Pro-Kontra Larangan Game PUBG, Ini Kata MUI dan Gamers Sidoarjo

Reporter : Januar Fahmi

Editor : Titin Sukmawati

 

Sidoarjo, Kabarpas.com – Game PlayerUnknown’s Battlegrounds (PUBG) kini tengah menjadi sorotan pasca terjadinya penembakan brutal oleh teroris di dua masjid Selandia Baru. Game berbasis online ini disebut-sebut menjadi inspirasi pelaku teror dalam melancarkan aksinya.

Salah satu Gamers. Dicky Oktav (23) menyesalkan apabila game PUBG tersebut ditutup ataupun dilarang.

“Sayang sekali jika ada larangan seperti itu karena PUBG itu game yang menjadi hobi bukan makanan,” kata Dicky kepada wartawan Kabarpas.com biro Sidoarjo.

Menurut Dicky, sebenarnya bukan gamenya yang salah melainkan kepribadian masing-masing para gamers.

“Seharusnya para gamers menyikapi secara dewasa permainan tersebut, sehingga tidak menyalahgunakannya atau menjadi inspirasi untuk berbuat hal-hal negatif seperti teroris yang menembaki jemaah di Masjid Selandia Baru, beberapa waktu lalu,” terangnya.

Dia berharap MUI tidak gegabah mengeluarkan fatwa, dikhawatirkan masyarakat akan mempertanyakan tentang hal yang dilarang dan menimbulkan polemik baru.

Menanggapi hal itu, Ketua MUI Sidoarjo KH Salim Imron mengatakan bahwa sesuatu hal yang bisa dilarang, jika memiliki dampak langsung bagi ketenangan dan sangat menganggu. Jika setelah dikaji memang banyak negatifnya.

“Maka para gamers juga diharapkan akan mentaati regulasi yang ada,” ujar KH Salim Imron saat dihubungi via sambungan seluler.

Diakuinya, secara pribadi ia pun sering mendengar banyak dampak negatif yang ditimbulkan oleh game PUBG seperti anak bermain kebablasan sampai lupa waktu, jarang belajar hingga ditakutkan game tersebut dipraktikkan langsung oleh anak-anak pencandu game PUBG.

“Dampak nyata dari game itu jelas, belajar jadi terganggu bahkan sampai lupa belajar karena asik bermain,” tandasnya. (jan/tin).