Warga Tengger Bromo Gelar Upacara Unan-unan untuk Tolak Balak

Reporter : Moch Wildanov

Editor : Titin Sukmawati

 

Probolinggo, Kabarpas.com – Pulun adalah salah satu rangkaian dari prosesi Unan-unan, yang selalu digelar oleh suku tengger lereng Gunung Bromo, di Desa Wonokerso, Kecamatan Sumber, Kabupaten probolinggo.

Pulun pada dasarnya adalah pembacaan mantra atau doa keselamatan untuk mensinergikan antara Buwono Agung dan Buwono Alit.

Dan bila Buwono Agung dan Alit atau Sang Hyang Widhi dan ciptaanya ini bersinergi maka keselamatan kemakmuran akan senantiasa tercipta.

”Dalam pembacaan mantra atau doa ini, Romo Dukun selaku pembaca mantra keselamatan harus dipapah atau dipengangi beberapa tokoh agama dan masyarakat desa setempat,” ujar Sudir Supriyadi, tokoh pemuda tengger Desa Wonokerso.

“Besarnya energi dalam pembacaan mantra ini, Romo dukun bisa larut , menangis , bahkan bisa-bisa tidak sadarkan diri saat prosesi pulun ini . Pulun yang dibacakan dalam upacara Unan-unan ini terlebih dahulu harus lulus di saat penilaian dukun di ritual Yadnya Kasada,” tambahnya.

Selesai menggelar prosesi pulun, maka sesaji atau uborampe yang sudah di bacakan mantra tersebut dibagikan kepada warga dan disimpan di rumahnya untuk keselamatan dan gangguan dari energi negatif.

Unan-unan sendiri merupakan ritual 5 tahunan warga suku tengger bertujuan untuk menetapkap atau menentukan kalender tengger. Dan juga untuk keselamatan warga tengger untuk tolak balak atau terhindar dari sial.

Unan-unan yang biasanya belangsung selama dua hari. Yang prosesinya adalah Mayu Desa, pembacaan Pulun, dan kemudian ditutup makan bersama dan hiburan yang biasanya berupa tayub. (wil/tin)