Ribuan Bonek dari Jawa dan Bali Hadiri HUT Bonek Banyuwangi ke-6

Reporter : Pendik

Editor : Titin Sukmawati

 

Banyuwangi, Kabarpas.com –
Dalam acara HUT Bonek Banyuwangi ke-6 di Kampung Duo, Desa Rejoagung, Kecamatan Srono, Banyuwangi. Ribuan Bonek dari Jawa dan Bali, padati kegitan yang digelar oleh Pendukung fanatik kesebelasan Persebaya 1927, yang bermarkas di kabupaten paling ujung timur pulau Jawa ini.

Meski demikian, penasehat Bonek Banyuwangi Jos Rudy mengatakan, sebenarnya peringatan HUT Bonek Banyuwangi ke-6 ini digelar di lapangan Tembokrejo, Kecamatan Muncar. Namun, tiba-tiba pada H-1 ijin kegitan ini dicabut oleh polsek setempat, dengan alasan kegitan Bonek Banyuwangi akan berdampak pada kondusifitas wilayah.

“Ribuan bonek yang hadir saat ini pun, sangat kecewa dengan tindakan pencabutan ijin oleh Polsek Muncar setempat. Padahal Bonek Banyuwangi selalu mewanti-wanti angotanya yang berjumlah lebih dari dua ribu untuk selalu tertib dan santun ketika mengikuti kegiatan maupun tour ke mana pun untuk mendukung Persebaya 1927,” tegas Jos Rudy kepada Kabarpas.com biro Banyuwangi, Minggu (29/04/2018).

Jos Rudy menambahkan, dengan terselenggaranya kegitan HUT Bonek ke-6 di kampung duo secara kondusif ini, membuktikan bahwasanya Bonek tidaklah seperti apa yang dimengerti masyarakat.

“Jadi sebenarnya Bonek itu tidak arogan, suka tawuran, maupu bikin keributan. Namun bonek itu cinta damai. Dan kita dapat buktikan di acara ini bahwasanya bonek dapat di terima masyarakat Banyuwangi, Jawa Timur, Indonesia, Bahkan International,” jelas Jos Rudy pria yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Pembina Partai Berkarya Kabupaten Banyuwangi.

Sementara itu Cak Arif selaku ketua Panitia acara ini mengatakan, dengan hadirnya ribuan bonek dari Jawa Timur seperti Bonek Surabaya, Pasuruan, Jember, Bondowoso, Situbondo, dan Bali. Pihaknya  menyampaikan banyak terima kasih kepada dulur dulur Bonek.

“Semoga kedepan Bonek Banyuwangi dan Laros Jenggirat terus kompak dan solid untuk bersama-sama mengawal Persebaya 1927 dan Persewangi 1970,” pungkasnya. (pen/tin).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *