Instagram dan Dakwah

Oleh : Desiani Yudha

 

(Kabarpas.com) – SAYA teringat dulu waktu kecil, setiap kamis malam diajak oleh Mbah untuk yasinan di rumah warga sekitar. Dan setiap hari minggu, entah sebulan sekali atau dua minggu sekali (Saya agak lupa), saya diajak pergi untuk bersama ibu-ibu berbaju hijau. Ibu-ibu itu belakangan ini baru saya tahu kalau itu adalah ibu-ibu fatayat, saya dulu mengenal acara hari minggu itu dengan nama “muslimatan”.

Baik acara yasinan atau muslimatan pasti ada satu Dai, atau di kampung saya lebih sering dipanggil dengan sebutan kiai. Para kiai itu berdakwah, menyampaikan ajaran agama kepada para jamaahnya setiap satu minggu sekali. Selebihnya, mereka hanya menjadi imam sholat di masjid dan langgar miliknya, atau menjadi imam tahlil jika ada warga yang memintanya untuk memimpin tahlil dan kirim doa untuk orang yang meninggal dunia.
Terbatas!.

Model dakwah yang konvensional seperti itu sangat terbatas di zaman yang serba canggih, serba cepat seperti sekarang ini. Meskipun tidak dapat saya pungkiri, mengikuti ceramah ala kiai Kampung nikmatnya luar biasa. Makanan bergizi untuk hati. Tapi, bagaimana dengan masyarakat kota yang mungkin saja tidak mengenal yasinan dan muslimatan?.

Karena pada kenyataannya sejak saya pindah ke kota, sekalipun saya belum pernah menemui ibu-ibu di komplek perumahan saya ikut muslimatan. Ada sih, pengajian di balai RT setiap bulannya, tapi entah kenapa rasanya tetap beda dengan ceramah kiai kampung yang begitu menyentuh meskipun mostly mereka menggunakan Bahasa Jawa.

Break the Limits

Zaman sekarang, mau tidak mau kita juga harus mengikuti perkembangan zaman. Betapa bahagianya saya waktu melihat teman-teman santri mulai melek media social, dan satu persatu pondok pesantren punya akun official yang dengan mudah dapat diakses masyarakat. Setidaknya ada angin segar untuk meneruskan dakwah kiai kampung yang benar-benar nyes dihati itu.

Saat ini ada sekitar 3 miliar orang atau 40% populasi di dunia menggunakan media social. Dan menurut data yang pernah saya peroleh, setiap orang saat ini sanggup menghabiskan 2-4 jam sehari hanya untuk scroll-scroll media social. Bukankah ini ladang yang sangat hijau untuk menebar dakwah?. Diantara banyak macam social media yang ada, hari ini Instagram masih menjadi primadona.

Kenapa Instagram?

Saat ini Instagram menjadi media social yang paling banyak penggunanya setelah facebook. Total pengguna Instagram saat ini sekitar 800 juta., dan 500 jutanya adalah pengguna aktif. Artinya mereka setiap harinya membuka akun Instagram mereka. Ini jumlah yang sangat besar, dan kesempatan yang luar biasa.

Lalu bagaimana memanfaatkan Instagram untuk kepentingan dakwah?.

Ada beberapa hal yang harus dilakukan dan diterapkan agar apa yang kita sampaikan melalui media social terutama Instagram dapat diterima oleh netizen. Sebenarnya saya tidak tahu tips ataupun data yang benar-benar akurat yang melalui penelitian. Hanya berdasarkan pengalaman saya menjadi admin di @beraniberhijrah.

1. Dari Hati
Saya masih percaya, apa yang dari hati akan sampai ke hati. Begitu juga dengan dakwah yang dari hati, maka ia akan sampai pada hati para followers. Dulu Berani Berhijrah sempat memakai tools untuk membantu posting , sehingga tidak perlu repot pegang handphone kemana-mana. Tapi ya itu, robot kan tidak punya hati. Jadi apa yang disampaikan tidak sampai pada hati mereka.

Saya selalu mengusahakan apapun yang saya posting baik di berani berhijrah ataupun di akub saya sendiri selalu dari hati. Meskipun tak pernah face to face dengan followers sebagaimana dakwahnya para “Kiai Kampung” , tapi jika dakwah yang kita sampaikan murni dari hati maka bukan hal yang mustahil itu bisa menembus jauhnya jarak dan masuk di hati para followers.

Memang, ini agak susah karena di media social kita dituntut untuk bergerak begitu cepat bahkan hanya hitungan detik. Lalu bagaimana bisa sampai dihati kalau hanya hitungan detik? Sering-sering diulang. BB sering memposting ulang materi-materi lama, namun dengan jarak yang tidak berdekatan. Dengan begitu apa yang kita sampaikan tidak hanya sampai dihati tapi juga melekat diingatan.

Sebagaimana tradisi lalaran dipesantren, mengulang-mengulang postingan bisa menjadi bentuk “lalaran digital” buat para followers.

2. Memanusiakan Followers
Followers bukan robot yang tidak punya hati. They just human being like us. Hanya saja mereka terpisah jarak yang amat jauh dengan kita. Ibaratnya orang LDR, media social menjadi tempat pertemuannya. Jadi, ketika ada banyak DM atau komen yang masuk usahakan untuk membalasnya. Meskipun tidak harus semuanya, karena waktu kita pasti terbatas dan nggak mungkin juga kan terus pegang gadget?

Baru-baru ini saya mendengar kabar kalau Instagram merubah alogaritmanya. Sehingga instagram tidak semenarik dulu, tidak seresponsif dan se-realtime dulu. Jadi usahakan segera membalas komentar dipostingan yang baru saja diposting. Secara teknis ini membantu akun kita tetap “hidup”, sedangkan dari segi manusianya ini pasti sangat membahagiakan bagi followers karena komennya dibalas atau DM-nya dibalas.

Lagi-lagi, perlakukan followers sebagaimana kita memperlakukan teman atau keluarga kita di rumah. Ya, meskipun kadang “Maha benar netizen/followers dengan segala komentarnya”.

3. Permainan Kata dan Visual
Instagram memang dikhususkan untuk gambar dan video. Kita nggak bisa posting tanpa ada gambar ataupun video. Secara teknis usahakan memposting materi dakwah yang simple, tapi mengena. Resolusi gambar juga harus besar agar tidak pecah, karena resolusi gambar yang bagus juga berpengaruh pada jumlah like di instagam kita.

Untuk membuat materi di berani berhijrah saya memakai ilmu “gatuk matuk” , baik pemilihan kata-kata ataupun gambar. Tapi dari pengalaman yang sudah-sudah desain yang sederhana jauh lebih diterima daripada gambar yang ribet dan njlimet.

Soal pemilihan kata. Karena saya menjalankan akun dakwah, saya lebih memilih mengadopsi gaya bahasa para “Kiai Kampung” yang memakai bahasa sehari-hari. Untuk pemilihan kata ini tergantung sense setiap individu. Karena setiap orang punya gaya bahasanya sendiri. Menjadi diri sendiri dan apa adanya juga akan lebih “diterima” daripada harus ndalil sana-sini.

Tapi kadang dalil memang perlu, hanya saja kalau itu diterapkan di media social apalagi isntagram kurang begitu cocok. Kenapa? Karakter Instagram itu haha hihi, dan banyak “fun” nya daripada seriusnya. Jadi kalau mau serius buatlah platfrom lain. (***).

________________

*Rubrik khusus “Dunia Santri Community” ini akan tayang selama bulan suci Ramadan. Semua artikel yang tayang dalam rubrik ini, merupakan tulisan para santri – santri pilihan yang kece dan inspiratif, yang berasal dari berbagai pesantren di Indonesia.

(Visited 1 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *