Kupat, Ngaku Lepat

Penulis : Abdur Rozaq

(Kabarpas.com) – Bertamu ke rumah Gus Hasyim, para anggota jamiyyah piring seng pelanggan warung Cak Suep dijamu dengan ketupat dan opor ayam. Sambil makan mereka ngobrol ngalor-ngidul seperti biasa ketika cangkruk di warung. Sampai ahirnya, Cak Abu Fikri nyeletuk.

“Bid’ah yang paling lezat, ya ketupat ini,” ujarnya seraya melahap ketupat.
​“Wuik, kok bid’ah segala sih, cak?” timpal Cak Hamim.
​“Ya, karena ketupat ini tidak pernah ada semasa Rasulullah. Tapi bid’ah yang ini saya malah doyan,” jawab Cak Abu Fikri.
​“Apa benar ketupat ini bid’ah, gus?” tanya Cak Murtado seraya menghentikan suapannya.
​“Benar, cak. Bid’ah itu. Tapi kan tidak ada kaitannya dengan ibadah?” jawab Gus Hasyim.
​“Jadi bagaimana hukumnya makan ketupat?” timpal Cak Suep.
​“Ya halal asal uang yang digunakan membeli beras, janur, bumbu, ayam serta elpiji bukan hasil ngentit. Dan cara memasaknya suci,” jelas Gus Hasyim.
​“Bagaimana sih asalnya kok ketupat ini bisa bid’ah?” Cak Suep penasaran.

​“Karena ketupat baru ada pada masa Wali Songo. Kreatornya kan Mbah Sunan Ampel?” jelas Gus Hasyim mulai bercerita.
​“Ketupat, dalam bahasa Jawa kan disebut Kupat? Kupat, adalah kepanjangan dari Ngaku Lepat alias mengaku bersalah. Makanya makanan ini hanya ada ketika lebaran agar kita rumongso, ngaku lepat alias mengaku bersalah kepada para tetangga, famili serta siapa saja yang pernah berinteraksi dengan kita.”

“Kata Kupat bisa juga diartikan Ngelakoni kang Papat alias melakukan empat perkara. Empat perkara itu adalah lebaran, luberan, leburan serta laburan. Lebaran berasal dari bar, artinya selesai. Ketupat hanya ada ketika selesai berpuasa, karena lambung kita yang belum terbiasa makan sepanjang hari, bisa kaget jika harus langsung menampung nasi. Luberan berasal kata luber atau berlebih. Ini ada hubungannya dengan diwajibkannya zakat Fitrah yang tujuannya meratakan kesejahteraan saat hari raya. Saat hari raya, Islam menganjurkan agar orang yang paling tak mampu jangan sampai kelaparan—minimal—pada hari itu. Islam memang mewajibkan zakat harta dan menganjurkan sedekah. Akan tetapi khusus hari raya, jiwa pun wajib dikeluarkan zakatnya agar orang yang paling tak mampu bisa makan. Leburan, artinya leburnya dosa berkat puasa, tarawih, tadarrus, sedekah serta segala amal kita selama Ramadan. Kalau dosa kepada Gusti Allah sudah nol, seyogyanya dosa kepada sesama manusia—yang lebih sulit permohonan maafnya—juga harus beres dengan halal bi halal. Sedangkan laburan, artinya adalah mengecat hati kita dengan kesucian dari rasa sok benar,sok suci, sok lurus dan seterusnya,” urai Gus Hasyim panjang lebar.

“Kenapa kok pakai janur? Kok berbeda dengan lontong atau lepet?” tukas Cak Murtado.
“Di situlah kecerdasan sekaligus kearifan para sunan. Dibungkus dengan janur, selain memberikan rasa yang khas, ternyata juga mengandung filosofi. Bentuk ketupat yang menyerupai organ hati, dibungkus dengan janur yang berasal dari kata Ja’a nuur atau cahaya telah datang. Artinya, setelah berpuasa, kita berharap hati kita terbungkus oleh cahaya hidayah agar terpelihara dari makar hawa dan nafsu. Kenapa janur juga harus dianyam, itu pertanda bahwa kita harus selalu rukun, mempererat silaturrahmi dan merasa satu tubuh.”

“Lha kalau lontong dan lepet apa maknanya, gus?” tanya Cak Hamim seraya kembali mengiris ketupat, imbuh.

“bentuk lontong kan mirip cungkup kuburan? Artinya kita harus selalu iling lan waspodo, bahwa kelak kita akan kembal kepada sangkan paraning dumadi. Sedangkan lepet, itu adalah pesan jika kita harus selalu rukun dengan saudara sedarah, saudara seagama, saudara sebangsa, bahkan saudara sesama manusia tanpa memandang latar belakang. Kita seharusnya lengket seperti ketan bahan pembuat lepet agar mendapat baldatul thayyibatun wa Rabbun ghafur,” tandas Gus Hasyim.

“Jadi, seperti kata Cak Abu Fikri tadi, ketupat adalah bid’ah paling lezat di seluruh dunia,” timpal Wak Takrip seraya menghabiskan piring kedua ketupatnya. (***).

(Visited 33 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *