Banyuwangi (Kabarpas.com) – Pemkab Banyuwangi terus berkomitmen mewujudkan pendidikan inklusi. Saat ini terdapat 210 sekolah inklusi di Banyuwangi, di mana semua pelajar bisa bersekolah di tempat tersebut tanpa memandang keterbatasan fisik.
Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, Banyuwangi sejak 2014 telah mendeklarasikan gerakan pendidikan inklusif di mana semua sekolah wajib menerima semua anak tanpa terkecuali, termasuk anak penyandang disabilitas dan anak berkemampuan khusus.
“Ini sebagai bentuk upaya kami memberikan kesempatan pendidikan yang sama. Anak berkemampuan khusus bisa bersekolah bareng dalam satu kelas di sekolah yang sama, mempelajari mata pelajaran yang sama dan mengikuti semua kegiatan di sekolah tanpa ada diskriminasi,” ujar kata Bupati Anas kepada Kabarpas.com, Kamis (15/12/2016).
Itu bisa terwujud, sambung Bupati Anas, karena Pemkab Banyuwangi terus meningkatkan kapasitas guru dan sarana-prasarana di sekolah. Total saat ini ada 275 guru yang mempunyai kompetensi sebagai pendamping anak berkemampuan khusus. Mereka telah melalui pendidikan yang disyaratkan.
“Para guru tersebut ada di 210 sekolah inklusif yang terdiri atas 55 PAUD, 89 SD/MI, 44 SMP/MTs, dan 22 SMA/SMK/MA. Sekolah-sekolah tersebut menerima sekitar 1.246 anak penyandang disabilitas dan anak berkemampuan khusus,” ujar Bupati Anas.
Dengan diselenggarakannya pendidikan inklusi di sekolah umum, kata Anas, adalah bagian dari upaya mewujudkan masyarakat yang inklusif.
“Idealnya, anak berkemampuan khusus memang harus mendapat pendekatan berbasis masyarakat, artinya melebur bersama, bukan dikotakkan misalnya harus bersekolah di Sekolah Luar Biasa. Kami secara bertahap nantinya semakin banyak sekolah inklusif,” terangnya kepada Kabarpas.com.
Bupati Anas sendiri mengunjungi sebuah sekolah inklusif di Banyuwangi. Yakni, di SDN 3 Karangrejo, Kelurahan Karangrejo, Kecamatan Banyuwangi. Kedangatannya itu disambut oleh para siswa dan guru. Bahkan, salah satu anak yang terlihat antusias menyambut kedatangan orang nomor satu di wilayah Banyuwangi itu adalah Alifi Kamelia. Gadis berusia 9 tahun tersebut tersenyum ceria larut bersama teman-temannya yang lain.
Alifi adalah gadis tuna rungu yang telah mengenyam pendidikan di sekolah tersebut selama tiga tahun. Meski tuna rungu, dia nampak tak berbeda dengan siswa lainnya. Dengan menggunakan alat bantu dengar. Bahkan, saat ditanya cita-citanya dia, spontan menjawab ingin jadi guru.
Di SD tersebut, saat ini terdapat 39 anak berkemampuan khusus, seperti anak autis, tuna rungu, tuna laras (hiperaktif). dan lamban belajar (slow learner). Para siswa ini melakukan pembelajaran bersama siswa-siswa lainnya di satu kelas yang sama.
Sementara itu, Kepala SDN 3 Karangrejo, Siti Hafiah, menambahkan, pihaknya terus mengembangkan diri menjadi sekolah inklusif yang semakin berkualitas.
“Kami mendidik mereka dalam satu kelas. Agar siswa ini bisa lebih menyerap pelajaran, kami memberikan tambahan bimbingan bagi mereka dengan Guru pendamping yang telah memiliki kualifikasi tertentu. Dalam sepekan, minimal kami beri materi esktra satu hari,” terangnya kepada Kabarpas.com.
Sekolah ini memiliki 3 GPK yang bertugas mendidik mereka, baik mengembangkan bakat yang dimiliki siswa ABK ataupun membimbing mereka hingga melanjutkan ke sekolah lanjutannya. Pemkab Banyuwangi juga mengalokasikan dana Rp 3 miliar untuk honor tambahan para guru pendamping dan fasilitas penunjang bagi sekolah inklusif.
Usai mengunjungi SDN 3 Karangrejo, Bupati Anas menyerahkan alat bantu kepada penyandang disabilitas di Yayasan Kesejahteraan Penyandang Tuna Indra Kabupaten Banyuwngi. Alat bantu tersebut antara lain yaitu berupa kursi roda, tongkat putih, dan alat bantu dengar bagi penyandang tuna rungu. (dik/sym).













