UNBK, Ujian Nasional Berbasis Kelimpungan

Penulis : Abdur Rozaq, Kader PMII Pasuruan

 

(KABARPAS.COM) – Pemerintah memang sangat tinggi tingkat baik sangkanya terhadap rakyat. Mereka tak pernah meremehkan kemampuan rakyat untuk bertahan hidup. Makanya enjoy saja menaikkan harga BBM, sembako, tarif listrik bahkan harga garam dan micin, sementara gaji pegawai dan kuli tetap sebesar itu entah sampai kapan.

Contohnya lagi, pemerintah masih sangat yakin jika anak-anak sekolah di negeri ini secerdas pelajar Jepang atau Amerika. Meski guru swasta yang mengajar tak bisa optimal karena harus makelaran dan tak lagi cerdas karena kurang gizi bahkan menderita busung lapar, dan sel otak murid error oleh pil koplo, pemerintah masih berbaik sangka.

​Beberapa waktu lalu, pemerintah memaksa semua sekolah dari Sabang sampai Merauke, baik yang hendak roboh maupun baru dibangun dengan dana  Bank Dunia, baik yang gurunya dibayar pemerintah atau dibayar pahala, baik yang gurunya dipekerja rodikan atau mengajar seraya menekuni pekerjaan sampingan, baik yang punya laboratorium komputer maupun yang hanya punya seperangkat saja, tahun ini diwajibkan melaksanakan Ujian Nasional online.

​Cak Murtado, salah satu pelanggan warung Cak Suep yang kebetulan nyambi menjadi guru swasta, pernah interupsi kepada Kepala Dinas Mempersulit Sekolah Swasta, sebuah dinas yang tugas utamanya adalah maiduh, menakut-nakuti, memotong dana sekolah serta menunda-nunda pencairan berbagai dana pendidikan.

​“Pak, kenapa sih, kok Ujian Nasional pakai online segala?” ujarnya, ceplas-ceplos. Cak Murtado memang tak pernah bersikap hati-hati terhadap para pejabat Dinas Mempersulit Sekolah Swasta. Toh, dipecat atau tidak, kurang ada faedahnya bagi kelangsungan hidup Cak Murtado.

​“Ini sudah era komputerisasi, pak. Wong orang tombok togel saja via online, masa ujian ndak? Ndak keren nanti,” jawab kepala Dinas Mempersulit Sekolah Swasta.
​“Tapi, pak. Kami sekolah swasta, jangankan lab komputer, wong laptop inventaris sekolah saja hanya ada sebiji.”
​“Lho, dana BOS dibuat belanja apa, pak?” heran kepala Dinas.
​“Tidak tahu, pak,” jawab Cak Murtado garuk-garuk kepala.
​“Lho, kok tidak tahu, seharusnya kan dikelola secara transparan?” kejar Kepala Dinas.
​“Ya ndak tahu, pak. Kami para guru swasta, mana berani bertanya ini-itu kepada pimpinan. Kami para pejuang, tidak patut mempertanyakan masalah bilangan materi, takut keikhlasan kami rusak,” jelas Cak Murtado polos.
​“Wah, perlu diaudit ini.”
​“Jangan, pak. Nanti saya yang dituduh melapor sama bapak.” Cak Murtado pucat seketika.
​“Pak, tolong lah, untuk sekolah swasta seperti kami diizinkan untuk melaksanakan ujian nasional secara manual saja,” Cak Murtado merengek saat itu.
​“Ya ndak bisa. Kami ndak bisa makelaran pengadaan sarana ujian nasional nanti.”
​Maka sejak saat itu, Cak Murtado yang diberi tugas untuk mengkondisikan berbagai hal demi suksesnya ujian nasional tahun ini, hampir saja kumat penyakit jiwanya sehingga harus sering kontrol ke RSJ.

​Bagaimana tidak, wong di sela-sela kesibukannya bekerja sampingan, Cak Murtado harus kesana-kemari mencari laptop pinjaman. Ia juga harus mencari server paling murah, karena server jaringan internet yang dijual Dinas Mempersulit Sekolah Swasta sudah dimakelari, sehingga harganya bisa 700 kali lipat. Sedangkan sang bos, menekan bagaimana caranya Cak Murtado bisa mencari server seharga tempe penyet atau pecel lele.

​Setelah server didapat, baru dipasang sudah rusak terkena virus. Sembuh dari virus, kabel penyambung client tiba-tiba error entah kenapa. Mungkin setelah dipasang, anak-anak jin bermain di “laboratorium komputer” itu. Kabel penyambung client lumayan lancar, saatnya simulasi atau anak-anak dipersilahkan pura-pura mengerjakan ujian.

Apes, jaringan internet membuat umur cepat habis karena untuk loading saja membutuhkan waktu dua hari dua malam. Kenapa? Karena ternyata yang berwenang atau pengelola dana hanya memasang wi-fi dengan paket promo.

​Apalagi, anak-anak sekolah yang setiap detik tak pernah berpisah dengan anderoit itu, ternyata masih gagap memengang mouse laptop pinjaman. Tak semudah main game di anderoit, aplikasi ujian ternyata begitu rumit. Belum lagi memikirkan mana pilihan soal yang mesti diklik, anak-anak sudah nampak sakaw menghadapi test ujian usulan pak Menteri yang tidak pernah jadi guru swasta itu.

​Pusing memikirkan nasib anak-anak yang tetap cengengesan dan masih rajin balapan liar meski ujian sudah mepet, apalagi Yang Berwenang selalu memantau kerjanya namun tak pernah memantau kesejahteraannya, Cak Murtado kejang-kejang di kantor. Untuk beberapa hari, Cak Murtado harus check in di RSJ Lawang dalam rangka memulihkan kewarasan jiwanya. (***).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *