Santri dan Sains

Penulis : Lulu’atul Hamidatu Ulya

 

Malang, Kabarpas.com – Di kalangan santri dan kepesantrenan, sains yang identik dengan kecanggihan dan kemodernan ilmu pengetahuan itu terasa menjadi sesuatu hal yang terasa berat untuk jadi suatu pembahasan, sehingga sains bisa jadi hal yang “mewah” di kalangan ini. Sedangkan, di kalangan penggerak-penggerak sains, kata santri itu terasa sangat eksklusif di tengah-tengah para pemuja kebesaran dan kehebatan akal manusia. Santri scienties terasa begitu berbeda di tengah-tengah para penggerak sains.

​Lalu, seberapa pentingkah sains ini untuk diketahui seorang santri? Apakah hanya untuk keren-kerenan? Atau hanya mengikuti arus perkembangan saat ini yang manakala menjadi seorang santri scienties itu terlihat begitu “hebat”? atau mungkin hanya mengejar materi di mana dengan berbekal sains akan memperoleh materi yang lebih “menjanjikan”?

​Jika hanya karena alasan yang telah disebutkan di atas, maka sungguh rugi besar. Jika kita coba melihat lebih dalam, santri dan sains tidak hanya produk dari dua hal yang asal tempel di antara keduanya. Ada titik-titik penting di mana kedua hal tersebut dapat menyatu menjadi hal yang satu kesatuan dan tidak terpisah satu sama lain.

​Santri, dari awal dulu lahirnya sampai sekarang tetap sama substansinya. Meski kini santri telah mengalami perluasan dan pengembangan makna menjadi lebih luas. Secara umum santri adalah sesorang yang belajar tentang agama Islam di suatu lembaga pesantren. Singkatnya, santri identik dengan pembelajar agama.

​Sains, ilmu pengetahuan dasar dan pengembangannya dalam arti yang cukup luas meliputi pembelajaran dan pembuktian yang logis yang dapat dipahami oleh indra. Secara garis besar ada dua jenis sains, natural science (ilmu pengetahuan alam) dan social science (ilmu pengetahuan sosial). Namun, dalam pembahasan kali ini, akan difokuskan pada natural science.

​Dalam mempelajari agama, seringkali kita membaca atau memahami beberapa hal mengenai hukum islam meliputi wajib, sunnah, mubah, makruh dan haram namun kita hanya mengikuti saja dari sumber yang ada, tanpa ada pembuktian ataupun penjelasan lebih lanjut mengenai hal tersebut. Sebagai contoh mudahnya tentang makanan halal dan haram.

Ada beberapa makanan yang jelas disebutkan sebagai makanan haram di Al-Qur’an seperti babi dan anjing diantaranya. Ketika suatu jenis makanan tertentu diharamkan, tidak ada penjelasan dan pembuktian detail tentang hal tersebut. Dengan sains yang semakin berkembang, pembuktikan mulai menemukan titik teranngnya, walaupun sampai saat ini belum seluruhnya. Sebagaimana yang kita ketahui, saat ini produk makanan yang berkembang sangat beraneka ragam dan beraneka macam, sehingga diperlukan strategi dan teknik khusus dalam penentuan kehalalan/keharamannya. Dan hal ini tidak akan luput dari sains.

​Contoh lain, misalnya dalam bidang fiqih, kita bisa menggunakan satu jenis air saja yang dapat digunakan untuk bersuci yaitu air suci mensucikan, sedangkan ada banyak jenis air lain selainnya, sebagai seorang scienties hal ini merupakan sasaran empuk dalam eksperimen, misal kenapa penggunaan air “musta’mal” tidak diperbolehkan untuk bersuci (thoharoh) dan lain-lain.

​Masih banyak lagi fenomena-fenomena menarik yang bisa kita hubungkan dan tarik garis merahnya. Namun, jika kita melihat lebih jauh lagi, ada beberapa hal yang tidak bisa kita buktikan dan telaah dari segi sains. Allah memberikan kehebatan pada pemikiran manusia kecuali hanya “sedikit”.

Masih banyak hal-hal yang tidak bisa dijangkau oleh akal manusia yang sangat terbatas ini. Semoga dengan keterbatasan yang kita miliki ini, kita tetap selalu dapat menggunakannya dengan sebaik-baiknya dan semaksimal mungkin, tanpa terbatasi oleh apapun.

​Sebagai santri yang kemungkinan punya sekelumit rasa “cinta” pada sains. Sains bukanlah persoalan materi. Dengan sains alangkah indahnya jika digunakan untuk semakin meningkatkan ketakwaan pada Allah dengan mengetahui sedikit pembuktian terbatas atas perintah-perintah dan larangan-larangan-Nya.

Dengan sains dapat semakin menaikkan kelas “ma’rifatullah” namun tetap dalam koridor-koridor al-Qur’an dan hadist dan selalu mengingat bahwasannya yang menggerakkan dan menghebatkan kita dalam mempelajari sesuatu apapun itu tidak lain adalah Allah ‘azza wa jalla.

​Sains dan santri sangat terkoneksi. Akal pikiran manusia yang merupakan dasar berkembangnya sains tak dapat disejajarkan dengan “ilmu Allah”, barangkali kita bisa tahu tentang hal itu, tapi pasti sangat sedikit dan jangan lupa yang mebuat kita tahu tak lain selain Allah “‘azza wajallashowab.”. Wallahu a’lam bishshowab.

_____________________

* Rubrik khusus “Dunia Santri Community” ini akan tayang selama bulan suci Ramadan. Semua artikel yang tayang dalam rubrik ini, merupakan tulisan para santri – santri pilihan yang kece dan inspiratif, yang berasal dari berbagai pesantren di Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *