Ini Pesan Wamen Agama Kepada Para Assesor Baru

Reporter : Alip Nuryanto

Editor: Sukiswati

 

Yogyakarta, Kabarpas.com – Wakil Menteri Agama RI, Zainut Tauhid Saadi mengatakan, upaya menciptakan budaya mutu pendidikan adalah tugas dan komitmen bersama. Hal ini sebagaimana tercermin dalam Renstra Pendis 2020-2024, dimana mutu pendidikan menjadi prioritas utama.

“Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa sesuai dengan amanat Undang-Undang Pendidikan, salah satu alat ukur untuk melihat kualitas pendidikan kita adalah dengan melihat capain akreditasinya. Baik akreditasi Lembaga ataupun Program Studi di suatu Perguruan Tinggi. Untuk itu saya sangat menyambut baik dengan adanya pelatihan Assesor Baru dan Pengembangan Keagamaan ini, karena hal ini merupakan ikhtiyar dalam rangka investasi sumber daya manusia (SDM) untuk terus menerus menjaga dan menciptakan budaya mutu (Continuous Quality Improvement),” terangnya pada acara pelatihan Assesor di Yogyakarta.

Pada tahun 2019 ini ada 51 Assesor baru yang ikut pelatihan setelah lulus dalam recruitment Assesor dan ada 49 Refreshment atau Assesor pengembangan, yang ikut dalam pelatihan ini.

Pihaknya berharap kerjasama dengan BAN PT dalam melakukan pelatihan Asesor baru dan pengembangan harus terus ditingkatkan pada tahun yang akan datang disertai dengan update materi terkini terkait tantangan dan realitas pendidikan tinggi dewasa ini yang sering disebut era Revolusi Industri 4.0 atau Internet of Things.

Menjadi assessor, tidak saja merupakan keinginan sebagai dosen, akan tetapi merupakan kebutuhan lembaga.

“Pada tahun ini saja berdasarkan data yang kita dapatkan dari BAN PT ada sebanyak 790 Program Studi yang akan berakhir masa akreditasinya pada tahun 2020. Sementara itu kapasitas Assesor yang dimiliki berdasarkan data BAN PT tahun (2018) ada sekitar 1225 Asesor Aktif dengan 6 sampai 10 penugasan setiap tahunnya dengan total penugasan 7667 setiap tahunnya. Bisa dibayangkan gap volume kebutuhan Assesor dengan permintaan pengajuan Akreditasi di Perguruan Tinggi yang sangat tinggi dimana pada tahun 2019 ini saja ada 4440 usulan Akreditasi,”terangnya.

Dia menjelaskan, ini memang problem nasional karena disamping SDM Assesor yang mesti terus ditambah jumlah dan kualitasnya, pada satu sisi keterbatasan penganggaran (budgeting) untuk akreditasi ini menjadi isu yang sangat penting.

Menurut informasi dari BAN PT juga, kebutuhan biaya akreditasi untuk 1200 APS dan 300 APT dibawah Kementerian Agama RI untuk tahun Anggaran 2020 sekitar Rp 45 Milyar jumlah yang tidak sedikit untuk dialokasikan.

Ia juga menambahkan, pada saat ini adalah memaksimalkan ilmu yang telah diperoleh untuk menjadi Assesor yang handal dan professional.” Semoga pilihan menjadi Assesor merupakan passion Anda semua dengan niat untuk memajukan Pendidikan Tinggi kita karena saat ini dan yang akan datang tantangannya semakin berat. Sekali lagi saya berharap semoga kerjasama sinergi dengan BAN PT dalam rangka menciptakan budaya mutu ini untuk terus dijaga dan dikembangkan,”paparnya.

“Bahkan bagi saya seandainya akreditasi itu tidak wajib atau diharuskan oleh Undang-undang, maka budaya mutu- akademik itu tetap ada dan menjadi tradisi di Perguruan Tinggi,” tambahya.

Pihaknya berpesan kepada Assesor baru dan Refreshment agar menjaga integritas (code of conduct) sebagai Assesor Perguruan Tinggi, khususnya di bidang Keagamaan karena di tangan anda jugalah nantinya objektifitas dan penilaian sebuah perguruan Tinggi dilakukan secara jujur dan benar. (lip/kis).