Balada Viral Wong Edan

Oleh : Abdur Rozaq, Jurnalis Kabarpas dan Kader PMII Pasuruan Raya

 

(KABARPAS.COM) – MENJELANG musim pemilu begini, memang sudah biasa ada isu dan teror. Makanya, tak heran jika sejak beberapa minggu terahir, beredar isu penyerangan para ulama oleh oknum orang gila. Dan beberapa hari terahir, konon sudah terjadi di kota Wak Takrip.
Para pelanggan warung Cak Suep sampai eyel-eyelan soal teror itu.

Ini isu, apa benar-benar terjadi? Yang paling ngeyel adalah Cak Hamim dan Mas Sugeng. Cak Murtado dan Cak Kape sampai kewalahan meredam kedua penganut idealisme sumbu pendek yang gampang ngamuk tak jelas itu.

“Kalau memang isu, kenapa media lokal sudah memberitakan?” ujar Cak Hamim tak mau kalah.
“Sampeyan baca berita lanjutannya?”
“Ndak.”
“Lha ini apa,” Cak Murtado menepuk jidat.
“Saya sudah konfirmasi sama teman-teman, itu hanya salah paham, Mas Sugeng. Orang gila yang kemarin diamankan itu memang sedang dalam perawatan. Memang orang ndak jangkep yang kepingin sowan sama guru ngajinya,” jelas Cak Kape.
“Tapi di media sosial sudah viral. Bukan hanya di sini….” Cak Hamim ingin membela Mas Sugeng, tapi belum selesai bicara sudah ditertawakan sama Cak Murtado.
“Wkkkk, media sosial kok dipercaya. Media sosial itu sarang pitenah, mas. Tak jarang berita dipelintir, diedit, video lama diunggah kembali dikait-kaitkan dengan isu, bahkan video atau foto palsu diberi penjelasan provokatif sering kita temui,” Cak Murtado kemudian kembali ngakak.
“Sampeyan ndak percaya kalau komunis bangkit lagi?” tanya Cak Hamim berapi-api.
“Ndak.” Jawab Cak Murtado singkat.
“Apa menunggu para kiai diculik seperti tahun 65, ya?” timpal Mas Sugeng.
“Ini tahun politik, mas.
“Lha apa hubungannya dengan kebangkitan komunis?” Mas Sugeng masih ngeyel.
“Ya bisa siapa saja yang mengirim “orang” gila itu untuk mencelakai para kiai. Dan sekali lagi, ini masih isu. Simpang siur pula.”
“Lha di internet kemarin ada beritanya, di media sosial ramai, semua orang mulai panik,”

“Ya yang posting itu yang perlu dipaiduh. Wong kabar belum diindentifikasi secara mendalam kok sudah viralkan. Bikin masyarakat makin resah saja. Saya sudah tanya sama Gus Hasyim, katanya hanya orang ndak jangkep yang sedang sambang guru ngajinya.” Cak Murtado mulai terpancing untuk ikut ngeyel.
“Apa benar, Gus Hasyim?” tanya Mas Sugeng seraya menoleh ke arah Gus Hasyim yang sejak tadi hanya mesam-mesem penuh arti.
“Ya benar. Hanya orang kurang jangkep, kok,” jawab Gus Hasyim kalem.
“Makanya…” sambung Gus Hasyim seraya menyeruput kopinya.

“Kita ini harus cerdas menyaring berita. Harus cerdas menganalisa isu, harus selektif memilih sumber berita agar tak selalu kagetan. Dan benar kata Cak Murtado tadi, ini menjelang tahun politik, jadi siapa saja bisa memanfaatkan moment untuk memenangkan pemilu. Isu penyerangan para kiai ini memang pernah terjadi di beberapa daerah. Tapi tidak berarti kita harus menambah kepanikan dengan berita yang ditayangkan dengan terburu-buru. Apalagi, seperti pendapat Cak Murtado, ini bisa saja ada orang yang mau menempeleng kita, tapi meminjam tangan orang lain.

Kalau memang komunis benar-benar bangkit, kenapa malah gencar saat ini, menjelang pemilu begini? Jangan-jangan ini hanya trik partai politik tertentu yang melakukan sabotase dan mengkambing hitamkan golongan lain yang tidak sepandangan?” Cak Murtado dan Cak Kape hanya mesam-mesem mendengar penjelasan Gus Hasyim.

“Bagaimana kalau ini benar-benar terjadi?” kejar Mas Hamim seraya mengunyah kodo telo hangat.
“Saya yakin takkan terjadi. Andai benar pun, mereka takkan terang-terangan begitu. Ulo marani gepuk namanya. Pesantren itu kuat lho ya, orang-orang sakti pun masih banyak yang berembunyi di sana.

Dan mereka, andai memang masih ada, takkan gegabah mengambil langkah politis ulo marani gepuk begitu. Yang perlu diwaspadai itu bukan komunisme, malah media, oknum, netizen serta golongan gagal paham yang asal eksis di dunia maya,” Mas Sugeng mingkem mendengar penjelasan Gus Hasyim.

“Sudah lah, ayo ngopi saja. Setelah itu nyambut gawe,” saran Gus Hasyim.

“Bagaimana kalau isu itu benar ada dan yang menyerang sampeyan ketika mau ngimami di masjid?” Mas Hamim masih belum berhenti.
“Makanya yang rajin ikut jamaah di masjid. Jadi kalau ada orang mau macam-macam, kita tempeleng ramai-ramai,” celetuk Wak Takrip yang sejak tadi hanya diam menyimak di lincak sebelah. (***).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *