Aku Menyesal Menyiakan Dia – Part Akhir


Oleh : Hannauzah

ARVIN…!!”

Arlie berteriak sembari terbangun dari tidurnya. Dia sejenak termenung sambil mengatur nafas yang terasa sesak di dada. Tak lama kemudian dia tersadar. Matanya bergerak melihat sekeliling.

“Ini kan kamarku,” gumamnya dalam hati.
Dia memegang pipinya yang terasa basah.
“Apa ini? Apa aku cuma bermimpi?” Masih bergumam sendiri, bingung.

Perasaannya masih campur aduk. Arlie bertanya-tanya, itu mimpi atau nyata. Karena penyesalannya masih nyata dia rasakan saat ini.

Dia melihat jam di dinding, waktu menunjukkan jam kuliah. Dia pun bergegas pergi ke kampus, sekaligus memastikan kejadian alam bawah sadar yang baru ia alami.

Sesampainya di kampus, Arlie berlarian mencari Arvin. Dia bertanya ke teman-teman yang dikenalnya, tapi tak ada satu pun dari mereka yang tahu keberadaan Arvin. Membuat Arlie semakin cemas.

Arlie tak juga menemukan Arvin, hingga pencariannya berakhir di kelas. Dia merasa lelah berlarian ke sana kemari. Arlie tertunduk sambil bertanya-tanya, “Di mana Arvin?”

Tak lama kemudian, terdengar langkah kaki seseorang memasuki kelas. Arlie masih tertunduk termenung. Dia merasa ada yang mengamatinya dari belakang. Arlie pun menoleh, dan melihat Arvin duduk di tempat duduknya.

Arlie terkejut sekaligus senang melihat Arvin.

“Arvin!”

Arvin merasa bingung dengan ekspresi wajah Arlie. Ditambah lagi, Arlie yang tergesa-gesa berjalan ke arahnya.

“Arvin, kamu baik-baik saja?”
“Iya.”
“Syukurlah,” terukir senyuman di wajah Arlie yang biasanya terlihat jutek.

Arlie duduk di sebelah Arvin.
“Hm…tapi kamu nggak lagi sakit parah kan?” Arlie kembali bertanya.
“Kamu kenapa sih?! Saya ini sehat, segar, dan bugar,” jawab Arvin santai.
“Semalam aku mimpi kamu….meninggal Vin. Jadi saya sedih dan panik.”
“Ooh…pantes saja ekspresi kamu tadi seperti itu.”

By the way, kenapa kamu panik banget? Itu kan cuma mimpi.”
Arvin berharap tebakannya benar. Melihat kepanikan yang dirasakan Arlie, mungkinkah dia mulai memiliki perasaan.
“Mimpinya seperti nyata.”
Arlie kemudian terdiam. Dia malu-malu memandang Arvin.
“Di mimpi itu, entah kenapa saya merasa sangat kehilangan kamu dan merasa menyesal sudah bersikap kasar terhadapmu.”
Arvin menahan senyum mendengar pernyataan Arlie.
“Mungkin ini peluang untuk kembali mendekati Arlie,” gumamnya dalam hati.

“Oh ya, tahu nggak. Di mimpi itu, ada adik kamu dan kamu juga menyebut-nyebut tentang preman yang waktu itu narget uang ke kita. Adik kamu beneran namanya Carla?”
Arlie mulai membahas tentang mimpinya lebih detail.
“Benar. Kok bisa pas ya?! Padahal saya tidak pernah cerita ke kamu.”
“Trus, preman yang waktu itu, betul dia teman kamu? Dan namanya….” Arlie mengingat nama preman itu.
“Bukan teman,” kata Arvin menyahuti.
“Cuma kita dulu sekampung jadi kenal mulai kecil. Kalau tidak salah, panggilannya Jun.”
Arlie kemudian ingat nama preman itu.
“Jadi namanya Jun. Bukan Jerry?”
“Sepertinya itu nama panjangnya. Kok bisa pas semua ya?! Terus ada apa lagi di mimpi kamu?”
Arvin mulai penasaran dengan mimpi lengkap Arlie.

“Hm…apa di mimpi kamu, kita sudah jadian?” Tanya Arvin menggoda.
Arlie menggeleng, “Enggak.”
“Truz?”
“Yaa…nggak terus-terus.”
Arlie tersipu malu. Dia pelan-pelan meninggalkan Arvin, kembali ke tempat duduknya mengambil tas.

“Eh, mau kemana?”
“Mau ke perpustakaan, ngerjain tugas.”
Arlie kabur meninggalkan Arvin.
Sedangkan Arvin, senyum kegirangan melihat sikap Arlie yang tidak biasa. Meyakinkan Arvin, kalau Arlie mulai membuka hati untuknya.

Setelah perbincangan tentang mimpi itu, hubungan Arlie dan Arvin berangsur membaik. Arlie sudah mau makan bersama Arvin di kantin. Sudah mau diajak pulang bersama naik bus. Mereka sering berbincang-bincang. Bahkan Arlie penasaran ingin bertemu dengan adik Arvin. Apa wajah Carla yang samar-samar dalam mimpi itu sama.

Setelah bertemu adiknya, Arlie benar-benar terkejut. Mimpinya benar-benar nyata. Ada rasa cemas, tentang sakit yang dialami Arvin di mimpi itu.

“Kenapa kamu jadi murung?” Tanya Arvin setelah sampai mengantar Arlie sepulang dari rumahnya.
“Saya cemas. Sepertinya semua yang saya temui dalam mimpi, itu benar-benar ada. Lalu…bagaimana tentang penyakitmu?”
“Kamu nggak usah berpikir seperti itu. Doakan saja supaya saya baik-baik saja. Sejauh ini saya sehat kok.”

Arvin mencoba menenangkan Arlie. Mereka duduk di bangku depan rumah Arlie. Dia merasa saat ini saat yang tepat untuk melakukan penembakan.
“Apa kamu sangat peduli tentang keadaan saya?” tanya Arvin.
Arlie tidak menjawab, dia hanya memandang Arvin.

Arvin mengeluarkan dua kotak kecil dari saku jaketnya. Dia membuka kedua kotak itu. Satu kotak berisi sebuah kalung dan kotak lainnya berisi jam tangan. Lagi-lagi benda itu, sama seperti yang berada di mimpi Arlie.

“Jika kamu mau menerima saya menjadi pacar kamu, kamu ambil jam tangan berwarna kuning emas ini. Dan jika kamu menolak, kamu ambil kalung ini.”

“Kenapa kalung yang harus saya ambil, jika saya menolak? Bukannya biasanya orang menyatakan cinta dengan kalung?”

“Saya berpikir, kalau kalung itu akan menggantung di leher. Dan biasanya tidak terlihat. Setidaknya dengan kalung itu, kita masih tetap bisa bersahabat.”

“Sedangkan jam tangan. Saya tahu kamu suka pakai jam tangan. Dan saya ingin setiap kamu melihat waktu, kamu akan selalu ingat tanda jadi kita.”

Arlie teringat dengan jam tangan yang ada di mimpinya. Benar-benar saling berhubungan. Apalagi dengan kalimat yang tertulis di dalam kotak jam tangan.

Jam tangan ini adalah tanda waktu di mana kita akan bersama

Itu menandakan bahwa mereka akan menjadi sepasang kekasih.
Arlie pun menyadari perasaannya dan ketulusan perasaan Arvin terhadapnya. Dia mengambil jam tangan berwarna kuning emas, lalu memakainya.

“Terima kasih Arlie.”

Arvin sangat bahagia karena Arlie mau menerimanya menjadi kekasih.

“Terima kasih juga Arvin.”

Mereka berdua tersenyum bahagia bersama.

Mereka berdua menghabiskan malam itu lebih lama di bawah sinar rembulan. Mereka berbincang-bincang sambil berpegangan tangan.

“Kalau boleh aku tahu, nama panjangmu siapa?” tanya Arvin.

“Clifton Arlie Nathalia Grania.”
“Kalau kamu?”

“Clayton Arvin Nixon Gilbert”

“Saya nggak nyangka. Nama kamu saling berhubungan dengan saya,” kata Arlie.
“Mungkin memang kita di takdirkan bersama,” sahut Arvin.

Senyum mereka pun terukir di atas langit malam yang cerah bersama kerlip bintang-bintang.

The End. (***).

___________________________________________________

*Setiap Minggu Kabarpas.com memuat rubrik khusus “Nyastra”. Bagi Anda yang memiliki karya sastra, baik berupa cerita bersambung (cerbung), cerpen maupun puisi. Bisa dikirim langsung ke email kami: redaksikabarpas@gmail.com. (***).