BKP Kementan Pantau Ketersediaan Jagung di Probolinggo

Reporter : Amelia Putri

Editor : Anis Natasya

 

Probolinggo, Kabarpas.com – Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementerian Pertanian (Kementan) RI Agung Hendriadi, melakukan kunjungan ke Kabupaten Probolinggo dalam rangka panen jagung bersama dan memantau ketersediaan jagung di Gapoktan Sido Rukun, Desa Alas Tengah Kecamatan Paiton, kabupaten setempat.

Begitu sampai di Desa Alas Tengah Kecamatan Paiton, Agung Hendriadi dan rombongan dari Kementan RI langsung melakukan panen jagung bersama di lahan milik anggota Gapoktan Sido Rukun.

Mereka kemudian melihat-lihat kondisi hamparan tanaman jagung yang ada di lokasi tersebut.

Dalam sambutanya, Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementan RI Agung Hendriadi mengharapkan agar pada bulan Januari 2019 ini panen jagung petani bisa mencapai 100 ribu ton. Kalau tercapai, maka capaian tersebut sama dengan jagung yang diimpor tahun 2018 sehingga memenuhi kebutuhan pakan ternak.

“Tahun 2018 kemarin, produksi jagung di Indonesia, khususnya Jawa Timur mencapai 1,3 juta ton. Mudah-mudahan tahun ini produksinya bisa mencapai 1,2 juta ton. Yang menjadi kendala bukan karena kekurangan produksinya, tetapi harganya yang jatuh,” katanya.

Lebih lanjut Agung menghimbau kepada seluruh petani untuk bersama-sama menjaga supaya harga jual jagung wajar dan stabil, tidak terlalu rendah dan tidak terlalu tinggi. Sebab jika terlalu tinggi maka peternak ayam petelur akan merugi. Dengan demikian harga telur akan mahal dan membingungkan peternak dalam menjual produksi telur ayamnya.

“Marilah sama-sama menjaga agar harga jagung di tingkat petani dan peternak seimbang. Sehingga harga telur tidak terlalu mahal. Pemerintah sudah menetapkan HET jagung sebesar Rp 3.150 per kg. Jika ada yang menjual dengan harga Rp 4.000 per kg masih wajar. Dengan begitu maka harga telur di tingkat produsen mencapai Rp 18 ribu per kg dan konsumen Rp 24 ribu per kg. Kalau bisa harga ini terus dijaga pada waktu panen raya pada bulan Maret 2019 mendatang,” ajaknya.

Agung mengharapkan agar pada panen raya Maret mendatang menjadi awal bangkitnya kembai ketersediaan jagung di Indonesia. Memang saat bulan Oktober hingga Pebruari harga jagung tinggi. Tetapi pada waktu panen raya bulan Maret harganya turun drastis. “Mudah-mudahan harga jual jagung ini tidak terlalu tinggi untuk memenuhi kebutuhan pakan peternak ayam petelur,” terangnya.

Sementara Kepala DKPP Kabupaten Probolinggo Ahmad Hasyim Ashari mengungkapkan pemantauan ketersedian jagung ini merupakan kebijakan dari pemerintah terkait produksi jagung di Jawa Timur.

Pihaknya bersyukur karena dari pertemuan tersebut pemerintah pusat mengakui bahwa di Kabupaten Probolinggo masih cukup untuk mensupplay kebutuhan stok pangan jagung di Jawa Timur.

“Dalam rangka menunjang harga jagung, alat pengeringan jagung memang sangat dibutuhkan. Untuk mengurangi biaya produksi tani, alat pemipil jagung sangat sangat diperlukan. Harapannya harga jagung stabil sehingga harga pakan ternak stabil. Sehingga pada akhirnya harga telur ayam ikut stabil. Serta bisa terus surplus jagung untuk menunjang ketahanan jagung di nasional,” katanya.

Menurut Hasyim, rata-rata produksi jagung setiap tahunnya di Kabupaten Probolinggo berkisar antara 200 ribu hingga 250 ribu ton. Sementara yang dikonsumso oleh masyarakat sebesar 4.000 hingga 5000 ton. Sehingga masih terdapat surplus yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan jagung nasional.

“Saat ini areal tanaman jagung di Kabupaten Probolinggo turun dibandingkan dengan sebelumnya. Oleh karenanya diharapkan kepada Gapoktan tolong manfaatkan lahan yang ada jangan sampai lahan itu tidak tertanami. Karena sudah ada bantuan berupa sumur bor untuk mengatasi kekurangan air,” pungkasnya. (mel/nis).