Abah dan NU

Oleh : Dr. Moch Syarif Hidayatullah, Ketua Umum Pimpinan Pusat ADDAI (Asosiasi Dai-Daiyah Indonesia) dan Dewan Penasehat Yayasan Raudhatul Mustariyah Pasuruan

 

KABARPAS.COM – ABAH saya aktivis NU dari bawah. Mulai dari pengurus ranting hingga cabang. Terakhir jabatannya di Pengurus Cabang NU Kota Pasuruan adalah Katib Syuriah.

Ketika NU mendirikan Rabithah Maahidul Islamiyyah (RMI), abah saya ditunjuk sebagai Ketua RMI pertama Kota Pasuruan.

Saya melihat abah saya sangat aktif dalam berbagai kegiatan NU, apa pun itu. Ketika PKB dibentuk, abah saya juga aktif menyosialisasikan ke masyarakat.

Ketika ada isu Ninja di lingkungan kiai-kiai NU, abah saya juga terlibat untuk memimpin inisiatif masyarakat dalam melindungi para kiai yang menjadi target.

Ketika ada kemarahan warga NU akibat Gus Dur dilengserkan, abah saya ikut aktif meredam amarah Nahdliyin yang saat itu salah mengalamatkan kemarahannya.

Sebagai aktivis NU yang aktif, saya sering diajak oleh abah saya untuk Turba (turun ke bawah) ke masjid-masjid, ke mushalla, dan ke langgar-langgar. Meski sampai larut malam, dan saat itu saya masih di sekolah dasar.

Bahkan saat saya sudah pesantren di Lasem dan kuliah di Jakarta, saya tetap diajak Turba tiap kali pulang ke Pasuruan. Sepertinya begitulah cara beliau mengajarkan saya bermasyarakat dan berorganisasi.

Meski aktivis NU, menurut saya, abah saya berpikiran terbuka. Semua anaknya diharuskan sekolah dan tidak hanya mondok saja.

Karenanya, saya mondoknya di Lasem yang memungkinkan saya tidak hanya mondok, tapi juga bisa sekolah. Saya dipondokkan di Pondok Pesantren An-Nur Lasem, yang pendirinya adalah salah satu pendiri NU, tapi putra-putrinya banyak yang menjadi aktivis Masyumi. Dari pesantren ini saya banyak dikenalkan dengan pemikiran tokoh-tokoh non-NU, jejak pemikiran, dan literasi keilmuan.

Saat itu belum banyak tokoh, aktivis, dan NU di Pasuruan yang berpikiran begitu. Kalau pun ada, sebagian sembunyi-sembunyi menyekolahkan anaknya, apalagi sampai kuliah. Dan, saya juga beruntung diizinkan bisa kuliah di Jakarta. Padahal, saya kuliah di Jakarta ini karena saya kagum dengan kehebatan Cak Nur dari buku-bukunya yang saya baca.

Tidak hanya soal sekolah dan pesantren, bahkan abah saya tak pernah membatasi bacaan saya. Ketika saya di awal-awal kuliah menyukai buku-buku Cak Nur, Cak Nun, Gus Dur, dan Amien Rais, abah saya tak pernah melarang.

Bahkan, ketika ada salah satu kerabat saya menangis saat tahu saya suka baca buku Amien Rais dan Cak Nur (karena dianggap bukan NU), abah saya justru membela saya. Begitulah cara abah saya menyemangati saya untuk terus membuka cakrawala berpikir agar tak jadi katak dalam tempurung, katanya

Sekadar mengingatkan, saat itu NU bukan seperti sekarang yang mudah akses kemana-mana, termasuk ke pusat ekonomi dan pusat kekuasaan. NU saat itu cenderung terpinggirkan dan Gus Dur saat itu masih dianggap musuh kekuasaan.

Maka dalam situasi seperti itu, sebagai aktivis NU, banyak sekali keperluan organisasi dibiayai sendiri. Beberapa kali menjadi peserta Muktamar NU mewakili PCNU Pasuruan, abah hadir dengan biaya dari kantong sendiri. Mungkin berbeda dengan saat ini. Hal yang sama saya lihat saat abah menjadi Ketua RMI Kota Pasuruan.

Dalam perjalanan sebagai aktivis NU, banyak sekali tamu yang datang ke rumah. Tak jarang saya diajak menemani abah. Termasuk saya juga diajak bertamu ke sesama aktivis dan tokoh NU.

Salah satu yang saya sering diajak bertemu dan bertamu adalah K.H. Miftachul Akhyar, yang saat ini adalah Rais Syuriah PBNU. Beliau beberapa kali main ke rumah kami dan kami juga diajak abah ke rumah beliau.

Beliau adalah teman karib abah saya saat di Pesantren Sidogiri dan saat sama-sama nyantri di Lasem, meskipun beda pesantren. Saking akrabnya kedua beliau ini, salah satu adik saya dipesantrenkan di Pondok Pesantren Miftahus Sunnah, milik Kiai Miftachul Akhyar.
=====
Di haul abah saya, KH Madiyani Iskandar yang ke-17, saya persembahkan tulisan ini, sebagai pengingat untuk kami sekeluarga, dan siapa tahu ada manfaatnya. (***).