Gus Muwafiq: Ber-Islam di Nusantara Harus Siap Terima Perbedaan

Reporter : Alip Nuryanto

Editor : Titin Sukmawati

 

Malang, Kabarpas.com – KH. Ahmad Muwafiq yang lebih krab disapa Gus Muwafiq dari Jogjakarta, menyebut bahwa ber-Islam di Nusantara harus siap menerima perbedaan. Pernyataan itu disampaikan Gus Muwafiq saat memberikan siraman rohani kepada ribuan mahasiswa, dalam ajang Pekan Ilmiah Olahraga Seni dan Riset (PIONIR) IX 2019, yang digelar di UIN Malang.

“Ber-Islam di Nusantara harus siap menerima perbedaan. Tidak hanya perbedaan agama yang merupakan sunnatullah. Namun, juga perbedaan politik,” tegas Gus Muwafiq.

Menurutnya, perbedaan adalah anugerah dari Tuhan dan seharusnya bisa mengambil hikmah atasnya termasuk perbedaan politik pada Pilpres yang lalu.

Saat ini ada orang yang tidak suka Pak Jokowi dan Pak Prabowo Subianto akur dan damai, mereka menginginkan terus berkonflik, layaknya kelompok khawarij pada peristiwa perang antara Ali dan Muawiyah pasca arbitrase (tahkim),” tutur Gus Muwafiq.

Gus Muwafiq mensinyalir munculnya neo khawarij di Indonesia pasca Pilpres.

“Pengikut Muawiyah Bin Abi Sufyan dan Sahabat Ali Bin Abi Tholib telah sepakat untuk damai, namun ada pengikut yang tidak puas dengan kedamaian yang akhirnya berujung munculnya Khowarij,” cetus arek Jawa Timur ini.

Tak hanya itu, Gus Muwafiq juga  menguraikan kehebatan dan keunggulan bangsa Indonesia dan bagaimana Islam menjadi tata hidup dan kehidupan yang tidak kalah dengan bangsa-bangsa lain di dunia.

“Negara-negara yang dekat dengan turunnya Islam dan disitu ada para Nabi, sampai sekarang masih dilanda banyak pertikaian dan perang. Sedangkan Indonesia yang berjuta suku, bahasa, dan golongan hidup dengan persatuan, damai dan saling tolong menolong,” ungkap alumnus UIN Sunan Kalijaga ini, saat membakar semangat kebangsaan dan ke-Indonesiaan ribuan mahasiswa di kampus UIN Malang tersebut.

Tak hanya itu, mantan Demonstran ’98 ini mengajak generasi muda Islam dari kalangan PTKIN ini untuk terus memperjuangkan Islam, tidak hanya sebagai agama tetapi juga Islam sebagai gerakan perubahan.

“Kalau ada ungkapan al Islamu Yu’la wala Yu’la alaih, lantas apakah sekarang Islam sudah lebih tinggi dengan bangsa dan peradaban agama lain?,” tanya Gus Muwafiq kepada para mahasiswa. (lip/tin).