Demokrasi Bumbung Kosong

149 views

Demokrasi Bumbung Kosong

Oleh : Abdur Rozaq

 

KABARPAS.COM – SAH sudah salah satu pasangan Calon Bupati dan Calon Wakil Bupati di tempat kelahiran Cak Sueb mendaftar sebagai peserta pilkada. Sudah njenang abang, sudah dislameti, diistighatsahi, dan tentu saja sudah mendapat restu para pengurus partai pendukung.

Tapi, meski sudah begitu, calon lain masih belum jelas. Bahkan konon, salah satu calon pasangan yang kemarin malu-malu mau ikut bertanding di ring pilkada, ternyata ndak jadi maju karena menurut hasil istikharah kurang mapan.

Masyarakat sedikit kecewa karena pasangan calon lain belum juga muncul. Ini tidak semata masalah demokrasi, namun yang paling penting adalah pekerjaan musiman sebagai tim sukses. Kan lumayan bagi para pengangguran terselubung seperti Arif, apalagi bagi Cak Murtado yang bekerja di PT. Masa Depan Suram alias guru swasta? Ngalor-ngidul menjadi tim sukses, juru kampanye di warung-warung kopi atau setidaknya sebagai tukang tempel stiker, penghasilannya lumayan bisa buat bayar listrik atau beli paketan internet.

Tapi bagi Cak Jupri, ini adalah pekewuh demokrasi. “Ibarat mau menikah, kalau banyak pilihannya kan enak? Tinggal pilih secara kasat mata, kalau kurang sreg masih bisa diistikharahi,” ucapnya di warung Cak Sueb.

“Tapi kalau terlalu banyak calon juga bisa bikin bingung mau pilih yang mana,” timpal Cak Suep ikut nimbrung.

“Ya malah enak, cak. Sowan calon A, dapat baju takwo bordiran. Sowan calon B, dapat kalender. Sowan calon C, bisa minta proyek nempel stiker, sowan calon D bisa deal-dealan NIP,” Cak Murtado malah nyaut.

“Lho, kita kok masih buta politik sih, cak? Masa berabad-abad dibohongi orang nyalon kok ndak niteni juga? Kok ya masih pragmatis alias kepentingan sesaat saja tujuan kita?” Cak Jupri ngamuk.

“Lha bagaimana lagi, wong kita pilih siapa saja ya sama?” Cak Murtado balas ngamuk.

Wis, ndak usah maiduh yang nyalon. Orang nyalon, ya pasti mempromosikan dirinya sendiri. Mana ada kecap nomor dua? Kalau ada pemimpin kurang genah, ya salah yang milih. Kenapa ndak chek and recheck dulu, atau kalau mentok, istikharah?” Cak Kape melerai.

“Lha istikharah kan kewenangan para ustadz, kiai atau gus, bagaimana kalau ustdaznya juga tim sukses?” bantah Cak Jupri.

“Ya berarti dukungan itu sudah hasil istikharah,” ujar Cak Kape membela pendapatnya.

“Kalau memang benar hasil istikharah, kenapa kok kadang ada yang mbleset? Hanya amanah kepada golongan rakyat tertentu, terutama yang dulu menjadi basis masanya?” Cak Jupri masih menjawab.

“Itu oknum, cak. Ya, namanya juga manusia,” ucap Cak Kape

“Harusnya, kita ini bagi-bagi tugas. Para Begawan, pandito, resi tugasnya berdoa untuk kemaslahatan rakyat. Sebab kalau para Begawan sudah terjun lansung ke gelanggang politik, yang menjaga gawang sejarah siapa? Yang mbahu rekso moral siapa? Yang membendung serbuan peradaban siapa? Apalagi, politik itu keji lho, bisa belepotan nanti,” ada benarnya pendapat Cak Jupri. Tapi, Cak Kape juga punya logika yang jitu.

Kanjeng Nabi juga politisi, lho, cak. Sahabat Nabi, Abu Bakar Siddiq sampai Sayyidina Ali bin Abi Thalib juga presiden. Sunan Kudus panglima, dan Sunan Kalijaga penasehat politik Mataram. Gimana, hayo?” tandas Cak Kape yang dikenal bijak dan cerdas.

“Ya ndak masalah kalau bisa arif seperti Mbah Sunan. Lha kalau ndak, apa kita ndak disoraki sama kaum abangan atau saudara-saudara bola ireng?” Cak Jupri masih berapi-api.

“Lha kalau orang baik ndak boleh nyalon, apa kita biarkan para preman tulen saja yang nyalon, biar amburadul sekalian?” Cak Murtado malah ikut-ikut.

“Waaah, ngawur!!!!”tutup Cak Kape sambil marah. (***).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *