13(1), 1005-1022. Retrieved from https://ejournal3.undip.ac.id/index.php/interaksi-online/article/view/48908



















