Melihat Tradisi Sorban Keliling, Simbol Kebersamaan dan Kerukunan Beragama Suku Tengger Bromo

Warga suku Tengger Bromo memiliki cara tersendiri untuk mengisi kegiatan yang positif di bulan suci Ramadan. Bahkan, kegiatan yang sudah berlangsung sejak lama itu kini sudah menjadi tradisi bagi warga setempat. Mereka menyebut kegiatan tersebut  tradisi sorban berjalan atau keliling. Seperti apakah tradisi sorban keliling itu? Berikut laporan wartawan Kabarpas.com.

————————————————————-

Laporan : Moch Wildanov, Probolinggo

————————————————————-

KABARPAS.COM – TRADISI sorban berjalan atau keliling, merupakan tradisi Muslim tengger lereng Gunung Bromo atau tepatnya di Desa Wonokerto, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo.

Bertempat di Masjid Al Hidayah desa setempat. Ratusan muslim Tengger menggelar tradisi yang digelar setahun sekali di saat bulan ramadan, dan bertepatan memperigati hari Nuzulul Quran.

Sesuai namanya sorban keliling, sorban sakral warisan leluhur di arak keliling di kerumunan muslim di dalam masjid, dan muslim yang terlewati sorban tersebut memberi sumbangan uang seiklasnya.

Nantinya uang hasil sumbangan tersebut akan diberikan kepada fakir miskin, yatim piatu. Menariknya, sumbangan ini tidak memandang itu muslim atau bukan.

Prosesi sorban berjalan biasanya di buka dengan siraman rohani, dilanjutkan pembacaan sholawat dan ditutup dengan buka bersama, dan salat taraweh.

Kepada wartawan kabarpas.com, Muktar Ismail, tokoh Muslim Suku tengger menjelaskan, tradisi ini memiliki pesan moral tersendiri, di antaranya yaitu memupuk rasa kebersamaan dan saling membantu antar sesama manusia.

“Sesuai dengan pesan yang ada dalam Al Quran, yang intinya menuju rahmatan Lil Alamin, untuk seluruh isi dunia, baik manusia, makhluk kasat mata maupun makhluk tak kasat mata,” ujarnya.

“Bertepatan dengan momen Nuzulul Quran diharapkan segala perbedaan yang ada di masyarakat tengger dapat terus bersatu dan damai,” tutupnya. (***/Titin Sukmawati).