Tradisi Megengan, Sambut Bulan Suci Ramadan

Oleh: Memey Mega, Redaktur Pelaksana Kabarpas.com

 

(Kabarpas.com) – Megengan atau biasa dikenal dengan punggahan adalah salah satu tradisi masyarakat Jawa dalam menyambut bulan suci Ramadan. Tradisi ini sering pula disebut sebagai ritual mapag atau menjemput awal bulan puasa.

Megengan berasal dari kata megeng yang bahasa Indonesia-nya menahan, dan terkandung maksud menahan diri dari sekarang untuk menyambut datangnya bulan puasa.

Puasa dalam bahasa jawanya Poso, ‘ngeposne roso’ dengan maksud mengistirahatkan perasaan entah itu perasaan senang, marah, benci, atau apapun itu jenis perasaan, agar jangan sampai nantinya ketika menjalani puasa hanya menikmati menahan lapar dan dahaga saja padahal yang paling penting adalah menahan perasaan atau hawa nafsunya.

Ada tiga kegiatan yang biasa dilaksanakan pada tradisi megengan, yaitu mandi keramas yang bermaksud untuk mensucikan diri dalam menghadapi datangnya bulan suci ramadan, setelah itu berziarah ke makam leluhur, yang dikandung maksud untuk mendoakan, memohonkan ampun kepada Tuhan Yang Maha Esa atas dosa mereka atau mengingatkan pada diri sendiri bahwa lewat merekalah kita ada di dunia ini, kemudian berdoa bersama dengan membagikan kue apem yang merupakan ungkapan dari rasa permintaan maaf secara tidak langsung kepada para tetangga kita.

Apem asal katanya adalah afwum yang artinya meminta maaf, yang maksudnya untuk saling memaafkan dan mohon ampunan kepada Tuhan SWT.

Setelah melaksanakan ritual megengan maka biasanya melakukan Punggahan. Punggahan berasal dari kata Unggah artinya naik, yang maksudnya berdoa dan bersyukur mulai naik masuk ke bulan suci Ramadan. Maka Punggahan merupakan ungkapan rasa syukur dan bahagia masyarakat jawa dalam menyambut datangnya bulan Ramadan.

Tradisi ini dipekenalkan pada saat penyebaran agama Islam di jawa (terutama jawa timur dan tengah bagian selatan) oleh Sunan Kalijaga. Seperti yang kita ketahui beliau berdakwah pada masyarakat jawa pedalaman dengan metode alkuturasi budaya. Kanjeng Sunan mengunakan metode pendekatan psikologi budaya kepada masyarakat jawa pedalaman sehingga menghapus sekat-sekat / pembatas yang dapat menganggu syiar Islam.

Masyarakat Jawa memiliki ikatan tradisi yang sangat kuat dan unggah-ungguh mereka sangat dijaga terhadap orang yang lebih tua dan pemuka masyarakat terutama agama.

Prinsip utama yang dianut Kanjeng Sunan dalam mengkulturasi budaya jawa dengan muatan nilai-nilai keislaman adalah sabda Rasul Muhammad SAW bahwa agama itu mudah, maka mudahkanlah jangan dipersulit (dibikin sulit) dalam pelaksanaannya.

Kanjeng Sunan ingin mengajarkan pada masyarakat tentang nilai-nilai Islam termasuk melaksanakan sabda Rasulullah Muhammad SAW lewat budaya (adat) yang ada di tengah masyarakat. (***).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *