Selamat Datang Banjir

Penulis : Abdur Rozaq
KABARPAS.COM – MUSIM hujan, selain membawa rahmat karena hutan-hutan gundul daerah Kronto, Banyubiru dan Lumbang akan ditumbuhi suket gajah yang menggembirakan para peternak, ternyata bikin ketar-ketir warga Kraton, Blandongan, Rejoso, Ngopak dan sekitarnya. Pasalnya, banjir akan membuat mereka mewek dan bersedih.
Setiap tahun banjir semakin membahayakan karena di kaki gunung sana hutan sudah musnah dimangsa Yakjuj-Makju lokal. Gunung digali oleh rayap-rayap pembangunan, batu digali, akar dicerabut, pasir dimuati truk sehingga ular bisa rekreasi ke kota karena goa-goa dan rerimbunan sudah tinggal riwayat.
Sementara itu, di desa dan di kota orang membuang popok bayi, sampah, kasur rusak, botol air mineral, bangkai ayam hingga kondom bekas ke sungai. Sungai mampet.
Di pemukiman yang padat penduduk, air hujan tidak bisa merembes ke dalam tanah karena setiap jengkal dipaving dari dana utangan Bank Dunia dan IMF. Jangankan air hujan, kucing berak pun kesulitan mencari tanah gembur.
Pepohonan di pekarangan ditebangi karena setiap jengkal tanah ditanami rumah, rakyat makin banyak, beranak-pinak dengan cepat. Para kapitalis desa mengebor sumur artesis untuk jualan air bersih semacam PDAM swasta. Jalan-jalan aspal membujur tinggi sehingga air hujan tak bisa segera mengalir ke laut.
Di sisi lain, terselip kabar bahwa salju kutub terus mencair menyebabkan air laut makin tinggi. Maka ketika air pasang bersamaan hujan mngguyur deras di kaki gunung, desa-desa dan kota menjadi wahana wisata air bagi kecebong, jentik nyamuk Aides Aigepty, orong-orong, tikus curut dan ular sawah.
            “Salah siapa ini?” gumam Cak Suep yang ketar-ketir karena warung gedeknya diterjang banjir.
            Tak hanya air, banjir seringkali berulah membawa endapan lumpur tanah logsor. Jika sudah begitu, ia akan menenggelamkan sawah Wak Takrip, menjebol tambak Cak Dullah, menerjang warung Cak Suep, menenggelamkan lapak cukur rambut Cak Murtado, membikin macet becak motor Cak Soleh dan ribuan orang akan merayakan hari libur regional dalam rangka menghormati banjir. Ayam, mentok, gelang, kalung bahkan BPKB akan melayang jika banjir tak lekas surut, sementara kompor LPG harus tetap dinyalakan. Mie rebus dan kopi mesti tetap disuguhkan menemani rakyat danmisuh-misuh dalam hati karena Yakjuj –Makjulah penyebab semua ini.
            Belum lagi puting beliung yang bisa saja tiba-tiba datang untuk memberi kabar baik kepada para tukang bangunan, banyak job merenovasi genting rumah rakyat yang beterbangan. Dinas perlistrikan akan semakin rajin memadamkan aliran listrik sehingga ibu-ibu yang lelah menguras banjirlumpur tak bisa menonton film India, sementara anak-anak snewen karena tak bisa men-charge HP. Mandi dan mencuci harus hemat air karena pompa air mati sementara sumur-sumur telah lama ditimbuni sampah.
            Tukang servis motor bisa sedikit sumringah karena banyak motor mogok akibat karburator dan knalpot terendam air banjir. Namun di balik itu, polindes akan sedikit ramai karena banyak rakyat menderita lecet akibat terjatuh di aspal yang licin dan tertutup air. Muntaber dan demam berdarah membuat bos BPJS lembur dan para pembantu akan bekerja ekstra menguras lumpur di rumah majikannya. Dasar Yakjuj Makjuj, gunung dan hutan dilahap, sementara saat banjir datang, mereka menginap di villa sambil sing-song bersama purel. (***).  
(Visited 3 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *