Langgar Perda, Gerakan Anti Maksiat Somasi Tempat Hiburan Malam di Banyuwangi

Reporter : Pendik

Editor : Titin Sukmawati

 

Banyuwangi, Kabarpas.com – Seiring dengan pesatnya perkembangan dan kemajuan Kabupaten Banyuwangi di tingkat Nasional hingga International, rupaya tak diimbangi dengan penertiban tempat hiburan malam bandel di kabupaten yang terletak di ujung timur pulau jawa ini.

Dari hasil investigasi yang dilakukan oleh Gerakan Anti maksiat atau populer dikenal GAM di lapangan. Terdapat temuan pelanggaran Perda Nomor 10 Tahun 2014 tentang Penyelenggaran Tempat Hiburan Malam yang dilakukan oleh beberapa tempat hiburan malam di wilayah Kota Banyuwangi hingga wilayah Banyuwangi selatan.

Dalam Perda tersebut, yaitu di pasal 10 ayat 3 huruf c disebut bahwa tempat hiburan malam atau karaoke keluarga hanya boleh buka mulai pukul 09.00 – 23.00 WIB, namun yang terjadi di lapangan ternyata buka melebihi jam tersebut. Yakni, hingga pukul 01:00 bahkan jam 03:00 WIB.

Saat kembali dikonfiramasi di kantor pusat GAM, ketua Gerakan Anti Maksiat Wahyu Widodo atau populer dengan sebutan Raja Sengon mengatakan, pihaknya menemukan fakta di lapangan. Untuk itu, pihaknya akan langsung melayangkan surat somasi terhadap tempat hiburan bandel di Banyuwangi yang telah mengabaikan Perda.

“Surat somasi ini akan kita layangkan kepada tempat hiburan malam yang melanggar perda, Satpol PP, Dinas Pariwisata Kabupaten Banyuwangi, Bupati Banyuwangi, dan Ketua DPRD Kabupaten Banyuwangi,” tegas Raja Sengon kepada wartawan kabarpas.com biro Banyuwangi.

Raja Sengon menambahakan, jika surat somasi GAM tak ditanggapi. Maka pihanya bersama seluruh anggota GAM akan melakukan razia besar-besaran.

“Kalau nanti Pemerintah tidak sanggup menertibkan hingga mencabut ijin tempat hiburan malam pelanggar perda. Maka kami bersama seluruh anggota yang ada, hingga yang baru mendaftar akan membantu untuk menertibkan tempat hiburan malam tersebut,” tambahnya.

Hingga saat ini, beberapa nama tempat hiburan malam di Banyuwangi sudah ditemukan fakta-fakta pelanggaran perda. Namun, sampai sejauh ini masih belum dipublis ke media oleh Gerakan Antik Maksiat yang merupakan gerakan paling getol dalam membrangus kemaksiatan di kota Gandrung ini. (pen/tin).