Kalau Konsumen Rem Konsumsi, Pemerintah Akan Rem Ekspansi

Pengirim : Yuyan Anggrainy, Mahasiswi UMM

 

 

KABARPAS.COM – PELAKU usaha ritel akan menahan ekspansi bisnisnya apabila daya beli konsumen turun, kekhawatiran daya beli melemah menyusul kenaikan suku bunga acuan bank Indonesia yang akan memicu kenaikan bunga fasilitas pinjaman dari perbankan.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy N Mandey memproyeksi sector perbankan segera menyesuaikan bunga mereka dalam satu kuartal hingga satu semester ke depan.

“Kalau konsumen mengerem konsumsi pengusaha mengerem ekspansi,” ujarnya.

Roy tidak khawatir sendirian. Ketua Asosiasi Minuman Ringan (Asrim) Triyono Prijosoesilo juga merasa cemas jika daya beli kembali turun. Namun, ia lebih mengeluhkan depresiasi rupiah yang masih berkelanjutan ketimbang kenaikan suku bunga acuan. Toh, bunga acuan dirasa belum berpengaruh kepada industri dalam waktu dekat.

Meskipun, momentum natal dan tahun baru 2019 sudah di depan mata. Asal tahu saja, momentum di akhir tahun tersebut biasanya digunakan pelaku usaha untuk menggejot penjuakan. Jika beli terus lesu akibat depresiasi rupiah, dapat dipastikan pelaku usaha akan kehilangan momentum itu.

“Kekhwatiran pasti ada, kalau pelemahan rupiah terus terjadi, maka tekanan atas cost (biaya) akan terus naik,” terang Triyono.

Berbeda dengan Roy yang cendrung menahan ekspansi, Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman (GAPMMI) Adhi S.Lukman mengungkapkan, masih menunggu dan mengamati (wait and see) perkembangan dari industri dan kebijakan pemerintah sebelum memutuskan ekspansi. Dengan bergulirnya kebijakan moneter, ia melanjutkan, pemerintah terus member kompensasi kepada pelaku usaha. Salah satunya pembenahan regulasi perizinan impor yang masih berbelit.

Langkah itu dinilai efektif memberikan efisiensi biaya dan waktu bagi pelaku usaha.

“Karena kalau tidak (dilakukan efeiensi), dunia usaha terbebani, mau tidak mau nanti daya saingmakin turun dan ujungnya deficit makin bertambah ,” katanya.

Saat survei dilakukan pada kuartal terakhir tahun lalu itu, sebanyak 53% konsumen berpendapat bahwa Indonesia sedang mengalami krisis ekonomi. Persentasenya meningkat dibandingkan kuartal III 2017, yaitu sebanyak 47% konsumen yang menjadi responden survei tersebut percaya akan terjadi krisis.  (***).

Silakan kirim info Anda