Mudik dan Rentenir Penjebak Warga Desa [3]

2.919 views

Penulis: Tantan Hermansah, Doktor bidang Sosiologi Perkotaan Universitas Indonesia (UI)

(Kabarpas.com) – SEPERTI sudah ditulis pada bagian sebelumnya, tentu saja maraknya sistem rentenir tidak sepenuhnya merupakan kesalahan mereka. Ada banyak faktor yang membuat mereka bisa berkembang, subur, dan membesar. Salah satunya ada “celah”, atau peluang yang selama ini tidak tergarap dengan baik oleh program pemerintah.

Maka muncul pertanyaan, apa yang membuat rentenir itu subur di satu tempat (atau katakanlah satu desa) sedang di desa lain biasa saja, atau malah tidak berkutik?
Dari diskusi pada bagian awal tulisan ini ditayangkan, banyak pandangan, pendapat, dan juga opini yang menjelaskan hal ini. Tetapi tulisan ini kembali akan berangkat dari laporan lapangan dengan kasus yang sangat spesifik di dua desa yang menjadi destinasi mudik.
***
Sambil mencoba menganalisis persoalan keterjebakan warga desa oleh rentenir ini (apapun bentuk dan namanya), saya mencoba melakukan profiling pada 3 orang warga yang saat ini akhirnya menjadi pengontrak setelah rumahnya dijual paksa untuk membayar cicilan.

Keluarga pertama adalah merupakan buruh tani dan pekerjaan serabutan lainnya. Awal mula masuk ke jeratan rentenir ini karena anak gadisnya sudah dilamar dan mau mengadakan pesta penikahan. Keluarga kedua pun tidak berbeda dengan yang pertama ini hanya sekilas telihat lebih baik.

Keluarga ketiga, saya kenal betul bahwa dulu dia merupakan pekerja pertanian sekaligus punya tanah yang dia garap sendiri. Rumahnya juga tembok. Berbeda dengan keluarga pertama yang rumahnya bilik bambu.

Mengapa sampai akhirnya hartanya habis?
Setelah ditelusuri dengan pendekatan akademis, apa yang ditemukan di lapangan bisa disederhanakan menjadi tiga klaster perilaku: konsumtif, ikut-ikutan, dan kebutuhan mendesak.

Konsumtif
Seperti sudah dijelaskan di atas bahwa imajinasi ingin seperti tetangganya. Bayangkan mereka keluarga butuh tani yang mendapatkan penghasilan sehari antara tigapuluh sampai limapuluh ribu saja. Jika mereka gajian perminggu, berarti pendapatan mereka sekitar 200 ribu sampai 350 ribu rupiah.
Maka begitu ada tawaran pinjaman pertama sebesar 1,5 juta, sangat menggiurkan. Apalagi diiming-imingi jika kinerjanya bagus maka akan ditingkatkan sampai 10 juta. Betapa menggodanya.
Dengan uang sebesar itu, hasrat konsumtif mereka tersalurkan. Tadinya jelas tidak besar. Hanya untuk “sekedar” jajan bakso ke kota.
Namun di mana-mana setan konsumtivisme tidak akan pernah memuaskan “ummat”nya dalam satu tegukan kenikmatan. Apalagi mereka ternyata merasakan bahwa makan-makan bakso bareng dengan teman-teman sekelompok (biasanya minimal 10 orang itu) alangkah nikmatnya.

Ikut-ikutan
Kelompok kedua tadinya ada yang ikut-ikutan saja. Sehingga karena keuangan rumah tangganya cukup baik, maka kinerja angsuran tahap pertama berjalan lancar sekali. Kelompok ini kemudian mendapatkan tawaran lebih besar.
Begitu ditawarkan bisa mendapatkan pinjaman besar, mulai mereka berbinar untuk memutarnya pada usaha yang lebih besar, dengan resiko tentu lebih besar lagi.
Ketika mereka kemudian ‘tidak berhasil’ di usaha tani yang dijadikan andalan, mulailah hantu pinjaman untuk menutup pinjaman itu dilakukan. Lama-lama terus demikian sampai akhirnya ketika ditotal “terlalu mustahil” untuk bisa dibayar melalui usaha normal mereka.

Kebutuhan
Kebutuhan mendesak seperti pernikahan anaknya merupakan salah satu penyebab jebakan ini menghampiri. Kata-kata “nanti bisa diangsur dari hasil amplop-cecepan para undangan” demikian menggiurkan. Tapi ternyata, namanya pesta tidak bisa diprediksi seperti dagang gorengan. Akhirnya karena tidak bisa mengangsur pinjaman, asset yang dimiliki satu-satunya itu terpaksa dilepaskan.

[bersambung]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *