Rhenald Kasali: Perang Bakar Uang Membebani Pelaku Usaha Lama

Reporter : Memey Mega

Editor : Memey Mega

 

 

Bali, Kabarpas.com – Pakar bisnis Prof Rhenald Kasali mengingatkan bahwa banyak pengusaha terllibat dalam perang bakar uang tanpa memahami bahwa DNA lawan yang dihadapi berbeda.

“Pengusaha lama yang terganggu ikut-ikutan bakar uang untuk mengimbangi persaingan. Motifnya untuk mempertahankan pelanggan. Padahal business model dan value creation yang terjadi dalam bisnis model lama dengan start up itu sangat berbeda,” ujarnya di sela-sela konferensi international di Bali.

Guru besar UI dan Chairman PT Telkom ini menjelaskan bahwa DNA keduanya sangat bertolakbelakang dan masing-masing mempunyaii struktur, proses bisnis dan manajemen yang barbeda. Pada akhirnya kelincahan gerak dan struktur biayanya membedakan mereka di pasar.

“Basis manajemen pemain-pemain lama itu adalah heavy assets, sangat tangible, controlling, supply-side, skala ekonomis, dan sangat mengandalkan branding. Ini berbeda dengan basis manajemen start-up yang light assets, intangibles, orkestrasi ekosistem, data, dan mengandalkan review dan rating,” ungkapnya.

Maka itu, lanjutnya, pemain baru memilih jakan mobilisasi ketimbang marketing, dan orkestrasi ketimbang manajemen.

Karena itulah ia mengingatkan sebagian proses bakar uang sudah memasuki tahap stabil dan tak perlu perang-perangan. Itu tampak dalam bisnis transportasi. Namun pertempuran besar masih bakal terjadi di sektor retail dan e commerce, dan yang betpotensi ricuh ada di sektor keuangan, kesehatan dan pendidikan.

Ia juga mengingatkan, keluhan chairman Lippo terkait strategi bakar uang yang harus dihentikan grup ini dengan menjual sebagian besar sahamnya di OVO sebagai sebuah fenomena baru.

“Saya menyebutnya sebagai pertatungan antara old power vs new power. Bakar uang itu adalah tradisi new power yang sudah dilakukan sejak awal revolusi industri oleh setiap pendatang baru atau pendobrak pasar. Namun hari ini mereka datang dengan strategi longtail. Ekornya yang terlihat dulu tapi panjang sekali, sedangkan sosok hewannya baru kelihatan 10-20 tahun ke depan. Sedangkan oldpower maunya selalu melihat hewannya dulu, baru ekor pedeknya di belakang,” tandasnya.

Menurutnya, masalah pembakar uang di era start up itu sangat light asetnya dan bukan dibiayai oleh hutang bank. Jadi kelak di dunia startup akan tampak perbedaan antara EBITDA dengan EAT (pendapatan bersih) yang tidak selisih jauh.

“Depresiasi dan interest charges-nya mendekati zero,” ujarnya.

“Sebaliknya bagi oldpower, terkondisi dengan heavy assets dan hutang bank berakibat laporan keuangan sangat cepat terbebani depresiasi dan biaya bunga. Ini saja sudah membuat oldpower nervous dengan strategi bakar uang,” imbuhnya.

Maka supaya berhasil dalam memasuki era baru, Rhenald menyarakan agar pengusaha paham betul karakter manajemen dunia baru, ubah mindset dan lakukan transformasi mendasar.

“Jangan ikut-ikutan melakukan digitalisasi atau melakukan akuisisi startup sembarangan kalau struktur DNAnya masih oldpower,” tutupnya. (***/Mey).