Bangkit dari Keterpurukan, Warga Wanomerto Mulai Gali Semua Potensi yang Ada

Reporter : Amelia Putri

Editor : Anis Natasya

 

Probolinggo, Kabarpas.com – Saat ini, masyarakat Kecamatan Wonomerto tengah berupaya untuk bangkit dari keterpurukan (ekonomi dan kemiskinan), bangkit dari ketertinggalan (masalah pelayanan dasar umum masyarakat dan kapasitas SDM) serta bangkit dari ketidakberdayaan (sosial budaya dan lain sebagainya). Demi mewujudkan hal tersebut, maka Pemerintah Kecamatan Wonomerto mengusung tagline “Kecamatan Wonomerto Bangkit”.

“Selama ini angka perkawinan dini dan angka perceraian masih tinggi, keamanan dan ketertiban masih belum sepenuhnya dirasakan oleh masyarakat, masyarakat masih belum mampu mengeksplorasi potensi yang dimilikinya, tingkat pendidikan dan kesehatan yang masih rendah serta masalah kemiskinan masyarakat. Semua ini menjadi masalah utama dan harus segera dicarikan solusi agar masyarakat Kecamatan Wonomerto bisa bangkit,” kata Camat Wonomerto Taufik Alami.

Untuk menjawab semua permasalahan tersebut jelas Taufik, maka masyarakat harus bisa menggali potensi dan memanfaatkannya walaupun sekecil apapun peluangnya. Salah satunya PHP (Pengolahan Hasil Pertanian) berupa potensi kacang tanah yang banyak ditanam oleh masyarakat Kecamatan Wonomerto. Serta melakukan pengembangan sektor peternakan melalui BUMDes (Badan Usaha Milik Desa).

“Kami mewajibkan setiap desa melakukan pengembangan peternakan yang dikelola oleh Dana Desa (DD). Seperti penggemukan sapi, ternak ayam pedaging dan kelinci sesuai dengan potensi desanya masing-masing,” jelasnya.

Menurut Taufik, ke depan pihaknya berencana menjadikan Kecamatan Wonomerto sebagai sentra penghasil sapi di Kabupaten Probolinggo. Oleh karenanya tiap desa minimal harus menganggarkan 10 ekor sapi. Sehingga dari 11 desa yang ada di Kecamatan Wonomerto akan ada usaha sebanyak 110 ekor sapi.

“Untuk tahun 2019 mendatang, cakupannya akan lebih besar lagi. Karena bukan sebatas desa, tetapi setiap dusun minimal harus ada 10 ekor sapi. Jumlah ini belum termasuk sapi-sapi yang dipelihara secara mandiri oleh masyarakat. Sehingga diharapkan nanti minimal akan ada 1000 ekor sapi. Untuk sementara yang sudah jalan ada 6 (enam) desa meliputi Desa Sepuhgembol, Pohsangit Lor, Pohsangit Ngisor, Pohsangit Tengah, Tunggak Cerme dan Jrebeng,” terangnya.

Dengan banyaknya sektor peternakan terang Taufik, maka otomatis akan membutuhkan pakan ternak. Nantinya kebutukan pakan ternak ini akan dipenuhi melalui BUMDes. Sementara saat ini masyarakat masih melakukan budidaya sapi melalui pemberian pakan hijau-hijauan. Jika hal ini dibiarkan maka lambat laun rumput akan habis dan tanah menjadi gersang.

“Solusinya adalah dengan teknis pembuatan pakan ternak yang baik. Atas dasar itulah saya mengajak para kepala desa dan perwakilan pemerintah desa berkunjung ke BBLM (Balai Besar Latihan Masyarakat) Jogjakarta di bawah Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi RI. Kunjungan ini dimaksudkan untuk menjamin salah satunya pengolahan pakan ternak,” terangnya.

Untuk melihat keseriusan dari para kepala desa kata Taufik, maka pihaknya melalui Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kabupaten Probolinggo mengajukan permohonan kepada BBLM Jogjakarta untuk mengadakan pelatihan olahan pakan ternak di Kecamatan Wonomerto. Ternyata permohonan ini disetujui dan pelatihan sendiri dilakukan selama 5 (lima) hari pada 23 hingga 28 Agustus 2018 lalu.

“Pelatihan pembuatan olahan pakan ternak ini diikuti oleh 30 orang peserta dari 7 (tujuh) desa. Dari situ para peternak mendapatkan ilmu membuat pakan ternak. Limbah kacang tanah baik batang maupun kulitnya yang biasanya dibakar bisa menjadi campuran pakan ternak. Hal ini menjadi salah satu potensi dari Desa Pohsangit Lor. Selain itu janggel jagung dan jerami kering juga bisa diolah. Semua bahan ini dijadikan tepung dan dicampur air untuk minuman ternak,” ungkapnya.

Dari pelatihan ini ungkap Taufik, ke depan peternak dalam memberikan pakan tidak terlalu dominan kepada hijau-hijauan sehingga secara tidak langsung bisa merubah mindset peternak. Harapannya, peternak bisa memanfaatkan limbah yang terbuang. Sebab apabila diolah dengan baik maka bahan-bahan ini akan menjadi pakan ternak yang sehat.

“Olahan pakan ternak ini sudah teruji mampu menghasilkan volume yang lebih banyak dan lebih cepat. Hijau-hijauan itu tetap karena memang dibutuhkan sebagai seratnya,” katanya.

Taufik menambahkan pelatihan ini bertujuan untuk memberikan gambaran tentang pola teknik pembuatan pakan ternak. Ini adalah solusi untuk mengatasi kelangkaan kebutuhan pakan. Harapan ke depan tetap terbentuk kandang komunal. Sebab otomatis masyarakat menempatkan ternaknya di suatu kandang bersama yang bisa dijaga bersama-sama. Nantinya biogasnya juga bisa dimanfaatkan bersama-sama pula. Semua ini merupakan wujud dari semangat gotong royong masyarakat dalam mengentaskan masalah sosial.

“Kalau sudah ada kandang komunal, masyarakat tidak perlu lagi tidur sama sapinya. Dari aspek kesehatan, masyarakat akan lebih sehat karena di dapurnya sudah tidak ada sapi. Dari aspek etika, sudah tidak ada lagi bau kotoran sapi dan lalat pembawa penyakit,” tambahnya.

Apabila semua program ini berjalan dengan baik tambah Taufik, maka suplay daging sapi Kabupaten Probolinggo bisa dipenuhi dari Kecamatan Wonomerto. Sehingga ke depan akan masuk pada program pembibitan sapi dan tidak lagi pada penggemukan. Dengan demikian diperlukan sebuah pasar hewan lokal dan pembangunan Rumah Potong Hewan (RPH) di Kecamatan Wonomerto yang dikelola oleh BUMDes bersama oleh semua desa.

“Jika semua program ini bisa direalisasikan dengan baik, maka masyarakat di Kecamatan Wonomerto betul-betul bisa bangkit dari keterpurukan. Dengan semakin banyaknya sapi, maka otomatis lahan yang ditanami pohon hijau-hijauan semakin luas. Termasuk memanfaatkan lahan yang rusak bekas galian pembuatan batu bata. Lahan-lahan yang sudah dalam ini bisa diberi kotoran sapi yang selanjutnya bisa ditanami pohon hijau-hijauan,” pungkasnya.

Sementara Julianto dari BBLM Jogjakarta menyampaikan bahwa pihak BBLM akan menjadikan Kecamatan Wonomerto sebagai salah satu pilot project pengembangan pakan ternak dan budidaya penggemukan sapi di Indonesia.

“Kami sangat tertarik dengan rencana dan program yang digagas oleh Bapak Camat Wonomerto bersama para kepala desanya. Kami menganggap ini sebagai hal yang serius dan layak diperhatikan oleh Kementerian Desa dan PDTT. Semoga ada dukungan penuh dari beberapa OPD terkait di Kabupaten Probolinggo. Karena untuk BUMDes sejatinya memang berangkat dari bawah,” katanya. (mel/nis).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *