Unik, Desa di Kabupaten Probolinggo Ini Diberi Nama Kampung Strom

Di lereng Gunung Argopuro Kabupaten Probolinggo, terdapat sebuah Desa berjuluk Kampung Strom, kawasan desa yang  berhawa sejuk, Asri dan kaya potensi alam dan wisata ini, mendapat gelar Kampung Storm karena  desa ini  mampu menghasilkan anergi listrik sendiri dengan memanfaatkan aliran Sungai Pekalen yang melimpah dan tidak kering  meski di musim kemarau panjang. Seperti apa menariknya Desa berjuluk Kampung Strom ini? Berikut simak ulasannya.

————————————————————————————————————

Laporan: Moch Wildanov, Wartawan Kabarpas.com Biro Probolinggo

————————————————————————————————————

 

KABARPAS.COM – KAMPUNG Strom terletak di lereng Gunung Argopuro, di sisi selatan Kabupaten Probolinggo atau tepatnya di Desa Andung Biru, Kecamatan Tiris,  kabupaten  setempat.

Untuk menuju ke kampung strom ini, dibutuhkkan waktu sekitar 4  jam dari pusat Kota Probolinggo,atau 2 jam dari Kota Kraksaan.

Kampung ini diberi nama strom, karena desa ini mampu menghasilkan listrik sendiri dengan memanfaatkan aliran sungai pekalen yang dirubah menjadi energi  gerak, dan dikonversi lagi menjadi tenaga listrik atau yang dikenal dengan Pembangkit Listrik Tenaga Mini Hidro  (PLTMH).

Kata strom dalam bahasa Jawa adalah aliran listrik, namun kata strom di sini memiliki makna atau kepanjangan dari kampung sentra energi terbarukan.

3 unit PLTMH Yang berada di desa ini, total mampu menghasilkan 1.200 Kilo volt, dan mampu mengaliri listrik sekitar 600 kepala keluarga di tiga desa.

Sistem pembayaran listrik di desa ini juga tergolong murah bahkan unik, yaitu warga yang memanfaatkan  listrik  hanya membayar 500 rupiah sampai 5 ribu perbulan, dan  bila ada warga  yang tidak punya uang bisa juga membayar iuran  tersebut  dengan hasil bumi dan hewan ternak seperti pisang, atau  ayam.

Ide awal kampung strom bermula ketika desa ini tidak ada aliran listrik karena medan yang jauh dan  letaknya berada di lereng Gunung Argopuro. Melihat kondisi tersebut, Corporate  Social Responbility (CSR ) PJB UP Paiton  mulai menggagas untuk menjadikan kampung ini mandiri listrik.

Kepada Wartawan Kabarpas.com , Tokoh Masyarakat Desa Andung biru, Rasid menjelaskan, dahulu di kampungnya itu hanya punya satu kincir air untuk kebutuhan listrik, dan itupun hanya untuk beberapa rumah saja.

“Kini Sudah diganti yang lebih modern, dan bisa dimanfaatkan sekitar 700  Kepala Keluarga ,  selain untuk menyalakan lampu, listrik di sini juga bisa untuk melihat televisi, bahkan bisa digunakan untuk mengoperasikan alat pengolahan kopi, alat las, dan mebel,” katanya kepada Kabarpas.com.

“Terima kasih PJB, sekarang listrik di desa ini sangat bermanfaat dan membantu kehidupan masyarakat di lereng Gunung ini. Dan sekarang di kampung ini mulai banyak didatangi wisatawan, untuk berwisata ke kebun teh, menikmati kopi, serta beredukasi ke PLTMH,” tambahnya.

Sementara Itu, Rendi Diawangsa, Humas PJB UP PLTU Paiton, menuturkan bahwa apa yang dilakukan pihaknya itu adalah salah bentuk kepedulian dan tanggung jawab perusahaan untuk ikut mensejaterahkan masyarakat setempat.

“Tidak itu saja, melalui prgram CSR ini, desa ini juga akan kita gagas sebagai desa mandiri energi Bio Gas, sehingga bisa mandiri untuk memenuhi kebutuhan memasak sehari hari. Untuk itu, kita akan upayakan Desa Andung Biru ini benar-benar menjadi Desa Mandiri Energi ramah lingkungan, dan mandiri segalanya,” tutur Rendi.

Sementara itu, kepala Diskominfo Kabupaten Probolinggo, Yulius Christian mengemukakan, sejatinya Pemerintah Kabupaten Probolinggo selalu mensuport dan mendukung penuh program CSR dari perusahan tersebut.

“Dengan adanya peran CSR ini tentu akan mempercepat membentuk desa mandiri yang ada di wilayah  Kabupaten Probolinggo ini,” tutupnya. (***/Titin Sukmawati).