Gerakan Rejosokita Ajak Jurnalis Mengenal Skema Ko-investasi yang Sudah Berjalan di Kelompok Tani

391 views

Reporter : Ajo

Editor : Titin Sukmawati

Pasuruan, Kabarpas.com – Jurnalis media lokal dan nasional berkumpul di Pasuruan untuk melihat langsung aktivitas Gerakan RejosoKita di wilayah hulu dan wilayah tengah DAS (Daerah Aliran Sungai) Rejoso. Gerakan RejosoKita adalah sebuah gerakan yang dibentuk sejak awal tahun 2017 oleh beberapa lembaga dan Universitas di Indonesia. Tujuannya untuk mengelola dan melindungi DAS Rejoso secara berkelanjutan melalui investasi bersama antara para pemangku kepentingan dan upaya berbasis kinerja yang akan membawa dampak positif pada kebutuhan sosial, ekonomi dan lingkungan.

Lembaga awal yang menginisiasi Gerakan RejosoKita adalah Yayasan Social Investment Indonesia (YSII), World Agroforestry Centre (ICRAF), CKNet, dan The Nature Conservancy (TNC) Indonesia. Pada kegiatan ini, sejumlah awak media diajak untuk melihat wujud yang sudah dilakukan Gerakan RejosoKita yaitu Pelaksanaan skema ko-investasi Jasa Lingkungan yang diterima petani yang menjadi pemenang lelang di Hulu DAS Rejoso.

Lokasi pertama yang dikunjungi oleh jurnalis adalah klaster atas (wilayah hulu) DAS Rejoso tepatnya berada di Kecamatan Tosari. Kunjungan dimulai dari Desa Wonokitri. Jurnalis diajak melihat beragam ukuran pohon cemara yang telah diberikan tanda pengenal berupa barcode sebagai identitas pohon. Kode batang (barcode) berisikan data terkait karakteristik, fungsi, lokasi, dan nama pemilik pohon yang bisa dilihat dengan cara scan melalui aplikasi pada gawai. Selain sebagai informasi, barcode juga menjadi alat bantu kegiatan monitoring dan evaluasi yang dilakukan oleh tim Gerakan RejosoKita secara rutin.

Disamping wajib menamam pohon, petani di klaster atas juga harus menanam strip rumput sebagaimana tercantum dalam kontrak yang telah ditanda tangani pasca lelang. Strip rumput ditanam sejajar garis ketinggian (kontur) lahan. Pada tanah yang berteras, rumput ditanam di pinggir (bibir) teras. Strip rumput ini berfungsi untuk membentuk teras secara alami yang dapat menahan erosi terutama di musim penghujan.

Lokasi kedua adalah Desa Tempuran yang berada di Kecamatan Pasrepan. pDisini Gerakan RejosoKita mendorong petani untuk membuat “rorak” yang berfungsi meresapkan air ke dalam tanah dan mengurangi air limpasan (run off) yang berkontribusi terhadap pengendalian banjir.

“Semenjak adanya skema ko-investasi jasa lingkungan yang di inisiasi oleh Gerakan RejosoKita anggota kelompok menjadi lebih aktif dan termotivasi melakukan pertemuan. Diskusi yang kami lakukan lebih hidup, anggota lebih berani mengutarakan pendapatnya dan yang terpenting eksistensi kami sebagai petani lebih diakui karena pohon yang ditanam diberikan insentif (ada penghasilan tambahan),” ujar Marsudi ketua kelompok tani Sumber Rejeki Desa Tempuran.

Ia menambahkan, awalnya pohon-pohon yang ditanam hanya sebagai tabungan saja, setelah Gerakan #RejosoKita hadir di kelompok Tani Sumber Rejeki ternyata pohon banyak sekali manfaatnya bagi kelangsungan hidup manusia. Kedepannya semoga program ini dapat berlanjut dan bisa dikembangkan di tempat lain”

Musmin Nuryandi perwakilan dari Gerakan RejosoKita menyampaikan, kunjungan Media dan Editor Senior yang dilaksanakan ini dalam rangka memperkenalkan Gerakan RejosoKita berikut capaian kegiatan kepada masyarakat. “Termasuk skema ko-investasi jasa lingkungan sebagai upaya pelestarian Daerah Aliran Sungai (DAS) Rejoso,” tegasnya.

Sementara, Advisor Senior dari YSII, Fajar Kurniawan, pada kesempatan terpisah menegaskan bahwa pasca penanda-tanganan kontrak ko-investasi jasa lingkungan, diharapkan konservasi DAS Rejoso akan dapat berjalan efektif dan mampu meningkatkan jasa lingkungan secara sukarela berdasarkan ketentuan yang disepakati.

Ia membeberkan, skema ko-investasi jasa lingkungan ini telah diikuti oleh 13 kelompok tani, terdiri dari 174 petani dengan total lahan seluas 106,6 Ha di tujuh desa (Desa Wonokitri, Sedaeng, Keduwung, Petung, Galih, Ampelsari, dan Tempuran) yang bersedia untuk bekerjasama melakukan upaya Konservasi DAS Rejoso.

“Kami sedang mempresentasikan skema ko-investasi jasa lingkungan di DAS Rejoso ini pada Singapore International Water Week, di Sands Expo and Convention Center, Marina Bay Sands, Singapura yang berlangsung minggu ini di Singapura bersama inisiatif-insiatif Pengelolaan Sumber Daya Air lain dari seluruh penjuru dunia” jelasnya.

Kegiatan skema ko-investasi jasa lingkungan memliliki perbedaan antara klaster atas dan tengah. Skema Pembayaran Jasa Lingkungan di klaster atas diarahkan pada pengayaan tanaman kayu (cemara) di lahan pertanian, peningkatan laju infiltrasi lahan, dan pengurangan sedimentasi.

“Berdasarkan kontrak, petani wajib memiliki 300 pohon disetiap satu hektar lahan, petani juga dilarang menebang pohon selama kontrak berjalan, jika ada pohon yang mati maka wajib dilakukan penyulaman dan melaporkan ke fasilitator Gerakan RejosoKita, selain harus menjaga pohon-pohon yang ada di lahannya petani juga diharuskan menanam strip rumput,” ungkapnya.

Sementara di klaster tengah skema ko-investasi jasa lingkungan lebih diarahkan pada pengayaan tanaman dengan produk bernilai ekonomi tinggi, perbaikan pengelolaan kebun, dan peningkatan laju infiltrasi lahan dimana setiap petani memiliki kewajiban untuk mempertahankan atau menaman 500 pohon dan membuat 200 lobang rorak disetiap hektar lahan. (ajo/tin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *