KH Madiyani Iskandar, Ulama NU Asal Pasuruan yang Sederhana dan Bersahaja

Reporter : Muhammad Umar
Editor : Titin Sukmawati

Pasuruan, Kabarpas.com – Tutur bahasanya yang lembut, serta perjalanan hidupnya yang sederhana dan bersahaja. Kini tak lagi bisa dijumpai dari sosok kiai NU asal Pesisir Pasuruan. Dialah KH Madiyani Iskandar pendiri Pondok Pesantren Raudhatul Mustariyah.

Meski kepergiannya sudah lama meninggalkan santri dan pesantren yang didirikan. Namun, pengabdiannya untuk umat masih melekat dan dirasa hingga sekarang.

Riwayat pendidikan beliau dimulai pada Sekolah Rakyat (1962) dan Langgar Kyai Zakariya Gading Tahun 1962 (sore).

Lalu, dilanjutkan pada Pondok Pesantren Sidogiri (1969). Setelah di Sidogiri, beliau melanjutkan ngangsu ilmu-nya di Pondok Pesantren Al-Hidayah Lasem pada K.H. Maksum Lasem dan K.H. Mansur Kholil Lasem (1969-1975). Sepulangnya ke Pasuruan, beliau masih mau menimba ilmu pada Kyai Ghofur di Pondok Al-Ghofuri Bugul Kidul.

Selain pendidikan non-formal, beliau juga menempuh pendidikan formal, yang antara lain diselesaikan di MTs Darumafatihil Ulum Podokaton Bayeman Gondangwetan (1984), MA Darumafatihil Ulum Podokaton Bayeman Gondangwetan (1987), dan Universitas Islam Pasuruan sampai semester 7 (1986-1990).

Pengabdian beliau di masyarakat diwujudkan dalam berbagai kegiatan keagamaan dan kemasyarakatan. Berbagai majelis taklim beliau asuh, seperti pengajian rutin di Taman Nongkojajar setiap hari Jumat Bakda Duhur, pengajian rutin di Telaga Sari Nongkojajar, pengajian rutin di Tanjung Gempol.

Selain itu, ada pula pengajian rutin di rumah Bapak Mahfudz Gading Kidul, pengajian rutin di Jambangan (selatan Lapangan Wijaya), pengajian rutin di Gayaman Jambangan Kebon Agung.

Pengajian yang juga beliau rutin asuh adalah Pengajian di Taman Sari Wonorejo, pengajian rutin di Pondok Pesantren Raudlotus Salamah Wironini, pengajian rutin di Pondok Pesantren Al-Munawwarah Kebonsari, pengajian rutin di Langgar Nurul Qodim Wonorejo.

Selain mengabdi di masyarakat, beliau dikenal banyak berkiprah di organisasi, seperti Ketua Tanfidz Ranting NU Cabang Gadingrejo Pasuruan (1989-1991), Ketua Syuriah MWC NU Cabang Gadingrejo Pasuruan, Katib Syuriah NU Cabang Kota Pasuruan, Ketua Robithoh Ma’ahid Islamiyah (RMI) Kota Pasuruan, dan Pembina RMI Kota Pasuruan.

Bahkan, beberapa kali beliau mengikuti Muktamar NU sebagai utusan NU Kota Pasuruan, beberapa kali mengikuti kegiatan RMI tingkat nasional sebagai Ketua RMI Kota Pasuruan, beberapa kali mengikuti Bahtsul Masa’il sebagai utusan NU Kota Pasuruan.

Beliau juga pendiri Jamiyah Istighotsah di Gadingrejo, pelopor Khataman Bin-Nazhar di Wilayah Gadingrejo (bersama dengan Ustad Najib (alm.) dan Ustad Salim (alm.), dan penasihat ISHARI Ranting Gadingrejo

Pengabdian untuk pendidikan, beliau wujudkan dengan bersedia menjadi Kepala Sekolah Madrasah Tsanawiyah Sunan Ampel (1984-2002), Kepala Sekolah Madrasah Diniyah Raudhatul Mustariyah, Kepala Sekolah Madrasah Darul Ulum Kisik Kali Rejo (1981-1985), pendiri Madrasah Miftahul Huda Gadingrejo (1976). Beliau pula pendiri Pondok Pesantren Terpadu Raudhatul Mustariyah.

Beliau menghadap ke haribaan Allah pada tanggal 4 Syawal 1424 H. Beliau menikah dengan Ibu Suaibah Fakhriah, yang melahirkan putra-putri sebagai berikut: Prof Dr. Moch. Syarif Hidayatullah, Lc., S.Ag., M.Hum, Ummu Salamaturrohmah, S.Pd., Kholilur Rokhman, S.Psi, M.M, Shochibul Hujjah (Sarjana Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta), Fathira Nadia Mekka (Menempuh Sarjana Pendidikan Agama Islam UIN Surabaya ).

Perjalanan hidup beliau kiranya bisa dirangkum dalam beberapa bait bijak berikut:

Hidup sederhana dan bersahaja
Kemana-mana tidak malu memakai sepeda

Tetap sabar meski ada yang tidak suka
Rela berjuang meski tak mendapat rupiah
Menikmati hidup meski difitnah

Dengan orang tidak punya mau menyapa
Dengan orang kaya tidak menghamba
Semua sama di hadapannya

Pendidikan adalah pengabdiannya
NU adalah organisasinya
Pondok Pesantren adalah kehidupannya

Pribadinya tegas berwibawa
Sosoknya rendah hati suka tertawa
Tidak pernah berambisi untuk selalu di muka
Amanah umat selalu ditunaikannya

Selalu memberi contoh pada keluarga dan lingkungannya
Selalu memberi teladan tidak dengan kata-kata
Lisanul hal afshahu min lisanil maqal, katanya. (umr/tin).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *