Nasionalisme: Kegembiraan Hidup Berbangsa

Oleh : Ir. H. Supriyadi, Ketua DPD Nasdem Banyuwangi

 

KABARPAS.COM – PADA suatu ketika, Bung Hatta pernah berkata, Bagi kami, Indonesia menyatakan suatu tujuan politik karena dia melambangkan dan mencita-citakan suatu tanah air pada masa depan, dan untuk mewujudkannya setiap orang Indonesia akan berusaha dengan segala tenaga dan kemampuannya.

Sebuah frase ”berusaha dengan segala tenaga dan kemampuan adalah urat nadi keindonesiaan, yang membuat bangsa Indonesia ada dan menyatakan kemerdekaannya. Tekad perjuangan ini bukanlah retorika kosong, melainkan didarahi oleh pengalaman keterjajahan, ketertindasan, dan penderitaan yang membuat para pendiri bangsa memiliki penghayatan yang mendalam tentang arti kemerdekaan dan keadilan, serta komitmen yang kuat untuk mewujudkannya dengan ketulusan dan kegembiraan .

Indonesia adalah negeri para patriot. Negeri para pejuang. Dengan ekspresi kebahagiaan nan riang gembira yang mendalam, tanpa saling menyerang antar sesama anak bangsa, mereka bahu-membahu memerdekakan dan bersepakat mendirikan rumah bangsa yang bernama Negara Kesatuan Republik Indonesia. Di dalam rumah kebangsaan ini kita telah menjadi keluarga besar. Mengikat janji bersama untuk saling menjaga dan merawat kebhinekaan kita.

Negeri ini bukan negri para pecundang yang hanya bicara tanpa kerja nyata, yang hari ini justru menjadikan ruang batin bangsa menghadapi kesulitan dan kegentingan: kini, apalah guna kita menjadi saling membenci, saling menganggap paling benar, saling berebut “kuasa” dlm lingkungan keluarga besar indonesia? – apalah guna ketidakwajaran yang ada kita anggap wajar?

Pada titik ini pertautan jiwa-jiwa revolusioner serta sendi tolong-menolong yang ditekankan oleh para pendiri bangsa seyogyanya kita jaga, jangan biarkan memudar. Nilai-nilai luhur , seperti, tega lorone tapi ora tega patine jangan biarkan berubah menjadi tega lorone ngarep patine. Fitnah (hoax) dan ujaran kebencian hendaknya kita sudahi, jangan sampai membelah bangsa. Apabila semangat gotong royong ambruk akan memperlemah ketahanan politik kita. Kita akan kesulitan dalam memecahkan masalah secara bersama.

Masalah-masalah etik dalam kehidupan keluarga rumah kebangsaan hendaknya tidak diwarnai dengan hasut, fitnah dan kedengkian. Apalagi membuka aib keluarga yang dalam tatanan nilai ketimuran adalah hal yang tidak elok: seorang anak bangsa memfitnah pemimpinnya; mengumbar aib “bapaknya” keluar adalah hal yang kini kita anggap wajar; Kecenderungan kebebalan, ujaran kebencian dan semangat menyerang diarahkan kepada sesama anak bangsa sendiri.- laku seperti ini tidaklah memperhatikan harga diri bangsa

Kita sama-sama tahu, saking menonjolnya berita fitnah (hoax), banyak yang berspekulasi bahwa kini kita hidup dalam masyarakat dimana kejujuran bertindak dan kejernihan berpikir telah hilang. Kita seperti lupa, bahwa kita adalah orang timur. Para pendahulu telah memberi tauladan baik. Jalan apalagi yang kita cari? Apakah kita ingin bangsa ini jadi terpuruk seperti halnya beberapa negara di timur tengah? Apakah akan kita biarkan Indonesia seperti negeri-negeri di luar sana yang luluh lantak karena fitnah dan ujaran kebencian? Relakah kita kehilangan kebahagiaan dan kegembiraan dalam hidup berbangsa?

Kegaduhan dan provokasi harus dihentikan. Tidak lama lagi kita akan memilih pemimpin. Negara ini tak bisa dipimpin dari hasil hasut, fitnah dan ujaran kebencian. Sekali kita menggunakan-nya sebagai cara meraih kekuasaan, manipulasi dan penghancuran nilai-nilai kebangsaan menjadi tak terelakkan sebagai praktik memimpin. Karena, hasil akhir dari tindakan itu adalah pembodohan dan pengabaian kepentingan rakyat: Hastag Ganti Presiden suatu misal, di permukaan, publik boleh jadi terhenyak. Namun, itu hanyalah puncak dari gunung es, yang pada dasarnya tersembunyi pacuan gairah berkuasa yang ekstrem, yang berisiko merobohkan bangunan demokrasi.

Nyata terlihat, dengan gerakan hastag tersebut, kebebasan dalam berdemokrasi menjadi miskin substansi dan refleksi; budaya politik dipadati kedangkalan sensitivitas etis dan fajar budi; agama diekspresikan dalam kegaduhan yang menyerang, miskin perenungan dan rasa kemanusiaan.

Akan menjadi baik bila kita bisa bersepakat, bahwa demokrasi sejati menghendaki prosesi pemilihan pemimpin sebagai ikhtiar mempromosikan kebenaran. Dan menjadi pemimpin tidak sekadar impian berbekal modal, manipulasi pencitraan dan komedi omong kosong, tetapi memerlukan kemampuan kualitatif yang tecermin dalam visi yang terang dan konsep matang. Visi dan konsep yang menentukan arah perjalanan bangsa mendatang. Hal ini akan terwujud bila kita lakukan dengan riang gembira, nir permusuhan dan ujaran kebencian.

Dus, Kontestasi politik bukan ajang pertengkaran, apalagi perang. Jika diolahraga ada kompetisi untuk menumbuhkan kecerdasan fisik dan otak, maka kontestasi politik adalah merayakan demokrasi dengan riang gembira. Saat pilihan tersedia beragam, maka akan menyuguhkan optimisme, harapan dan program yang bisa dilihat, disentuh, dan dirasakan. Itulah yang akan menentukan bagaimana suara hati gerakan ada di sanubari rakyat.

Keyakinan musti kita tumbuhkan, bahwa Indonesia akan tetap lolos dari berbagai ujian sejauh masih ada semangat perjuangan dan solidaritas kemanusiaan. Dan solidaritas manusia Indonesia akan tetap mampu menghadapi fitnah dan ujaran kebencian yang dapat membuat bangsa ini kehilangan segalanya.

Situasi sosial-politik yang kurang mengenakkan saat ini harus menjadi panggilan sejarah baru pada Ulang Tahun Kemerdekaan sekarang: Bahwa kita semua bisa kehilangan Indonesia. Dan kehilangan Indonesia” akan merupakan suatu bencana besar atas rontoknya cita-cita mewujudkan bangsa yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur.

Maka bergembiralah, hingga Salam menjadi hebat. Banyuwangi menjadi inspirasi. Kerja kita prestasi bangsa. (***).

(Visited 55 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *