PCNU Kota Kraksaan Gelar PKPNU

Reporter : Amelia Putri

Editor : Anis Natasya

 

Probolinggo, Kabarpas.com – Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Kraksaan menggelar Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PKPNU) di Wisma Kampoeng Hati Desa Gading Wetan Kecamatan Gading, Jumat hingga Minggu (13-15/9/2019).

Kegiatan ini diikuti oleh 81 orang peserta yang terdiri dari pengurus struktural PCNU, MWCNU, lembaga, banom (badan otonom), profesional, dosen, tokoh agama dan pengasuh pondok pesantren di wilayah kerja PCNU Kota Kraksaan.

Pembukaan PKPNU ini dihadiri oleh Mustasyar PCNU Kabupaten Probolinggo dan Kota Kraksaan Drs. H. Hasan Aminuddin, M.Si, pengurus PWNU Provinsi Jawa Timur KH Syafrudin, Rais Syuriyah PCNU Kota Kraksaan KH Munir Kholili, Ketua Tanfidizyah PCNU Kota Kraksaan KH Nasrullah A. Suja’i serta jajaran pengurus PCNU Kota Kraksaan, Camat Gading Taufik Alami serta Kepala Desa Gading Wetan Supriyono.

Dalam sambutannya, Mustasyar PCNU Kabupaten Probolinggo dan Kota Kraksaan Drs. H. Hasan Aminuddin, M.Si menyampaikan menjadi seorang pengurus NU itu haruslah ikhlas. Tetapi yang terjadi selama ini, pengurus NU itu belum sepenuhnya tahu NU yang sebenaranya, sehingga tatkala orang luar menilai pengurus NU itu banyak berguraunya. Apalagi jika dihadapkan pada peradaban zaman hari ini. Terlebih sudah banyak orang yang sudah tidak bangga menjadi NU.

“Sebagai warga NU, kita harus merasa bangga menjadi bagian dari NU. Diawali dari kita sendiri kemudian memberikan uswatun hasanah kepada orang lain. Sehingga warga NU tidak butuh lagi seminar, lokakarya dan sejenisnya. Yang dibutuhkan saat ini adalah contoh yang baik sehingga anak dan cucu kita memahami NU. Di rumah kita selaku orang tua merupakan madrasah pertama bagi anak-anak maupun cucunya,” katanya.

Anggota Komisi VIII DPR RI ini mengaku sangat bangga ada generasi muda dan sepuh yang mau mengikuti PKPNU. Oleh karena itu harus ada komitmen karena di didik karakternya, sehingga nantinya menjadi kompak dan solid.

“PKPNU ini memberi ruang bagi peserta bagaimana menjadi tokoh pergerakan. Kita ingin membangun karakter NU di tengah-tengah peradaban yang cukup mengkhawatirkan. Kita harus bangga kembali ke struktur yang kita bangun. Kita kuatkan bagaimana jaringan ini bisa terbangun dengan baik,” tegasnya.

Sementara KH Syafrudin, pengurus PWNU Provinsi Jawa Timur mengatakan NU memiliki kewajiban untuk melakukan pengkaderan sebagai regenerasi kepengurusan. Militansi yang tinggi mutlak diperlukan oleh pengurus NU. “Perlu diingat dan dipahami oleh seluruh pengurus bahwa Nahdlatul Ulama adalah warisan para wali yang tidak hanya politik tetapi ada restu dari Allah SWT,” ujarnya.

Terpisah, Sekretaris PCNU Kota Kraksaan H Fauzan Hafidhi mengungkapkan persyaratan utama untuk bisa mengikuti PKPNU ini harus mempunyai komitmen secara subjektif. Mereka mempunyai komitmen yang tinggi terhadap Nahdlatul Ulama, baik itu pengurus, fungsional maupun professional.

“Peserta PKPNU ini tidak 100% lulus, karena ada juga yang tidak lulus kalau tidak mengikuti ketentuan, aturan maupun SOP yang ditentukan oleh PKPNU. Apabila tidak lulus, maka bisa mengulangi materi yang tidak lulus atau mengulang semua materi,” ungkapnya.

Menurut Fauzan, PKPNU ini bertujuan bagaimana NU itu mempunyai kader yang militansi tidak hanya banyak kuantitas pesertanya. Tapi bagaimana yang namanya jam’iyah itu harus mempunyai kader yang militan untuk menggerakkan masyarakat yang ada di pelosok. Karena kegiatan ini dilaksanakan di semua MWCNU di Indonesia.

“Untuk PCNU Kota Kraksaan, saat ini PKPNU sudah angkatan ke-IV. Nanti untuk angkatan ke-V, segmennya adalah Muslimat NU. Materi paling utama yang diberikan adalah ideologi Nahdlatul Ulama. Narasumbernya berasal dari PWNU Jawa Timur dan PBNU,” jelasnya.

Melalui kegiatan ini Fauzan mengharapkan yang struktural bisa lebih memantapkan langkahnya untuk menggerakkan teman-temannya. Kemudian yang professional, bagaimana bisa mengajak kepada temannya yang lain, dosen terutama yang tidak masuk di dalam struktural NU agar bisa lebih memantapkan diri.

“Hal ini penting, karena kita melihat mahasiswa terutama yang ada di kota-kota besar, terlebih juga Kabupaten Probolinggo sudah terkontaminasi oleh doktrin-doktrin yang tidak sesuai dengan Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) an-Nahdliyah,” pungkasnya. (mel/nis).