Hari Raya Bola

Penulis : Abdur Rozaq

 

(Kabarpas.com) – Hari raya kali ini memang berbeda. Itu bukan karena berita pembegalan, penjambretan serta kecelakaan lalu lintas sepi, namun karena dua hal. Yang pertama karena hari raya jatuh padahari Jumat. Ini langka sekaligus menakutkan, karena merupakan salah satu pertanda makin ndableknya kita. Masa dalam sehari saja harus dikhotbahi dua kali? Mungkin karena saking mokongnya, sehingga kita harus diwanta-wanti supaya bertaqwa dua kali dalam sehari.

Yang kedua, lebaran kali ini bertepatan dengan hajatan dunia paling akbar, paling agung, paling sakral bagi seluruh umat manusia di seantero planet bumi, yaitu Piala Dunia. Pertandingan sepak bola antar negara sedunia ini, bagi sebagian besar umat manusia, jauh lebih penting daripada pemenggalan kepala para koruptor. Tak terkecuali bagi rakyat jelata di kampung Cak Murtado.

Cak Suep, meniru gaya para wakil rakyat membentuk pansus penyelenggaraan nonton bareng di warung reotnya. Disewalah sebuah proyektor untuk mempebesar gambar di televisi. Cak Hamim sampai mengambil resiko menurunkan banner pilgub secara ilegal untuk dijadikan layar tancap. Cak Rudi diberi tugas untuk menyurati perusahaan penyedia listrik agar tidak melakukan pemadaman.

Selebihnya, rakyat jelata yang setiap kali pemilu menjadi sasaran serangan fajar itu menjual ayam, kambing atau menggadaikan BPKB untuk biaya tombok alias taruhan. Bahkan, bila perlu dukun perewanganpun dikonsolidasi untuk memberikan bocoran, tim mana yang menang agar taruhan tak kalah.

Cak Murtado yang tidak suka bola, merasa sedikit merana karena tidak bisa ikut merayakan hari raya bola. Apalagi, saat bertamu ke rumah Cak Hamim tadi, ia merasa diacuhkan oleh kawan akrabnya itu. Wajarnya kan, orang bertamu itu diajak bercengkrama dengan gayeng?

Lha tafi, Cak Hamim memang menyuguhkan kopi dan toples berisi rengginang, satru serta keripik singkong, tapi lebih banyak ditinggal menonton pagelaran Piala Dunia di televisi. Cak Murtadho dicueki seperti rakyat yang sambat kepada para wakilnya.

“Seandainya sepak bola dijadikan sebuah agama, pasti pemeluknya akan menjadi mayoritas di setiap jengkal bumi,” gumamnya dalam hati.

Gus Hasyim lain lagi. Duduk bengong di warung Cak Sueptanpa ada yang mengajaknya ngobrol, membuat kiai muda itumembatin dalam hati.

“Sepak bola ini memang mistis. Hanya sebuah olahraga, tapi bisa digandrungi oleh semua anak cucu Nabi Adam mulai perdana menteri hingga tukang cukur. Unsur bisnis di dalamnya begitu menakjubkan. Seorang bintang lapangan bisa disewakan dengan harga tak masuk akal mahalnya, meski tidak sebesar jasa seorang guru swasta. Pemain bola yang sedang bernasib mujur, potongan bulu ketiaknya saja bisa dikoleksi seakan ia merupakan juru selamat manusia.”

“Andai guru swasta seperti Cak Murtado, penulis ispiratif, aktivis lingkungan hidup, mediator perundingan damai antara Korut dan Amerika diberi penghargaan sebagaimana tukang tendang bola, mungkin dunia ini bisa disebut adil.”

“Sepak bola itu memang hanya suatu jenis olahraga, namun entah kenapa Gusti Allah menjadikannya sebagai hal amat menyenangkan.”

Dari permenungannya itu, Gus Hasyim menemukan inspirasi bahwa kegiatan belajar mengajar di sekolah, pengajian rutin di masjid, pendampingan anak-anak muda agar tak salah jalan, kekompakan mengerjai politisi nakal saat pemilu, mendesak pemerintah melakukan penegakan hukum yang setimpal terhadap para koruptor, mestinya dimanajemeni seperti bola agar digandrungi, didukung serta diimpikan oleh setiap manusia.

Guru, kiai, dosen, tukang cukur, pemulung serta tukang pijat harusnya mengambil metode rahasia agar bidang yang digelutinya bisa diterima secara universal oleh masyarakat pecinta sepak bola. Bagaimana pun caranya!. (***).

(Visited 15 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *