Meneladani Mbah Kiai Hamid, Sang “Anggota Legislatif” Langit

Oleh : Abdur Rozaq 

 

KABARPAS.COM – TAK seperti biasanya, warung-warung kopi di pasar Poncol ramai saat ini. Kalau biasanya para pedagang lebih banyak main catur daripada melayani pelanggan, kini semua nampak sibuk karena ramai pembeli. Hampir tak ada warung kopi yang sepi. Para pelanggan sampai antri. Banner bekas caleg, pilpres atau partai digelar di atas paving, bukan penghinaan, tapi karena pelanggan sudah meluber.

Pedagang dadakan juga banyak menggelar dagangannya. Tidak seperti hari-hari biasa, mereka tidak dikejar-kejar pasukan penertib kota. Maka, pasar Poncol menjadi pasar rakyat meski tidak semeriah zaman mendiang pak Walikota yang dulu.

Pedagang-pedagang kecil yang menyerahkan nasibnya secara langsung kepada Gusti Allah itu, yang tak merepotkan pemerintah untuk menghidupi mereka baik dari APBD maupun APBN, yang tidak suka membolos kerja meski gajinya terus naik dan segenap kebutuhannya ditanggung pemerintah, alhamdulillah ramai pembeli.

Gus Hasyim dan para jamiyyah wedang kopi pelanggan warung Cak Suep, kompak nongkrong di warung kopi sebelum tawassulan di makam Mbah Abdul Hamid. Suasana semarak setahun sekali begini, membikin mereka semringah. Jika bisanya alun-alun sepi selain oleh suara peluit tukang parkir, teriakan tukang becak, genjrang-genjreng pengamen, kini ramai.

“Ini semua berkah Mbah Abdul Hamid,” gumam Gus Hasyim.
“Benar, gus,” timpal Wak Takrip yang necis pakai baju takwa baru, kopyah haji baru dan baunya wangi oleh minyak misik asli jalan Jawa .
“Lha ya, orang sebanyak ini, semuanya datang hanya dalam rangka tawassulan ke makam Mbah Abdul Hamid. Berapa ribu fatihah itu yang gotong para malaikat ke langit?” timpal Cak Murtado.
“Mbah Abdul Hamid itu memang anggota legislatif langit, cak.

Makanya banyak orang sowan. Sejatinya kita sowan bukan dalam rangka membawa oleh-oleh Yasin-tahlil, tapi malah kita yang minta diadvokasi agar doa kita lekas distempel malaikat dan dihaturkan kepada Gusti Allah,” ujar Gus Hasyim.
“Ah, masa doa kita perlu diadvokasi begitu, Gusti Allah kan tidak “jual mahal” dan Maha Pendengar doa?” protes Mas Bambang.
“Ya benar kalau Gusti Allah Maha Penerima doa. Tapi kualitas doa dan perilaku kita banyak yang tidak lolos quality control? Belum lagi uang togel, gaji buta, pemalsuan laporan proyek dan kegemaran kita chatting sama janda, menjadi hijab alias penghalang kita dengan Gusti Allah? Bukan Gusti Allah yang “jual mahal”, malah kita sendiri yang belum siap bermesra dengan-Nya. Makanya, untuk berdoa saja kita perlu diadvokasi dan distempel “orang dalam” agar tidak seperti lamaran CPNS tanpa lembar rekomendasi bapak kepala dinas anu,” balas Gus Hasyim.
“Ada dalinya?” kejar Mas Bambang yang suka sekali mengaji ilmu agama dari fatwa Mbah Kiai Googgle itu.
“Ada, mas. Bahkan di makam para wali, Gusti Allah menugaskan malaikat khusus untuk mengamini doa para peziarah. Apalagi para wali sendiri juga wira-wiri ke langit untuk melobi malaikat tukang sortir doa,” ulas Gus Hasyim.
“Kalau saya,…” tukas Cak Murtado. “Ndak usah dalil-dalilan kalau soal tawassulan.

Wong saat masih gesang saja Mbah Abdul Hamid lomannya begitu, apalagi kalau sudah wafat, eh pindah kediaman begini, pasti beliau lebih kasihan kepada kita. Kita kan anak yatim, orang-orang yang kita pilih saat pemilu dan sok baik mendekati pemilu begini, mana ada yang respek dengan nasib kita? Jangankan memberi modal usaha, tidak menggusur lapak dagangan kita saja sudah untung,” lanjutnya.

“Mbah Abdul Hamid itu anggota legislatif langit. Semua doa kita diusulkan agar disegerakan ACC-nya. Dan itu mudah saja karena beliau termasuk “orang dalam”, kekasih Gusti Allah,” timpal Gus Hasyim lalu menghabiskan kopinya dan segera berlalu menuju makam Mbah Abdul Hamid. (***).