Sampoerna Perkuat Komitmen Menjaga Keberlanjutan Sumber Daya Air di Pasuruan

Reporter : Muhammad Umar

Editor : Titin Sukmawati

 

Pasuruan, Kabarpas.com  – PT HM Sampoerna Tbk. (Sampoerna), salah satu perusahaan tembakau terkemuka di Indonesia yang beroperasi di Fasilitas Produksi Sampoerna Sukorejo,
Pasuruan, Jawa Timur, menyelenggarakan Workshop dan Diskusi Kelompok Terarah (FGD) dengan tajuk “Keberlanjutan Sumber Daya Air Gunung Arjuno” bekerja sama dengan Yayasan Kaliandra Sejati.

Tujuan acara ini adalah kolaborasi multipihak dalam menjaga sumber daya air serta sosialisasi sertifikasi
AWS (Alliance for Water Stewardship).

Head Environment, Health, and Safety (EHS) Sampoerna, Imron Hamzah, mengatakan, perlu ada kerja
sama dan keterlibatan dari berbagai pihak dalam membangun kesadaran akan pentingnya sumber
daya air, termasuk di sekitar Gunung Arjuno.

“Sunber Daya Air Gunug Arjuno dipilih sebagai tema workshop mengingat gugus pegunungan ini memiliki arti penting bagi sekitar 2 juta warga Kabupaten dan Kota Pasuruan sebagai daerah tangkapan air dan hulu sungai Brantas (sungai terpanjang di Jawa Timur) yang mampu memenuhi
kebutuhan air bagi 43% masyarakat Jawa Timur, menurut data Balai Besar Wilayah Sungai Brantas,” terangnya.

Workshop ini menghadirkan Kepala Bidang Tata Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup Pemerintah
Kabupaten Pasuruan Trimahendra Mulyadi, peneliti dari Universitas Brawijaya, serta Yayasan
Kaliandra Sejati sebagai pembicara. Diskusi dipandu oleh Hidayat, Sekretaris Persatuan Wartawan
Indonesia (PWI) Kabupaten Pasuruan, serta dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan seperti Forum CSR kabupaten Pasuruan, Forum DAS Kabupaten Pasuruan dan masyarakat sekitar.

“Pemerintah Kabupaten Pasuruan mengapresiasi Sampoerna karena telah menginspirasi dan menjadi
penggerak kegiatan sadar lingkungan dan sumber daya air Gunung Arjuna, khususnya yang dilakukan
melalui workshop ini,” ujar Trimahendra.

Dalam 20 tahun terakhir, deforestasi dan degradasi lahan telah terjadi di lereng Gunung Arjuna. Hal
ini mengakibatkan ketersediaan sumber air menjadi terbatas.

“Menurut data The Water Risk Filter,
keadaan sumber air di Pasuruan sudah mengalami resiko yang sangat tinggi untuk kategori “Baseline
Water Stress” yang menunjukkan rasio total penarikan air tahunan dengan total pasokan terbarukan tahunan yang tersedia untuk penggunaan konsumtif di hulu,” tandasnya.

Sebagai dampaknya, keberlanjutan
sumber daya air terancam karena adanya persaingan yang sangat tinggi diantara pengguna air, sementara pasokan terbarukannya sangat rendah. Oleh karena itu, pada musim kemarau, 38 desa di sepuluh Kecamatan di Kabupaten Pasuruan mengalami kekeringan dan kekurangan air bersih.

“Melalui program berkelanjutan yang fokus di lingkungan dan kolaborasi multipihak, Sampoerna berkomitmen untuk senantiasa menjaga keberlanjutan sumber daya air yang digunakan dalam seluruh kegiatan operasional perusahaan. Saat ini, Fasilitas Produksi Sampoerna di Sukorejo, Pasuruan, sedang menjalani proses sertifikasi AWS,” ujar Imron.

AWS merupakan kolaborasi global yang terdiri dari pihak swasta, LSM, dan sektor publik yang secara aktif berkontribusi pada keberlanjutan sumber daya air melalui implementasi kerangka kerja penggunaan air yang berkelanjutan.

“Di skala global, induk perusahaan Sampoerna, Philip Morris
International (PMI) telah memperoleh sertifikasi bagi pabrik di Brazil dan berkomitmen meraih
sertifikasi setidaknya bagi sepuluh fasilitas lainnya. Jika berjalan lancar, Fasilitas Produksi Sampoerna
di Sukorejo adalah fasilitas anak perusahaan PMI yang pertama disertifikasi di Asia,” tandasnya.

Program sertifikasi AWS yang sedang ditempuh Sampoerna dengan nomor registrasi AWS-010-INT￾CAB-00-07-00017-0091 menjunjung prinsip kolaborasi multipihak untuk menjaga dan merawat keberlangsungan air, khususnya di daerah Gunung Arjuno. Dalam standar sertifikasi AWS, terdapat
tiga fokus program yang harus dijalankan, yaitu efisiensi penggunaan air di lokasi pabrik, menjaga dan
memelihara daerah tangkapan air, serta dukungan bersama para pemangku kepentingan terkait.

Workshop ini merupakan satu kegiatan dari sejumlah upaya yang telah dilakukan Sampoerna dalam
aspek keberlanjutan lingkungan. Pada tahun 2009-2014, Sampoerna berkolaborasi dengan Yayasan
Kaliandra Sejati melaksanakan program pelestarian hutan dan mata air Gunung Arjuno.

“Program ini mengusung Konsep Hutan Asuh melalui penanaman 75.000 pohon di hutan lindung, penanaman
27.000 pohon bambu dan membuat 100 sumur resapan yang melibatkan ratusan warga sekitar,“ tegasnya.

“Masalah sumber daya air dan isu lingkungan lainnya perlu menjadi perhatian semua pihak, maka
kolaborasi multipihak dari masyarakat, pihak swasta, Pemerintah, dan akademisi adalah mutlak agar
solusi dapat secara efisien dirumuskan dan diimplementasikan,” tambah Imron. (umr/tin).