THR dan Kecemburuan Sosial

Penulis: Abdur Rozaq, Jurnalis Kabarpas

Kabarpas.com – Lebaran tinggal beberapa hari lagi, orang sudah memulaipesta dari mengecat rumah, memasang keramik baru, beli gelang dan kalung emas sebesar rantai kapal, belanja baju dan kue lebaran, sementara Cak Murtado masih belum punya apa-apa. Istrinya sudah mengancam ngambul ke rumah mertuanya, tapi Cak Murtado masih belum bisa berbuat apa-apa.

​Cak Murtado memang salah memilih profesi. Salah siapa sok pahlawan menjadi guru segala? Guru swasta lagi! Profesi beginian, selain Gusti Allah, siapa yang mau peduli? Makanya menjelang lebaran begini, tidak seperti Wak Takrip yang tukang becak, tidak seperti Cak Jumali yang tukang antar-jemput sekolah anak tetangganya, Cak Murtado takkan mendapat tunjangan hari raya (THR) dari siapa pun, selain langsung dari Gusti Allah. Dan itu perlu proses, tidak langsung kun fayakun.

​Makanya, semakin mendekati lebaran, tempramen Cak Murtado makin sensitif. Di warung Cak Sueb, kalau ngopi Cak Murtado suka nggremeng sendirian, entah maiduh siapa. Lihat TV, ada ustadz ceramah, ia ngomel-ngomel.

​“Gampang jadi ustadz zaman sekarang. Hafal satu dua potong ayat sudah laris masuk tv,” omelnya.

​Apalagi kalau Mas Sugeng ada di warung kopi juga, Cak Murtado akan makin jadi ngomel-ngomel seperti Wak Takrip kalah tombok togel. Kenapa Cak Murtado begitu senewen kalau lihat Mas Sugeng?

Menurut kabar burung, Cak Murtado kena virus kecemburuan sosial karena Mas Sugeng barusan mendapat gaji, gaji tiga belas sekaligus THR!

Padahal setahu Cak Murtado, pekerjaan Mas Sugeng sangat nyaman seakan ia bekerja di perusahaan mbahnya sendiri. Berangkat sering telat, saat jam kantor selalu ada di warung Cak Sueb, jam dua sore sudah pulang dari kantor. Bahkan, Mas Sugeng sudah mendapat kendaraan dinas, kalau sakit dibiayai rakyat, anak istrinya mendapat jatah beras dan ini itu-itu.

Meski mereka sama sekali tidak berkontribusi dengan pekerjaan Mas Sugeng. Dan kelak kalau Mas Sugeng sudah kena stroke atau gula darah di usia lima puluhan alias pensiun, ongkang-ongkang di rumah pun dapat jatah.

Kondisi ini berbeda dengan Cak Murtado, seorang pendidik generasi bangsa yang kian hari kian naudzu billah perangainya, jangankan mendapat THR, gajinya pun jauh lebih kecil dari tukang parkir, makanya ia cemburu sosial sama Mas Sugeng.

​ “Mbuh, ndak tutuk akal saya, rakyat tercekik, kok ya masih hambur-hamburkan uang negara?,” ujar Cak Murtado seraya membanting lepek kopinya.

​“Cak, nyebut cak. Jangan mengkritik, nanti diciduk sampean,” ujar Cak Hamim mengingatkan.

​“Duh, mbuh cak. Ndak ngomong kenemenen, ngomong bisa diciduk,” ujar Cak Murtado tolah-toleh takut ada yang merekam omongannya dan diunggah di media sosial.

​“Kita ini sedang menerima teguran Gusti Allah, cak. Kemaksiatan merajalela, yang tidak puasa jauh lebih banyak daripada yang puasa. Sudah begitu, merokok di jalan-jalan tidak sungkan. Perzinahan, judi dan madat sudah membudaya, makanya kita diberi cobaan seperti ini,” kata Gus Hasyim kepada  sembari menepuk bahu Cak Murtado. (***).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *