Ratusan Buruh Sweeping Pakbrik Plastik

Rembang (Kabarpas.com) – Ratusan buruh PT Surabaya Rending Plastic (SRP) Rembang, Kabupaten Pasuruan, melakukan aksi sweeping di dalam lingkungan tempat mereka bekerja. Aksi sweeping ini dilakukan lantaran pihak perusahaan tak kunjung menemui para buruh tersebut. Rabu, (17/06/2015).

Pantauan Kabarpas.com, ratusan buruh ini merangkak masuk ke dalam lokasi perusahaan yang kala itu dijaga oleh ratusan petugas kepolisian. Bahkan, aksi ini sempat memanas lantaran para saat buruh berada di depan pintu gerbang perusahaan, mereka dilarang masuk oleh ratusan polisi yang sedang berjaga.

Akan tetapi, khawatir terjadi hal-hal yang tak diinginkan, 15 orang perwakilan dari perusahaan pembuat karung itu diperkenankan masuk. Nah¸ saat masuk ke dalam lokasi perusahaan inilah terjadi ketegangan. Para buruh tersebut mengejar kepala produksi, selain itu mereka juga masuk ke ruangan manajemen.

Dan akhirnya para buruh ini ditemui pihak manajemen perusahaan, Beng Lyuu. Tak sendirian manajemen juga didampingi pengacara perusahaan, di ruang kantor perusahaan plastik tersebut. Sedangkan dari pihak buruh didampingi oleh aktivis pembela buruh, Ayik Suhaya.

“Kedatangan kami ke sini tidak lain untuk tetap menuntut gaji dan hak buruh. Sebab, kami sudah tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan agar hak buruh segera diberikan,” ujar Ayik, dalam pertemuan itu.

Dijelaskan, selama ini pihak buruh sudah melakukan beberapa mediasi dengan manajemen perusahaan. Hanya saja, tidak ada jalan keluar dari perusahaan, minimal dengan membayar THR yang tertunda ratusan kali.

“ Buruh sudah melaksanakan kewajibannya, sedangkan perusahaan hanya diam dan tidak melakukan tindakan apapun. Maka dari itu, kami gerah dan lebih baik meminta solusi yang terbaik dan tidak bertele tele,” tegasnya.

Dalam pertemuan yang cukup alot tersebut, Ayik tetap meminta ketegasan pihak manajemen, untuk membayar gaji 3 bulan dan THR tahun 2014 lalu, yang belum dibayarkan. Bahkan pria yang saat ini hobi mengkoleksi akik tersebut, juga menegaskan jika perusahaan pailit, sebaiknya dijual aset asetnya dan hasilnya dibuat membayar buruh.

Terkait tuntutan itu, manajemen menyanggupi untuk menindak lanjuti pertemuan kembali pada Kamis (18/06/2015) besok, bersama perwakilan buruh dengan dimediasi oleh pihak terkait dan jaminan keamanan dari pihak Polres Pasuruan. (ajo/uje).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *