Filosofi Cocogan Maulid

Oleh : Abdur Rozaq

 

KABARPAS.COM – “Semakin hari, peringatan maulid kok semakin hambar ya,” gumam Gus Hasyim, seakan bertanya pada dirinya sendiri. Ternyata diam-diam Wak Takrip mendengarnya.

“Lha ya mesti gus, lha wong saat serakalan kita lebih sibuk rebutan plembungan,” sergah Wak Takrip.
“Saya malah menganggap, peringatan maulid sebagai penghinaan sama kanjeng Nabi,” timpal Cak Murtado.
“Kok bisa cak? Hati-hati lho kalau ngomong,” Wak Takrip tak terima.
“Lha bukan penghinaan bagaimana, wong saat Nabi rawuh ketika serakalan, kita main HP? Yang baca Diba’ ndak kita pedulikan, sibuk mengintai daster, sandal, celana dalam atau plembungan yang digantung di langit-langit masjid.

Begitu mahallul qiyam dan Nabi hadir di tengah-tengah kita, kita malah pencolotan tak karuan. Ini kanjeng Nabi, lho. Apa kita berani ada Pak Camat datang pencolotan begitu?” seperti biasa, Cak Murtado sudah gemetar menahan emosi.
“Kita ini memang ndlurung alias kurang beradab ya cak?” kata Gus Hasyim. Ketiganya lantas tertunduk, menginsafi diri masing-masing.
“Ya semoga saja kebiasaan ndak genah itu bisa segera kita rubah,” harap Wak Takrip ahirnya.

“Maulid yang kita laksanakan memang tidak seperti orang tua kita dulu, Wak Takrip. Sampeyan kan masih ingat, dulu orang ngecat rumah itu pada bulan maulid begini karena kita akan kerawuhan tamu agung, Kanjeng Nabi Shallallahu alaihi wa sallam.

Dulu kita bikin jajan sendiri. Bikin nogosari, bikin bugis, tetel, godo dedhang dan sebagainya. Yang kita bawa ke masjid pun bukan hanya nasi, tapi juga jajan dan cocogan. Lha sekarang kan, selamatan kelahiran Nabi kita hanya membawa roti sama chiki-chikian?”

“Lho, memangnya ada pengaruhnya ta, gus?” heran Cak Murtado.
“Ya mesti, mas. Para sunan dulu, kalau bikin apa-apa pasti ada filosofinya. Ada rujukan dalil dan rujukan budayanya. Lha kita sekarang, ambil enaknya saja biar punya banyak waktu main HP dan nongkrong di warung wifi.”
“Lho, masa begitu, gus?” kejar Cak Murtado.

“Dulu kalau maulidan begini kan, kita bikin jajan sendiri agar bisa ater-ater sama orang tua, famili dan tetangga. Itu kan sesuai anjuran Nabi? Dan cocogan itu, kenapa dulu pakai cowek, pakai pisang, ada buah-buahan dan bendera kertasnya segala?”
“Kenapa, gus?”

“Cowek itu kan terbuat dari tanah? Para kanjeng sunan sebenarnya mengingatkan kita agar tidak lupa sangkan paraning dumadi. Kita ini dari tanah, dan akan kembali ke tanah. Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun, atau dalam bahasa Sanskrertanya hom pimpa alaium gambreng?”
“Kenapa juga pakai pisang? Pisang itu perlambangan kedua tangan yang kita tengadahkan ketika berdoa.

Kalau kita perhatikan, setangkup pisang kan mirip kedua tangan yang menengadah? Artinya, kita berharap maghfirah Allah sekaligus syafaat kanjeng Nabi.”

“Di atas pisang kita letakkan buah-buahan yang bijinya ada di dalam. Bukan buah-buahan yang bijinya di luar seperti jambu monyet atau buahan-buahan yang bisa langsung bisa dimakan tanpa mengupas kulit. Itu artinya, biji kehidupan alias hati kita, amal kita harus disembunyikan kepada selain Gusti Allah.”

“Lalu bendera-bendera kertas atau plastik itu apa maknanya?” kejar Cak Murtado.
“Berdera kertas atau plastik warna-warni yang memberi kesan semarak itu, selain lambang kegembiraan atas kelahiran kanjeng Nabi, juga ibarat ihsan yang menghiasan kehidupan kita.”

“Ini bukan ilmu utak atik matuk, kan gus?” selidik Wak Takrip.
“Ndak, wak. Saya dapatkan dari guru saya,”

“Cocogan kan mirip sajen, apa tidak bid’ah, tidak syirik?” tanya Cak Murtado kritis.
“Ah sampeyan apa ngajinya sama kiai Google atau ustadz Yahoo. Makanya apa-apa pasti dicurigai.

Meski mirip sajen, esensi atau tujuan utamanya kan sedekah dalam rangka merayakan hari kelahiran Nabi? Kalau semua yang tidak kita tahu dalilnya karena hanya nyantri sama internet atau buku terjemahan kita anggap bid’ah, ya ndak usah baca Qur’an karena mushaf itu bid’ah.” (***/Titin Sukmawati).

***Catatan: Cocogan adalah semacam gunungan kecil untuk kenduri maulid. Biasanya menggunakan cobek yang diatasnya disusun pisang, buahan-buahan dan bendera kecil dari kertas.