Membedah Langit (1)

Pasuruan (Kabarpas.com) – Gemuruh suara hujan disertai petir yang menggelegar, membuat ruang hati seakan tak terisi sisa-sisa kebahagiaan. Suara tangis orang-orang membangunkan aku dalam tidur. Aku pun terbangun dengan mendorong-dorong perut ibu. Tapi lain halnya yang dirasakan orang-orang di luar sana. Aku tak mengerti apa yang sedang terjadi di sana. Karena aku tak bisa melihat langsung dari dalam tempatku berada. Rupanya seperti ada musibah yang sedang menimpa, entah itu dari keluargaku, sanak saudara, atau tetangga. Yang ku dengar hanya suara gaduh tangisan.

Suatu saat aku mendengar ibu sedang mengaji bersama banyak orang. Ahh… ada apa sih sebenarnya aku jadi penasaran. Aku merasakan elusan tangan ibu dari dalam, meski aku tak bisa memegang tangannya langsung tapi aku yakin ibu sangat menyayangiku.

Beberapa bulan kemudian akupun bisa menghirup segarnya udara di bumi yang indah ini. Suara tangis bahagia terdengar saat proses kelahiranku. Ada ibu, nenek, paman, bibi dan anaknya juga kakak laki-laki. Satu orang yang belum aku lihat yaitu bapak,,,, ya… di manakah beliau? Aku dari tadi tidak melihatnya. Apakah bapak tidak mengetahui bahwa aku telah lahir, atau bapak sedang sibuk bekerja sehingga tidak dapat meninggalkan pekerjaannya. Ahh… entahlah nanti aku tanyakan saja pada ibu setelah tumbuh besar.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun hingga usia ku menginjak usia sekolah tapi tak pernah sedikitpun aku tahu wajah gagah bapakku. Setiap aku tanya pada ibu, beliau langsung menitihkan air mata dan hanya menjawab bapak sedang pergi naik haji. Tapi kalau naik haji kok sampai bertahun-tahun tidak pernah pulang sebentar saja untuk menjenguk istri dan anak-anaknya. Aku semakin tidak mengerti akan sandiwara ini.

“Rose….Rose….  ke sini, ayo main….” suara kak Rio berteriak memanggil aku.

Akupun secepat kilat mendatangi kak Rio.

“kak Rio main apa?”

“ayo main kelereng”

Sebenarnya aku tidak begitu bisa bermain dengan kelereng karena sudah pasti kalah dengan kak Rio. Beberapa saat kemudian terdengar suara adzan Ashar dari masjid yang besar di pinggir jalan raya. Aku dan kak Rio bergegas pulang ke rumah untuk mandi. Ibu dan nenek sudah dari tadi menunggu kami di rumah. Selesai mandi aku dan kak Rio shalat berjamaah bersama ibu dan nenek.

Setiap hari aku berangkat sekolah bersama kak Rio. Aku duduk di bangku Taman Kanak-Kanak dan kak Rio sudah kelas 5 Sekolah Dasar. Kami berangkat sekolah dengan berjalan kaki karena sepeda sudah di pakai ibu untuk berjualan kue ke pasar. Ibu berangkat ke pasar lebih pagi sebelum aku dan kak Rio berangkat sekolah. Dalam perjalanan menuju sekolah aku sempat berbincang-bincang pada kak Rio.

“kak, bapak dimana sih, kok aku tidak pernah bertemu dengan bapak. Seperti teman-teman ku yang lain sering diantar ke sekolah oleh bapak atau ibunya…” tanya ku penasaran.

“bapak sudah meninggal, Rose” jawab kak Rio

“meninggal sampai kapan?” tanyaku lebih ingin tahu

“ya, selamanya…”

“ maksudnya, bapak tidak pernah pulang untuk jenguk kita”

“ya, tidaklah. Bapak sudah tenang di sana bersama Allah”

“terus, aku tidak bisa bertemu dengan bapak dong….” ucapku kecewa berat

“ nanti kita bertemu bapak di surga”

“kapan kak, kita bisa bertemu bapak di surga?”

“Ahhh.. kamu ini tanya macam-macam. Sudah jalan aja jangan tanya lagi”

Wajahku langsung cemberut karena kak Rio tidak menjawab pertanyaan ku sampai selesai.

(Penulis: Ika Auza Riati).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *