Aku Menyesal Menyiakan Dia… Part-I

Oleh : Hannauzah

KABARPAS.COM – ADA seorang anak laki-laki yang bernama Arvin. Dia sangat menyukaiku. Dan dia ingin sekali bersahabat denganku. Dia selalu mengutamakanku dan juga peduli padaku, tetapi aku menyia-nyiakannya. Aku sudah kuliah satu kelas dengannya, jurusan ekonomi. Inilah kisahku…

Saat itu sebelum kelas dimulai, aku sedang membaca buku di dekat air mancur di taman kampus. Tiba-tiba ada cowok yang mendekatiku. Aku tidak mengenalnya, mungkin dia anak baru.

“Hai, siapa namamu?” tanya Arvin.

“Bukan urusanmu!” jawab Arlie jutek.

“Lho, kamu kok gitu?”

“Karena saya gak kenal kamu!” nada Arlie semakin tinggi.

“Kalau kita kenalan, lama-lama kenal kok. Namaku Arvin,” lanjut Arvin sambil mengulurkan tangannya.

“Arlie,” jawab Arlie masih jutek tanpa merespon uluran tangan Arvin.

“Nama yang bagus.”

Arlie tidak menjawab pujian Arvin dan langsung pergi. Setelah Arlie pergi, Arvin mencari kelas jurusan ekonomi. Sekian lama mencari tak kunjung menemukan kelas yang dituju, akhirnya dia bertemu Bu dosen yang kebetulan mengisi kelas ekonomi. Bu dosen itu pun mengajak Arvin ke kelas bersama.

Setibanya di kelas, Bu Dosen memperkenalkan murid baru.

“Hai anak-anak selamat pagi,” kata Bu Inggit.

“Selamat pagi Bu,” jawab kami serentak

“Hari ini kelas kita kedatangan murid baru.”

Dosen Inggit kemudian menyuruh murid baru itu masuk dan memperkenalkan diri.

“Hai teman-teman, namaku Clayton Arvin Nixon Gilbert. Panggil aja, Arvin.”

Murid baru itu ternyata pemuda yang menyapa Arlie saat di taman. Setelah memperkenalkan diri, Bu Inggit menyuruh Arvin duduk di sebelah Arlie.

“Apa?!!” gumam Arlie dalam hati.

Setelah pelajaran selesai Arlie bicara sinis ke Arvin.

“Kamu!! Kamu lagi, kamu lagi!” kata Arlie dengan nada berbisik dan sikapnya yang masih jutek.

“Memang kenapa Arlie, kamu gak suka?”

“Iya, saya gak suka sama kamu. Dan kenapa kamu masuk kelas ini!? Oow… mungkin kamu dikasih tahu sama anak-anak yang lain bahwa saya ada di kelas ini. Iya?!!!”

Arlie tidak hanya bersikap sinis terhadap Arvin, tapi juga negative thinking.

“Bukan Arlie. Saya gak dikasih tahu anak-anak. Saya masuk kelas ini karena saya berbakat dalam bidang ekonomi. Dan setelah masuk kelas ini, ternyata kamu disini. Saya beruntung satu kelas sama kamu,” kata Arvin dengan sabar menjelaskan.

“Whatever!” jawab Arlie.

Waktu istirahat pun tiba. Arlie dan teman-temannya berbincang-bincang di kantin kampus.

“Arlie, kamu kayaknya kenal dekat dengan Arvin,” kata Evelyn.

“Iya. Kalian juga kelihatan romantis gitu,” sahut Zetta.

“Nama kamu dan dia juga cuma beda dua huruf,” timpa Liona.

“Kalian apa-apaan sih. Apapun yang kalian bicarakan, saya gak peduli!” Arlie menjadi sewot dengan candaan teman-temannya yang disangkut pautkan dengan Arvin.

Saat perjalanan kembali ke kelas, Arlie bertemu dengan salah satu dosennya. Pak Dosen meminta tolong Arlie untuk mengambilkan sekotak berkas yang berada di ruang penyimpanan buku-buku lama. Dia pun tidak sengaja berpapasan dengan Arvin.

“Hai, Arlie!” sapa Arvin lebih dulu, kemudian berbalik arah dan berjalan di samping Arlie.

Arlie yang tidak suka diikuti Arvin, lalu menjawab, “Arvin! Kenapa sih kamu selalu ganggu saya!”

“Saya gak ganggu kamu. Maksudnya, saya…”

Arlie memotong perkataan Arvin, “Halah! Alasan aja kamu!”

Arlie mempercepat langkahnya. Arvin pun diam-diam tetap mengikuti Arlie. Arlie memasuki ruangan penyimpanan buku-buku lama. Selang beberapa menit, Arlie keluar membawa kotak yang berisi thesis dan berkas-berkas penting. Tiba-tiba Arlie menjerit sambil melepas kotak yang digendongnya.

“Aaaa!!”

Brukkk

Kotak itu jatuh dan berkasnya berserakan. Arvin langsung keluar dari persembunyiannya dan menghampiri Arlie.

“Kamu gak pa-pa?” tanya Arvin.

Arlie menutup mulutnya sambil menangis. Arvin semakin cemas.

“Apa ada yang terluka?” Arvin bertanya sambil mengamati kaki Arlie, khawatir kesakitan karena tertimpa kotak yang cukup berat.

Arlie hanya menggeleng, membuat Arvin bingung. Arvin mengamati tumpukan buku dan kertas yang berserakan. Dan dia menemukan 2 ekor cicak besar dan kecil. Tanpa bertanya, Arvin langsung membuang kedua hewan melata tersebut.

“Kamu takut cicak?” tanya Arvin.

Arlie tidak menjawab. Meski demikian, Arvin tahu jawabannya melihat reaksi Arlie setelah cicak itu disingkirkan. Arlie mulai melepas tangan yang menutupi mulutnya. Arlie masih ragu-ragu mengambil berkas-berkas yang berserakan. Akhirnya Arvin yang membereskan berkas-berkas itu, sekaligus membawanya.

“Biar saya yang bawa.”

Arlie pasrah menerima bantuan Arvin. Rasanya malu bercampur rasa syukur karena Arvin sudah menolongnya dari rasa takut yang dimilikinya. Setelah memberikan berkas penting ke Pak Dosen. Arlie dan Arvin menuju kelas.

“Terima kasih,” kata Arlie.

“Sama-sama. Tapi kamu sudah baik-baik saja kan?” tanya Arvin masih cemas.

“Iya.”

Sejak saat itu, Arvin terus mendekati Arlie. Tapi Arlie tetap tidak suka dengan sikap Arvin. Saat diperjalanan pulang meninggalkan kampus. Arvin mengajak Arlie naik bus bersama.

“Stop Arvin!” Arlie menghentikan langkahnya.

“Jangan mentang-mentang kamu menolong saya waktu itu, kamu bisa dekat sama saya seperti ini! Saya gak suka kamu gangguin terus! Dan ada lagi. Jangan sampai kamu bongkar rahasia soal saya takut dengan itu. Kalau sampai ada yang tahu, saya tidak akan maafin kamu!”

Arlie memberi ultimatum kepada Arvin.

“Saya gak ganggu kamu. Saya cuma ingin berteman sama kamu,” jawab Arvin.

Di Tengah perdebatan antara Arlie dan Arvin, tiba-tiba preman datang menarget uang. Karena tidak ingin memberikan uang kepada preman tersebut, terjadi perkelahian antara Arvin dan para preman.

Brukk!

Boom!

“Arvin!!” teriak Arlie.

_____________________________________________

*Setiap Minggu Kabarpas.com memuat rubrik khusus “Nyastra”. Bagi Anda yang memiliki karya sastra, baik berupa cerita bersambung (cerbung), cerpen maupun puisi. Bisa dikirim langsung ke email kami: redaksikabarpas@gmail.com. (***).