Ratusan Guru di Probolinggo Antusias Ikuti Workshop K-13

Reporter : Dimaz Zidan

Editor: Agus Hartanto

___________________________________

Probolinggo (Kabarpas.com) – Sebanyak 206 orang guru kelas II dan V SD dari 97 lembaga dan kelas paralel di Kabupaten Probolinggo, antusias mengikuti workshop authentic assessment Kurikulum 2013 (Kurtilas) dari Dinas Pendidikan (Dispendik) Kabupaten Probolinggo, yang bekerja sama dengan Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Probolinggo. Acara ini berlangsung di SMP Hati Billingual Boarding School (BBS) Kraksaan.

Selama kegiatan para guru ini akan dibimbing dan diarahkan oleh 12 instruktur yang sudah mengikuti pelatihan implementasi Kurtilas. Selanjutnya para guru kelas II dan V ini dibagi dalam 6 (enam) ruang kelas.

Kasi Kurikulum dan Penilaian SD Dispendik Kabupaten Probolinggo Nurohma Afrianti mengungkapkan, kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman bagi guru kelas II dan V terkait dengan perubahan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dengan Kurikulum 2013.

“Harapannya ke depan seluruh lembaga, khususnya untuk satuan pendidikan dasar bisa menerapkan Kurikulum 2013. Karena saat ini yang sudah melaksanakan Kurtilas untuk kelas I dan V mencapai 274 lembaga. Sedangkan yang akan melaksanakan kelas II dan V mencapai 97. Sehingga totalnya baru 371 lembaga dari 590 lembaga yang sudah menerapkan Kurtilas,” terangnya kepada Kabarpas.com biro Probolinggo.

Sementara itu, Kepala Bidang Pembinaan SD Dispendik Kabupaten Probolinggo Fathur Rosi mengatakan bahwa selama ini mengapa selalu muncul sebuah pandangan setiap ganti menteri kecenderungan ganti kebijakan. Padahal sebenarnya tidak, karena sejatinya tidak ada perbedaan yang frontal antara KTSP dengan Kurtilas.

“Kurikulum 2013 dibutuhkan kreativitas. Penilaian yang asli adanya di Kurikulum 2013. Ini merupakan ending dari sebuah proses pembelajaran. Diawali oleh pendekatan dan diakhiri dengan penilaian,” katanya.

Menurut Rosi, Kurtilas ini penting karena secara filosofi pendidikan pembelajaran dan penilaian ada perbedaan yang mendasar. Di abad 21 ada sebuah tuntutan bahwa pendidikan harus mengarah agar berfikir kritis, ketrampilan berkomunikasi, kerja sama dan penilaian autentik.

“Kurikulum 2013 menjadi kurikulum yang penting dan sejatinya harus menjadi pembeda dari sebelumnya. Oleh karena itu kami berharap agar guru kelas II dan V bisa mengikuti kegiatan ini dengan baik dan diimplementasikan di sekolahnya masing-masing,” jelasnya.

Rosi menegaskan bahwa para guru ini merupakan ujung tombak yang memberikan pembelajaran pendidikan di Kabupaten Probolinggo. Terlebih pendidikan ini menjadi salah satu indikator penilaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Probolinggo.

“Mari bersama-sama memajukan pendidikan di Kabupaten Probolinggo. Karena pada prinsipnya para guru ini memberikan pelayanan pendidikan kepada masyarakat,” pungkasnya. (zid/gus).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *