Wali Kota Probolinggo Terus Pantau Proses Pemulangan Warganya yang Berada di Wamena

Reporter : Moch Wildanov

Editor : Titin Sukmawati

 

Probolinggo, Kabarpas.com – Wali Kota Probolinggo, Habib Hadi Zainal Abidin, mengunjungi korban kerusuhan Wamena, yang telah tiba di kampung halamanya, Rabu (9/10/2019).

Didampingi Staf dan Camat, satu persatu korban Wamena yang sampai di rumahnya disambangi oleh Habib (sapaan akrab Wali Kota Probolinggo).

Bahkan, suasana haru pun mewarnai ketika orang nomor satu di Kota Probolinggo itu bertanya kondisi dan kejadian ketika mereka berada di Wamena.

Berdasarkan data sementara, jumlah warga Kota Probolinggo yang berada di Wamena. Yakni meliputi Kecamatan Kademangan 20 orang; Kedopok 30 orang; Wonoasih 90 orang; Mayangan 7 orang dan Kanigaran 28 orang. Sedangkan yang sudah berhasil pulang berjumlah 9 Orang.

Abdullah salah satu korban yang berhasil selamat, menceritakan, kejadian tersebut berlangsung sangat cepat, yang diawali sekelompok pelajar melakukan unjuk rasa, selang beberapa lama kemudian berubah brutal. Para demonstran tersebut tiba-tiba membakar dan merusak rumah, bahkan ada yang dibunuh.

“Saya waktu itu berhasil melarikan diri bersama anak dan istri saya, ke semak -semak belakang rumah, dan alhamdulillah ada petugas datang. Sehingga saya berhasil dibawa dengan mobil patroli,” ujar Abdullah.

Sementara itu , Wali Kota Probolinggo, Hadi Zainal Abidin, menuturkan, Pemerintah Kota Probolinggo terus memantau perkembangan warganya, termasuk membantu proses kepulanganya.

“Kami telah mendirikan Posko pengaduan di tiap kecamatan, terkait warga Kota Probolinggo yang berada di Papua,” kata Habib kepada Kabarpas.com.

Tidak adanya koordinasi dan izin kepergian mereka merantau ke Papua melalui instansi terkait, sehingga berdampak pada tidak bisa diketahui pasti jumlah warga Kota Probolinggo yang merantau di Wamena.

“Pemerintah Kota juga akan membantu mereka, untuk memulai hidup baru di Kota Probolinggo, kita akan data ketrampilan mereka dan kita berdayakan memalui UMKM – UKM,” tegasnya.

“Yang pasti kita perhatikan pertama adalah kesehatan mereka, termasuk kondisi psikologis, dan pantau proses pemulangan mereka,” tambahnya. (wil/tin).