Eksistensi Suara Tuhan

Oleh: Ahmad Umar Fathoni

Kawan…
Hampir tiba lagi suara kita dijadikan suara Tuhan
Bahkan suara itu mutlak katanya
Di sana – sini sibuk berkoar-koar
Menghalalkan segala cara demi suara Tuhan
Firman Tuhan dibuat mengunpulkan suara Tuhan
Sabda Nabi dan salafussholih menjadi langganan
Uangpun diturut sertakan demi meraih suara Tuhan
Padahal sejak krisis uang sudah di-Tuhankan
Sungguh hebat suara Tuhan
Seakan kuasa merubah taqdir bisingnya percaturan suara Tuhan

Kawan…
Masih ingatkah kita beberapa tahun silam ?
Pesta demokrasi yang tak lagi murni
Tuhanmu kau jual dengan suara Tuhan
Tuhanmu kau tukar dengan recehan puluhan, ratusan hingga jutaan
Tuhanmu kau dermakan dengan aqli dan naqli
Bahkan Tuhanmu kau jadikan hantu

Berkat suara Tuhan, mereka menjelma duduk di kursi parlemen dan berdasi
Berkolaborasi dan berdiskusi
Menyatukan aksi berkoalisi untuk berkonspirasi

Kawan…
Tak terasa kita semakin culun dan lucu
Ber-Tuhankan Tuhan dari suara Tuhan kita
Fakta dan kesimpulan ilmiah sampai kepada khalayak

Selama puluhan tahun, muncul pula gambaran Tuhan lain yang diwujudkan dalam wajah kebaikan
Hingga sekarang kita anggap yang mengatur kapan manusia memperoleh beberapa recehan, ribuan, ratusan hingga jutaan
Lalu kita katakan inilah ”rizqi’

Lalu di mana eksistensi Tuhan sebenarnya…?
Yang dari suara Tuhan dipungut

Kawan…
Tentu kita sebagai manusia bijak, jawaban yang ditanam dipaksa untuk diyakini
Jawaban yang berada dalam ruang yang tidak dapat kita sentuh
Karena tidak dapat kita buktikan
Itulah ruang ‘doktrin’ dan ‘dogma’…
Segelintir orang dengan hak otoritatif memutuskan kesimpulan yang harus kita yakini, inilah Tuhan yang benar

Kawan…
Ternyata kita sangat lemah dan mudah putus asa
Satu bukti, kita tidak pernah mengingat peristiwa kemarin
Kemana suara kita yang dijadikan suara Tuhan kemarin ?
Apalagi adakah dari kita yang mampu mengingat peristiwa ketika kita masih di alam lahmi ibunya ?

Kawan…
Kita sering mati-matian membela dengan pikiran, tenaga, harta bahkan jiwa
Demi untuk pemujaan ‘Idol’…
Katanya loyalitas…
Dimana ia merasa seolah-olah dihargai dan eksis,
Lantas apa kita yakin Tuhan terlibat dalam aktifitas ini ?
Mengapa kita menjadi begitu ‘kekanakan’ menyatakan bahwa Tuhan yang memberi recehan uang yang kita sebut rizki

Kawan….
Manakah yang kita yakini…?
Manakah suara Tuhan…?
Atau Tuhan suara Tuhan…?

Bangkalan 10/02/18
By Abina (Yai Amax)…

 

__________________________________

*Setiap Minggu Kabarpas.com memuat rubrik khusus “Nyastra”. Bagi Anda yang memiliki karya sastra, baik berupa cerita bersambung (cerbung), cerpen maupun puisi. Bisa dikirim langsung ke email kami: redaksikabarpas@gmail.com.

(Visited 12 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *