Hoax dan Gagal Paham

118 views

Penulis : Abdur Rozaq, Jurnalis Kabarpas dan Kader PMII Pasuruan

 

KABARPAS.COM – BARU mau duduk di lincak warung Cak Suep, Cak Murtado langsung disemprot sama Mas Sugeng.

“Mas, sampeyan sing genah kalau nulis berita!” kata Mas Sugeng sampai ludahnya muncrat ke kopi Gus Hasyim.
“Berita yang mana?” jawab Cak Murtado celingukan.
“Ya berita sampeyan yang hoax itu. Masa bikin masyarakat resah begitu,” Cak Murtado langsung mesam-mesem penuh arti kepada semua penghuni warung.

“Rif, tolong jelaskan,” ujar Cak Murtado. Malah meminta Arif menjelaskan duduk permaslahannya.
“Gak, lapo melu-melu,” Arif kemudian melet. Pasti ia wegah eyel-eyelan sama Mas Sugeng. Semua orang tahu Mas Sugeng suka ngotot kalau ngomong. Salah benar nomor pitu likur, yang penting metenteng dulu.

“Sampeyan sudah baca berita saya?” Cak Murtado malah balik tanya sama Mas Sugeng.
“Ndak. Tapi kan sudah viral itu. Cak Suep juga tahu kalau sampeyan menulis berita hoax.”
“Sampeyan baca berita saya, Cak Suep?” kejar Cak Murtado sama Cak Suep.
“Ndak, cak. Wong saya ndak punya anderoit. Kemarin Cak Salam cerita sama saya kalau sampeyan menulis berita hoax.” Cak Firman malah ngakak.

“Mangkane talah, kalau belum jelas jangan murang-muring dulu. Ndak ilok,”
“Lha judul berita sampeyan memang adu-adu,” semprot Mas Sugeng, pegawai negara yang suka menjadi tim sukses itu.
“Yang namanya judul, ya mesti sedikit provokatif, mas. Itu trik biar dibaca orang,” jelas Cak Murtado.
“Lha fotonya itu, dari mana?”
“Itu ilustrasi, karena saya menulis berita malam hari dan tidak mungkin mendapatkan foto karena anderoit saya jelek. Sedangkan, saya dituntut untuk meredakan isu yang sudah terlanjur simpang siur.”

“Begini saja, Cak Firman. Sampeyan buka web koran sampeyan itu. Kita baca bareng-bareng sekarang,” usul Gus Hasyim.

Cak Murtado langsung menjalankan ide cerdas Gus Hasyim. Dibukanya anderoit jadul zaman Jepang itu. Tulisan diperbesar, sehingga semua orang yang menegrubung meja warung bisa melihat dengan jelas. Gus Hasyim sendiri yang membaca berita dengan gaya guru SD menerangkan pelajaran. Beberapa kata sengaja diulang-ulang sama Gus Hasyim biar semua orang paham. Terutama Mas Sugeng yang bertahun-tahun gak omes sama Cak Murtado gara-gara ditegur saat ngentit uang karang taruna.

“Sudah jelas, kan? Jadi, Cak Murtado ini korban. Dia menulis berita dalam rangka meredam isu, malah dituduh menebarkan isu,” jelas Gus Hasyim.

Cak Murtado hanya mesam-mesem ala Wak Takrip menang tombok togel.

“Kita semua kan tahu kalau isu itu sudah beredar seperti pesona rondo? Cak Murtado ini bermaksud meluruskan isu, malah dituduh membuat isu. Padahal isu sudah menyebar sebelum Cak Murtado menulis berita,” sambung Gus Hasyim.

Sementara Cak Murtado malah asyik chatting sama rondo yang kemarin salah sambung di anderoitnya.

“Makanya, paketan itu diisi, biar kita bisa update.” Sindir Arif entah kepada siapa.
“Kalau sudah ada paketan datanya, buka web. Baca beritanya seraya minum kopi. Kalau masih gagal paham, tanya sama sumber yang bertanggung jawab. Lha kita kan, lihat berita hanya judulnya saja. Belum dibaca sudah komentar.” Arif ngomel seraya melirik Mas Sugeng yang mulai mati kutu.

“Sebagai umat netizen, kita harus cerdas menilai berita. Jangan bilang hak-hok, padahal kita sendiri yang gagal paham.” Arif ketap-ketip sama Cak Murtado.

“Apalagi kalau masih jarene alias katanya, daripada komentar macam-macam dan ngerasani, sumbutan ngeramal togel. Sama-sama dosa, kalau dapat lumayan bisa buat ngopi di warung.

“Ini sudah zaman hukum, kalau berita yang sudah akurat, medianya kompeten, data digali dan sumber berita diwawancarai, bisa-bisa kita sendiri yang silaturrahmi sama pak polisi,”
“Memangnya siapa ya yang bilang berita Cak Murtado hoax pertama kali?” gumam Cak Suep.
“Mungkin salah satu mantan Cak Murtado yang kecewa,” celetuk Arif.

_______________________________

*Ditulis untuk memperingati Hari Pers Nasional (HPN) 2018.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *